Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lingkaran tak Berbekas

Lingkaran tak Berbekas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Hari ini hari Sabtu, hari terakhirku mengosongkan kamar. Kamar yang sudah setahun aku tempati. Sudah menjadi tradisi kami setiap tahun berpindah tempat tinggal di tanah rantau meskipun masih satu keluarga (Manajemen).

Kami (bersama dengan saudara seperjuangan) setiap tahunnya menyewa dua atau tiga rumah yang nantinya akan kami tempati. Kami menyebutnya wisma, wisma islami. Karena di sana tidak hanya sekadar kontrakan biasa. Ada aktivitas keislaman setiap paginya, saling menyemangati dalam kebaikan, dan saling menyemangati agar tidak menjadi mahasiswa yang biasa. Mahasiswa yang hanya sibuk di kamar, kampus dan kantin.

Penghuni wisma diarahkan untuk aktif dalam kajian keislaman, organisasi intra ataupun ekstra. Jebolan wisma kami tak jarang menjadi “aktor” di kampusnya dari Ketua departemen/ Menteri sampai dengan Ketua umum baik di lembaga da’awi, siyasi atau ‘ilmi.

Setiap tahunnya di wisma akan ada arahan siapa yang dipindah dan siapa yang tetap serta siapa yang dikeluarkan. Setiap tahunnya aku kebagian berpindah-pindah tempat. Tergantung arahan dari “sesepuh” (manajemen) aku harus ditempatkan di wisma mana. Bukan perkara murah atau tidak betah tapi insya Allah atas pertimbangan dakwah. Meskipun sekarang sudah mulai meluntur, kenyamanan bangunan fisik yang menjadi alasan untuk berpindah ataupun bertahan ataupun malas memindahkan barang yang seabrek di wisma lama, bukannya atas dasar kebutuhan atau pembinaan.

Hari ini tinggal mengangkut satu lemari plastik dan beberapa kardus isi buku bacaan dan bahan kuliah. Aku berharap bisa lebih cepat memindahkan semuanya, biar bisa mempersiapkan acara malam mingguan bersama yang tercinta. Ya acara “ritual” pekanan bersama beberapa keluarga ku di Semarang. Aku menyebutnya Halaqah Pekanan atau Liqa.

Agenda itu sudah Aku patenkan dan tidak bisa diganggu gugat dengan agenda organisasi, (ekstra/ intra) tugas kuliah atau laporan praktikum, kecuali ada hal yang lebih penting / syar’i lainnya. Serta berusaha datang tepat waktu dengan menyelesaikan segera pekerjaan-pekerjaan yang diprediksi akan berbenturan dengannya.

Tepat sebelum waktu Ashar acara pindahan ku selesai. Selepas shalat Ashar mulai ku tata dan ku rapikan kamar baru itu. Teman satu kamarku masih di lauhul mahfud, alias masih sekamar sendiri. Biasanya akan terisi setelah ada registrasi ulang mahasiswa baru. Ya, sekitar satu bulanan lagi insya Allah.

Tak terasa waktu pun cepat berlalu adzan Maghrib berkumandang dan alhamdulillah kamar baru ku sudah siap pakai. Tinggal persiapan pematangan kultum dan hafalan untuk halaqah malam ini. Setelah shalat Isya, pukul 19.45 ku bergegas ke Halaman Kampus yang akan di pakai liqa malam ini. Dari jauh terlihat tiga sosok pemuda paruh baya duduk beralaskan backdrop bekas tepat di tempat yang akan kami pakai liqa malam ini. Ternyata sang Murabbi dan dua saudara ku sudah hadir, aku pun bergegas menghampiri dan langsung menjabat tangannya.

Assalamu’alaikum”, sapa ku hangat. “Wa’alaikumsalam”, jawab mereka serentak.

Kelompok ku berjumlah Sembilan orang termasuk aku. Tinggal menunggu enam orang lagi. Beberapa menit kemudian datang dua orang lagi dan langsung merapatkan lingkaran. Tepat pukul 20.00 acara pun dimulai meskipun masih ada empat orang yang belum hadir. Di awal kita telah membuat kesepakatan waktu normal adalah 3 jam (kecuali ada hal serius yang belum selesai dan segera diselesaikan), dihitung dari waktu dimulainya acara jika ustadz tidak terlambat. Jadi kalau mulai jam 21.00 msks selesainya minimal jam 24.00. Namun jika Ustadz yang terlambat, maka waktu mulainya liqa dianggap tepat jam 20.00 meskipun sang ustadz baru datang jam 22.00 berarti pertemuan kita cuma satu jam bersama beliau.

