Home / Pemuda / Cerpen / Hijabku, Bukti Cintaku PadaMu, Bukti Sayangku Pada Mereka

Hijabku, Bukti Cintaku PadaMu, Bukti Sayangku Pada Mereka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Mendung menggelayut di langit Jogja, awan hitam berjejer di singgasana langit. Aku berdiri mencari celah berkas mentari, tapi rintik hujan seakan memastikan keberadaannya.

“Hujan ya mbak”…sela anggun di tengah lamunan kerinduanku, aku menoleh ke arahnya, Anggun langsung memposisikan dirinya tepat di samping ku sekarang. “Iyaa…udah mule gerimis dek”. Aku melanjutkan keasyikanku memandang langit, menengadahkan tangan untuk meresapi kesenduan yang dibawa gerimis.

“Yaaah…padahal umi dan abi sedang di perjalanan mo ke sini, wah keujanan dahaku memperhatikan raut kekecewaan nya terhadap hujan, sedangkan aku sedang menghantarkan rinduku lewat rinainya. Yah.. “kerinduan”, rindu yang tiba-tiba semakin merekah semenjak kepulanganku dua bulan yang lalu.

“Amaaak…amakk…”aku mencari keberadaan amak Maghrib itu, saat itu aku baru menyelesaikan tugas ku menyiram bunga. Yah…salah satu kebiasaan burukku senang sekali bermain air sebelum Maghrib. Aku masuk rumah sembari mencari amak ku tersayang, di kamar kecilnya aku mendengar amak berucap beragam doa yang samar-samar. Amak baru selesai shalat Maghrib, beliau melanjutkan berdoa yang rasanya itu panjaaang sekali….”lamaanyeee...”gumamku setelah bosan mengintip.

Aku bergegas membersihkan diri dan menanti bapak pulang dari sawah untuk shalat jamaah.
Senyum khas bapak menyapa aku yang duduk di depan TV menanti untuk shalat bersama.
Di akhir shalat bapak melanjutkan dengan dzikir, kemudian doa bersama yang bapak bacakan dengan lantang, sembari aku yang menyaut aamiin dari belakang.

“Ya…Allah…mudahkan anak-anakku dalam memenuhi ujian darimu, mudahkan dan kuatkan mereka dalam menyelesaikan belajarnya, jadikan mereka anak yang shalih dan shalihah, jauhkan mereka dari marabahaya, dan jaga mereka dalam penjagaan terbaik-MU, kepada Mu lah kami meminta, kepadaMU lah kami memohon”…..

Itu untaian doa yang bapak sebut-sebut sehabis shalat, ahh. Siapa yang tak terenyuh ketika di doakan dengan penuh permohonan seperti itu, doa yang hampir sama setiap waktu bapak layangkan, bingkisan doa untuk keberhasilan anak-anaknya.

Doa-doa yang sering bapak ucapkan seakan terus menegur hatiku yang kaku. Sepulang dari pulang kampung aku banyak merenung, aku benar-benar merindu, perasaan takut tak bisa membahagiakan mereka. Bagaimana bisa membahagiakan, sedang berbakti seperti membantu mereka itu rasanya tak mungkin. Jarak memisahkan aku untuk tidak bersama amak dan bapak

Tak lama setelah pulang kampung, aku memutuskan untuk pindah ke asrama. Saran dari temanku aku dapat belajar banyak di gedung megah milik kampus itu. Hari-hari di asrama, ditempa beragam kebiasaan baik dan pengaruh yang baik. Anggun sebenarnya yang menjadi titik perubahanku, anggun senang sekali bercerita tentang kedua orang tuanya, ditambah anggun anak yang cerdas dan hafalan al-Quran nya juga amat bagus. Aku amat cemburu.

