Home / Pemuda / Cerpen / Hujan adalah Anugerah

Hujan adalah Anugerah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Aku ingin menjadi seperti hujan. Menyejukkan bumi yang semakin panas. Membasahi tanah-tanah yang mengering. Menyediakan air bersih bersama pohon. Dan berlari-lari bersama teman-teman kecilku. Begitu indah dunia ketika senyuman dan ketawa lepas selalu menghiasi seantero jagat raya ini. Namun hujan tak selalu datang. Dan aku pun tak pernah mampu memprediksi kapan hujan akan menengokku.

“Bun, hari ini hujan tidak?”

“Tidak sayang. Langit sangat cerah. Kamu mau bunda ajak jalan-jalan?”

“Tidak bunda, terima kasih. Cecil di kamar saja.”

Sudah dua minggu aku tak melihatnya. Tak ada tanda-tanda dia akan mengunjungiku. Dalam lubuk hati, aku merasa kecewa. Namun, tak ada gunanya aku terlalu memaksakan kehendak. Biarlah dia datang dan pergi sesukanya.

“Bun…”

“Iya sayang.”

“Bun…kenapa bisa ada hujan ya?”

“Hujan adalah rahmat dari Allah, sayang. Allah menganugerahkan hujan karena Allah tahu kalau di bumi ini makhluk-Nya membutuhkan air untuk minum, memasak, menanam, dan kegiatan-kegiatan yang lainnya.”

“Allah kok tahu ya bun?”

“Allahu A’lam. Allah maha mengetahui. Allah tahu semuanya, mulai yang tampak sampai yang tak tampak. Allah juga tahu apa yang akan terjadi. Allah mengatur semuanya sayang. Karna itu, kita wajib pasrahkan semua urusan kita kepada Allah.”

“Kalau Allah tahu semuanya, kenapa Allah tidak memberitahukannya saja ke kita bun? Daripada kita bingung dan pusing memikirkannya.”

“Itulah gunanya kenapa manusia dikasih kelebihan oleh Allah. Apa itu kelebihannya? Kelebihannya adalah akal.”

“Akal?”

“Iya sayang. Allah memberi kelebihan kepada manusia berupa akal. Tujuannya adalah supaya manusia mau berfikir. Kenapa ini kok bisa jadi gini? Kenapa itu kok bisa jadi gitu?”

“Ada perintahnya ya bun?”

“Ada donk. Islam kan complete sayang. Semuanya ada kalau kita mau mempelajari Al-Quran.”

“Di Al-Quran ada tentang hujan juga bun?”

“Sebentar…”

Rasanya sudah tak sabar ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita bunda. Bunda terlihat sibuk mengambil Al-Quran di dalam tasnya, melihat daftar isinya dan membuka lembar demi lembar untuk menemukan halaman yang dicari-carinya.

Bunda terlihat cantik dengan senyuman yang tersungging di bibir merahnya. Senyuman dari seorang wanita yang sangat aku sayangi meskipun sayangku tak akan bisa melebihi sayangnya kepadaku.

Bunda menyodorkan Al-Quran yang sudah dibukanya tadi. Dia membantuku duduk dari tempat tidurku. Dia sengaja membiarkanku membaca sendiri firman Allah tersebut.

An-Nahl: 10-11

 ”Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Aku tertegun membaca firman Allah tersebut. Ternyata hal sekecil itu pun ada di dalamnya. Tak ada yang terlewatkan. Semua hal ada di dalam Al-Quran. Kita hanya diminta untuk membaca, memahami dan mengamalkannya. Hal yang terlihat sepele tapi tak sering orang melakukannya dengan baik dan secara totalitas.

“Subhanallah…Allah romantis ya bun. Isi surat cinta-Nya lengkap. Kalau kita mau terus-menerus membaca dan mengamalkannya, insya Allah kita tahu semuanya dan kita gak akan tersesat. Ibarat peta ya bun, Al-Quran itu peta dunia. Kita gak perlu harus keliling semua negara di dunia untuk sekadar letaknya. Tapi kalau peta dunia kan hanya letak-letak negaranya saja. Kalau Al-Quran kan semua kehidupan. Ah…gak bisa disamakan. Al-Quran is the best lah.”

“Iya sayang.”

“Bunda…aku semakin sayang sama Allah, sama bunda, sama ayah. Aku juga semakin suka dengan hujan, terutama kalau ada pelangi setelah hujan.”

“Iya sayang. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki dan kita wajib menjaganya sampai kita tak berhak memilikinya.”

“Iya bunda. Cecil masih ingat kok pesan bunda. Menjaga ketika itu menjadi hak kita dan mengikhlaskan ketika itu bukan lagi hak kita karena pemilik sesungguhnya adalah Allah. Cecil selalu ikhlas kalau hujan gak turun meskipun sebenarnya Cecil ingin lihat hujan.”

“Iya sayang. Ayo istirahat dulu biar cepat sembuh.”

“Oh ya…Cecil juga ikhlas kalau Cecil sakit. Kata bu guru, sakit bisa melunturkan dosa tapi ada syaratnya yaitu ikhlas. Mending ikhlas ya bun, sakit tapi dosaku bisa luntur. Daripada gak ikhlas, sudah sakit tapi dosanya tetep aja banyak.”

Bunda terlihat sangat lelah tapi dia tetap menorehkan senyuman terindahnya. Dia menaikkan selimutku hingga menyisakan bagian kepalaku. Tak perlu menunggu waktu lama, aku pun tertidur dalam pelukan hangat bunda. Siang itu tak ada hujan.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Inh
Inh alias Indri Noor Hidayati. Gadis kelahiran surabaya yang selalu ingin belajar dan berusaha memperbaiki diri.

Lihat Juga

Ilustrasi. (seehati.com)

Keinginan Bunda

Organization