Setelah ditelusuri yang tidak berangkat, dua orang memberi kabar dan dua orang lain lagi absen alias tanpa kabar. Dari dua yang memberi kabar satu mengerjakan laporan dan yang satu ada rapat BEM Fakultas. Setiap kali berbenturan dengan rapat organisasi dia lebih memilih rapat dari pada ikut agenda pekanan, begitu juga dengan satu orang yang tanpa kabar, beliau lebih mementingkan futsalan dari pada agenda pekanan. Sebenarnya kalau kita sudah paham dengan slogan ISLAM QOBLA JAMAAH maka kita akan lebih mengutamakan ngaji dari pada Organisasi.

Setelah sesi diskusi, baramij pun sampai pada mutabaah adho’. Biasanya sesi ini yang paling lama. Bisa mengambil jatah 2/3 dari jadwal yang sudah dialokasikan, dan kali ini mungkin akan lebih lama lagi setelah salah seorang peserta mengutarakan pertanyaan yang membuat kami semua harus introspeksi. Menyinggung esensi dari aktivitas pekanan yang kita lakukan.

“’afwan ustadz, sudah beberapa pekan ini setelah mengikuti aktivitas ini saya menanyakan kepada diri sendiri kenapa materi, diskusi dan motivasi dari teman-teman semua hanya bermanfaat pada saat aktivitas ini berlangsung. Setelah liqa ini selesai materi dan hasil diskusi pun selesai tanpa penerapan atau aplikasi. Ini yang menjadi pikiran saya sebelum tidur kalau baru selesai liqa” mohon pencerahannya. Beberapa orang yang lain pun membenarkan hal itu. Aku pun mulai memutar pikiran. Ya, karena hal itupun menjadi pertanyaanku. Aku hanya terdiam merasa bersalah dan menunggu apa yang akan ustadz katakan.

Ustadz pun melempar pertanyaan tersebut pada yang lain, menjaring pendapat ataupun aspirasi dari mereka. Meskipun demikian tak ada yang berani berpendapat. Yang keluar dari kebanyakan orang adalah “iya, sama ustadz. Saya juga demikian”

*******

Wahai ikhwah, pernahkah Antum mendengar kabar dari Hanzalah RA yang menganggap dirinya orang munafik? Karena ketika ia berada di majelis Rasulullah ia ingat akan surga dan neraka tetapi ketika ia berada di rumah, ia lebih asyik bercengkerama dengan keluarganya seakan lupa dengan apa yang Rasulullah nasihatkan. Ketika Hanzalah RA bertemu Abu Bakar RA ia pun menceritakan hal demikian. Abu Bakar RA berkata, “Subhanallah! Apa yang engkau katakan? Sekali-kali Hanzhalah bukanlah seorang munafik.” Abu Bakar RA. Berkata “Kalau begitu, keadaan saya juga demikian.”

Kemudian kami berdua menghadap Rasulullah saw. Saya berkata, “Ya, Rasulullah, saya telah menjadi orang munafik!” Nabi SAW bertanya. “Apa yang telah terjadi?” Saya menjawab, “Ya, Rasulullah, jika kami berada di majelismu dan engkau menceritakan tentang surga dan neraka kepada kami, kami merasa takut. Namun, jika kami kembali ke rumah menjumpai anak-istri kami, bercanda dan bermain bersama mereka, kami melupakan surga dan neraka.”

Mendengar penjelasan saya, Nabi SAW bersabda, “Demi Allah Yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika setiap saat keadaanmu seperti ketika berada di dekatku, dan terus berdzikir, niscaya para malaikat akan mengucapkan salam kepadamu, baik Antum berada di atas tempat tidur maupun di jalanan. Akan tetapi, wahai Hanzalah yang demikian itu jarang terjadi.” (HR Muslim).

Setelah berhenti sejenak, beliau pun melanjutkan kalimatnya. “Apa yang dialami Hanzalah dan Abu Bakar RA juga sering menimpa aktivis dakwah, pada saat berada dan di majelis ilmu (Training, Seminar, halaqah dan majelis lainnya) ia semangat, begitu pula setelahnya ia masih ada sisa gelora tetapi semakin lama mereda. Semangat itu hanya bisa bertahan beberapa hari. Ini juga salah satu ibrah kenapa halaqah di adakan seminggu sekali. Salah satunya agar bisa menyambung semangat. Kalau kita berada di majelis ilmu terus, itu juga tidak mungkin. Kalau begitu kapan kita bertarungnya kalau latihan terus-menerus. Kapan kita dakwahnya kalau kita ngaji terus-menerus. Kapan kita aksinya kalau kita training terus-menerus. Jika adapun itu jarang terjadi. Kita bukan seperti ibunda Maryam yang mengkhususkan berkhalwat kepada Allah swt tanpa aktivitas lainnya. Kita manusia yang wajib bersosialisasi dan hendaknya memberi manfaat kepada orang lain dari kontribusi kita di kampus ataupun di luar kampus?”