Sekarang…dua bulan terlewati semenjak kembali ke tanah rantau. Aku asik menikmati suasana kerinduan di bawah langit Jogja yang kelabu…aku merindukan mereka, di bakar pula api cemburu karena orangtua anggun teman sekamar ku akan mengunjungi dirinya. Rintik hujan seakan berubah tajam menembus kalbuku, kerinduan itu seakan menyisihkan sebuah kata tak adil. Aku tak pernah sekali pun dikunjungi, bahkan amak tak mungkin ke sini sebelum aku lulus.

Perkenalan ku pada hijab

Karena di kampus semua mahasiswi memakai jilbab, jadi aku tak pernah mencari alasan mereka mengenakannya. Hal itu hanya sebatas peraturan yang harus diikuti. Toh banyak yang lainnya tak menggunakan di luar proses belajar.

Sampai suatu ketika aku membaca sebuah hadits yang menyatakan bahwa seorang wanita dapat menyeret 4 golongan laki-laki ke neraka; ayahnya, suaminya, saudara laki-laki, anak laki-laki jika ke empat golongan itu tidak menjaga amanah dan menjaga tanggung jawabnya.

Aku langsung tersentak, bayangkan aku sendiri yang menyerat orang-orang yang kusayangi. Takut sekali rasanya…Jika aku tak menjaga diriku dengan baik dan tak menjadi tanggung jawab yang baik aku sendiri yang menyeret mereka ke lembah paling menyiksa. Bayang-bayang amak yang menengadahkan tangan berdoa amat lama, bayang-bayang bapak yang berdoa dengan penuh keyakinan dan pengharapan… belum lagi tiap ku lihat bukti keletihan yang mereka bawa di tiap malam. Amak yang sering jatuh sakit, dan bapak yang mulai merasa keletihan. Lalu aku…??? Aku bahkan belum menjadi alasan mereka untuk mendapatkan surga-NYA. Malah takutnya aku lah yang menjadi alasan kelalaian terhadap anak hingga menyeret mereka ke neraka.

Semenjak itu aku memutuskan untuk belajar banyak, bagaimana jilbab yang sebenarnya, tingkah dan etika yang benar. Lambat laun aku tau bahwa jilbab itu wajib…dan aku semakin mantap untuk mengenakannya tanpa peduli beragam caci maki.

Setahun berlalu…

Aku pulang dengan tampilanku yang baru. Aku mengenakan jilbab ungu menjulur hingga dada, lengkap dengan rok dan kaus kaki. Bapak dengan senyum kebanggaannya, dan amak masih dengan raut yang tak percaya…

Ini hadiah untuk kalian mak…pak… kalian lah alasan ku untuk berbenah, jika aku tak dapat membahagiakan kalian di dunia-Nya yang sempit ini, aku sangat ingin dapat menolong dan berkumpul dengan kalian di surganya nanti…

Jika aku tak menjadi anak kalian yang shalihah bagaimana mungkin doaku akan menjadi penolong kalian nanti. Jika aku tak berbenah dan memperbaiki diri aku takut sendiri di nerakanya, padahal aku sangat ingin berkumpul dengan orang-orang yang kucinta di surga-NYA.

Kalian adalah alasan ku dalam diam, tiap ribuan tanya menjurus mencari alasanku berubah. Kalian cinta sejati yang mampu menerangi hati, mengikuti tiap langkah dengan doa-doa yang panjang. Nanti aku akan dengan bangga menyatakan kalian lah orang tua yang membesarkan dan menjaga anak gadisnya ini. Orang tua yang menumbuhkan kesadaran tentang hakikat ketulusan dan pengorbanan, dan cinta berpihak pada kalian. Aku mencintai sepenuh hati. Jangan lah sampai aku adalah alasan sebuah tangis kekecewaan dari air mata bening kalian. Tuhan…izinkan aku membahagiakan keduanya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rumi Putri
mahasiswi co ners di Yogyakarta. Motto hidup adalah hidup sekali, harus bahagia atas ridho-Nya. Kegemaran menulis di diary, mencoba menyalurkan tulisan smoga bermanfaat.

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI