Home / Pemuda / Cerpen / Dua Amanah Untukku

Dua Amanah Untukku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Di sepertiga malam ini, kembali aku bersimpuh. Dalam sujud-sujud panjangku, kembali kulantunkan doa untuk kedua putriku. Doa sekaligus curhat panjang yang dihiasi tetesan bening yang mengalir tanpa mampu kutahan. Sejujurnya aku malu pada Tuhanku. Aku yang selalu datang kepada-Nya, namun hanya membawa sekeranjang keluh dan kesah.

Sudah seminggu ini sulungku, Mira selalu memancing kemarahanku. Seperti tadi sore, entah apa yang diperbuat Syifa yang menyebabkannya marah sampai membentak-bentak sang adik. Aku yang mendengar suara kerasnya tentu saja menjadi berang. “Tuh kan dibelain terus deh si Ifa, ibu emang nggak sayang sama aku” katanya dengan suara meninggi. Sementara itu Syifa memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan kesedihannya dibentak sang kakak.

Sejujurnya, belakangan ini aku memang lebih memperhatikan Syifa. Syifa baru saja mengalami haid pertama, yang menandakan bahwa ia telah baligh. Aku ingin Syifa lebih mandiri dan tidak selalu bergantung padaku. Oleh karena itu aku lebih intens mengajarinya mengurus tubuhnya sendiri. Aku juga mengajarinya memakai pakaian yang menutup aurat. Dulu, waktu sulungku mengalami hal yang sama, aku cukup menjelaskan seperlunya saja dan lebih banyak berpesan agar dapat menjaga diri karena sudah menjadi wanita dewasa.

Malamnya setelah Ifa tidur, aku melihat Mira masih membereskan bukunya ke dalam tas sekolah. Dengan hati-hati kuraih bahunya, “Mira masih marah sama ibu?”.  Mira menggelengkan kepalanya. “Ibu mau, Mira cerita, kenapa Mira jadi uring-uringan seperti ini nak?”. “Udah deh ibu nggak usah tahu, percuma ibu nggak bakal ngerti” kata Mira sambil menguap dan merebahkan diri di samping Ifa. Aku membiarkan dan tidak mau memaksanya. Aku juga ingin segera tidur, karena sebelum subuh sudah harus menyiapkan daganganku. Namun mata ini tak mau terpejam, aku teringat kenangan indahku bersama mas Panggih.

Mas Panggih, laki-laki sederhana yang kukenal di rumah petakan yang bertebaran di dalam sebuah gang kumuh di belantara Jakarta. Aku gadis dusun dari sebuah kampung di Lebak, dijemput kakak sepupuku untuk mengadu nasib di ibu kota dan tinggal bersamanya. Kebetulan rumah petakan kakak sepupu berdekatan dengan mas Panggih. Alih-alih meraih pekerjaan, malah hatiku yang diraih mas Panggih. Akhirnya kami menikah di kampung dan kembali ke rumah petakan.

Setelah Amira lahir, mas Panggih tambah semangat bekerja.  Dulu aku mengenalnya sebagai tukang ketoprak keliling, kemudian sore sampai malamnya jualan wedang ronde pakai gerobak keliling juga. Alhamdulillah, setelah Amira lahir, rezeki kami mulai meningkat, kami pindah ke rumah kontrakan yang lebih layak. Mas Panggih berhenti jadi tukang ketoprak dan mulai merintis warung mie ayam. Alhamdulillah, berkat kesabaran dan keuletan mas Panggih, warung mie ayam kami pun berkembang pesat.

Empat tahun setelah kelahiran Amira, aku kembali melahirkan bayi perempuan yang kami beri nama Syifa. Syifa terlahir sebagai bayi spesial. Wajahnya tidak ada miripnya dengan kami semua. Wajahnya khas, karena Syifa adalah penyandang Down Syndrome. Tiga bulan semenjak kelahiran Syifa adalah masa-masa yang paling berat dalam hidupku. Aku mengalami baby blues, begitu yang dikatakan bidan yang menolongku. Perasaanku campur aduk, sedih, kecewa, marah, semua jadi satu. Beruntung Allah memberiku mas Panggih sebagai pendamping hidup. Mas Panggih mampu membuatku tak larut dalam sedih berkepanjangan.

Mas Panggih mengingatkanku bahwa kelahiran Syifa adalah anugerah sekaligus ujian dari-Nya. Dan pelan-pelan hatiku pun bisa sepenuhnya menerima kehadiran putri spesialku. Sementara itu Mira yang sudah mulai masuk sekolah dasar mulai bertanya-tanya, kenapa wajah adiknya tidak sama dengan ibu atau bapaknya. Mira sendiri mewarisi wajah bapaknya. Mas Panggihlah yang dengan sabar memberi pengertian pada Mira. Aku sangat bangga pada Mira karena dia sangat sayang dan berdiri paling depan bila ada orang yang mengejek adiknya.

Namun rupanya ujian hidup ini belum selesai. Mas Panggih, lelaki sederhanaku yang berhati seputih melati harus pergi. Tuhan memanggilnya di saat aku membutuhkannya. Ya, aku membutuhkannya untuk mendampingi langkah kedua putriku yang beranjak remaja.

*********

Aku tersentak, terjaga dari tidurku yang tak karuan dan perlahan beranjak ke kamar mandi. Setelah mandi dan berwudhu, aku merasa segar. Di sepertiga malam ini, kembali aku bersimpuh. Kubentangkan sajadah di samping tempat tidur, di mana kedua putriku masih terlelap. Lagi-lagi larut dalam lantunan doa panjang disertai isakan, aku tidak menyadari, sulungku Amira memelukku erat. “Maafkan Mira, buk, Mira udah jahat sama ibu, sama Ifa…..” Aku tidak menjawab, hanya membalas pelukannya lebih erat. ” Mira kesal, teman-teman cowok yang naksir Mira, yang suka sama Mira semuanya mundur setelah lihat Ifa.  Tapi setelah Mira gabung sama anak-anak Rohis, Mira jadi malu buk”. Aku tidak menjawab, hanya membelai-belai rambut Mira yang panjang dan lebat. “Mira sekarang paham buk, kenapa Rasulullah melarang berkhalwat atau berpacaran” “Memangnya kenapa? tanyaku sambil terus membelai rambutnya. “Kemarin dijelasin panjang lebar sama kakak-kakak Rohis, pokoknya gitu deh banyak mudharatnya buk, tapi….” Mira kemudian menengadahkan kepalanya,” Adakah kelak lelaki yang akan mencintai Mira, buk?”

Aku tersenyum, baru teringat, putri sulungku sudah 16 tahun, sudah duduk di bangku SMA, sudah mulai dilirik oleh lawan jenisnya. Kuusap perlahan kepala anakku. “Mira, nggak usah khawatir, insya Allah, saat itu akan tiba. Sekarang Mira belajar dulu, sekolah dulu. Lelaki sejati yang kelak mencintaimu, pasti akan mencintai ibu dan adikmu juga. Doa ibu akan selalu mengiringi langkahmu, nak”

“Bagaimana dengan Ifa, buk?” lirih Mira bertanya. Aku semakin mengeratkan pelukanku. “Allah menciptakan makhlukNya berpasang-pasangan Mir, semoga ada masa depan yang indah untuknya ya”.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurhaida Alting
Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis. Saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis. Alhamdulillah beberapa artikel opini dimuat di harian lokal Haluan Kepri dan beberapa cerpen pernah dimuat di Tanjung Pinang Pos.

Lihat Juga

Sidang Paripurna

Ini Pengakuan Muhammad Syafi’i, Pembaca Doa Penutup Sidang Paripurna