“Kalau Antum bertanya kenapa tak ada perubahan pada diri, mari kita introspeksi diri saja. Ana Introspeksi diri Ana pribadi dan Antum introspeksi diri Antum masing-masing sudahkah kita memaksimalkan aktivitas pekanan ini?”

“Kita introspeksi kesungguhan kita untuk hadir di majelis ini?”

“Kita introspeksi kehadiran kita di majelis ini, bersegerakah atau menundakah? Tepat waktukah atau sedikit terlambatkah?”

“Kita introspeksi kehadiran kita di majelis ini ketika ditugaskan sang murabbi baik membuat artikel, silaturahim, ikut daurah ataupun baca buku sudahkah kita menunaikan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh?”

Padahal itu ia lakukan agar kita menambal kekurangan kita dengan tugas-tugas yang ia berikan, tapi kita acuh dan cuek dan tak jarang melupakannya.

“Kita introspeksi kehadiran kita di majelis ini ketika sesi tahfizh apakah kita menyetor ayat baru atau hanya bolak balik dg apa yang disetor kemarin?”

“Kita introspeksi diri, ketika menjadi petugas kultum apakah kita benar-benar mencari bahannya dan menyampaikan dengan siap di majelis itu?”

“Ketika sesi materi apakah pikiran Antum fokus dengan apa yang sedang disampaikan? Sudahkah mengesampingkan sebentar laporan, tugas kuliah, organisasi atau pikiran lainnya?”

“Kita introspeksi diri, ketika ada kewajiban tarbiyah tsaqafiyah (Tatsqif), tarbiyah jasadiyah (Mukhayyam) sudahkah kita menyambut seruan itu dengan ikhlas dan sungguh-sungguh?”

“Kita introspeksi diri, ketika kita disebut aktivis berapa juzkah tilawah kita dalam sehari?” serta seberapa semangatkah kita menuntaskan targetan amalan yaumiyah lainnya?”

Semua sarana tarbiyah itu lah yang di ikhtiarkan muassis dakwah kita dengan tujuan kita menjadi kader yang syumul dan kader rabbani. Ketika kita hanya menerima yang lain dan menolak yang lainnya maka jangan heran kalau kita tidak mendapatkan hasil maksimal dari aktivitas ini.

Terkadang kita hanya hadir di majelis dengan suasana zombie, suasana tanpa persiapan yang membuat aktivitas pekanan ini menjadi tak ruh dan semangat perbaikan diri.

Sudahkah kita pahami rukun halaqah yang menjadi dasar kita mengeratkan ikatan kita dengan saudara kita yang lain karena Allah.

Semuanya kembali kepada kita masing-masing. Kita ditarbiyah dengan goal setting yang sama. Tinggal kitanya mau optimis menyamakan diri dengan yang lain dengan menambah kapasitas diri kita atau menyerah dengan kondisi.

Dengan sarana-sarana itulah salah satunya yang akan membentuk karakter diri kita dan semuanya saling melengkapi satu sama lain.

Semuanya itu untuk kebaikan kita sendiri, tapi sudahkah kita melaksanakan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh?

Antum adalah rijal masa kini di kampus Antum, kebanyakan dari Antum bisa dibilang menjadi pemimpin di lembaganya. Maka dari itu tunjukkanlah bahwa Antum adalah seorang muslim.

****

Subhanallah, kata-kata itu bagai gemuruh di siang bolong, Menegurku dengan dalamnya, interaksi apakah yang sudah aku lakukan dalam aktivitas ini. Hanya sekadar ikut ikutan kah, atau hanya sekadar ingin dibilang ikhwah tarbiyah atau yang na’udzubillah lagi apakah hanya karena ingin posisi strategis di lembaga kampus.

Ketika diri ini sedang futur dengan segala hal yang berhubungan dengan tarbiyah maka aku mulai sadar dan mengingat kembali apa yang disampaikan ustadz malam itu. Ketika tarbiyah tak berbekas bukan tarbiyahnya yang salah tapi sekali lagi apa yang sudah aku lakukan dalam lingkaran ini, sudah kah aku mengenal lebih jauh dan lebih dalam dengan aktivitas ini? Apakah aku sudah maksimal dengannya atau hanya ala kadarnya.

Ini renungan pribadi tanpa bermaksud melukai atau menyindir yang lain.

“Ya Rabb, lembutkan lah hati kami dalam menerima hidayahMu yang engkau perantarakan melalui aktivitas ini”.

Allahu’allam bishowab

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 8,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization