Home / Berita / Internasional / Asia / Gara-gara Bikin Kopi untuk Hamas, Nelayan Gaza Diciduk Israel

Gara-gara Bikin Kopi untuk Hamas, Nelayan Gaza Diciduk Israel

Nelayan Gaza beraktivitas di pelabuhan di Gaza City. (Antara/ROL)
Nelayan Gaza beraktivitas di pelabuhan di Gaza City. (Antara/ROL)

dakwatuna.comTak lama setelah Israel dan Hamas menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 21 November, angkatan laut Israel menculik 30 nelayan Palestina dari perairan Gaza. Mereka juga menghancurkan dan menenggelamkan sebuah kapal nelayan serta menyita sembilan kapal nelayan.

Dikutip dari Electronic Intifada, Pusat HAM Palestina (PCHR) melaporkan, 14 nelayan Palestina yang melaut hanya tiga mil laut dari perairan Gaza ditangkap pada 1 Desember lalu. Beberapa nelayan bahkan hanya melaut sejauh dua mil laut ketika Israel menyerang dan menangkap mereka. Berkisar antara usia 14-52 tahun, para nelayan ini berasal dari keluarga-keluarga miskin di Gaza.

Menurut perwakilan dari Sindikat Nelayan, Mifleh Abu Riyala, gencatan senjata yang disepakati bulan lalu tidak berdampak apa pun bagi para nelayan. “Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, nelayan boleh melaut hingga enam mil lebih. Tapi nyatanya kapal-kapal bersenjata Israel tetap menyerang kami, entah kami melaut hingga enam mil laut atau hanya tiga mil laut,” paparnya.

Abu Riyala menambahkan, sangat sulit menangkap ikan dalam jarak enam mil laut. “Ikan-ikan baru banyak setelah tujuh mil laut. Ini adalah laut kami. Dan untuk bertahan hidup kami harus bisa mengaksesnya,” imbuhnya.

Muhammad Baker, 70, sudah setengah abad menjadi nelayan. Ia ingat masa-masa ketika laut Gaza terbuka bagi nelayan Palestina dan para nelayan tidak merasa takut akan diserang, ditangkap atau dibunuh oleh pasukan Zionis. Dua puteranya, Amar, 34, dan Omar, 21, termasuk dari 14 nelayan yang ditangkap Zionis pada 1 Desember lalu. Hingga kini, Israel belum mengembalikan kapal nelayan mereka.

Seperti kebanyakan nelayan Gaza, Baker tinggal di kamp Beach, salah satu kamp pengungsi yang sangat padat di Jalur Gaza. Baker menyebutkan, Amar (puteranya) sudah menikah dan memiliki enam anak. Saat penyerangan, kapal-kapal bersenjata Israel mengepung kapal nelayan Amar. “Mereka membuat putera saya terjun ke laut dan berenang ke salah satu kapal Israel. Amar lalu dibawa ke Ashdod, sebuah pelabuhan di Israel,” ujar Baker.

Empat hari setelah Amar diculik, Baker pergi ke Palang Merah Internasional yang salah satu pekerjaannya adalah mengunjungi dan memonitor kondisi tahanan-tahanan Palestina di penjara Israel. “Mereka mengatakan bahwa Amar dilarang bicara dengan siapa pun. Ia tengah diinterogasi. Amar dituduh terlibat dalam gerakan perlawanan Palestina,” ujar Baker.

Tuduhan ini, lanjut Baker, hanya karena pekerjaannya terdahulu, yakni menyediakan kopi atau teh untuk para pejabat Hamas. “Bagi nelayan, tidak ada yang namanya gencatan senjata. Kami bekerja dan hanya menghasilkan 8 sampai 10 dolar AS sehari untuk menghidupi keluarga kami,” kata dia. (Endah Hapsari/sahabat al aqsha/ROL)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General