Home / Berita / Nasional / Mendikbud: ISNU Sebagai Pencerah, Penggerak, dan Pemungkin

Mendikbud: ISNU Sebagai Pencerah, Penggerak, dan Pemungkin

(ANTARA/Syaiful Arif/rj)
(ANTARA/Syaiful Arif/rj)

dakwatuna.com – Surabaya. Mendikbud Mohammad Nuh meminta Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) untuk tidak terjebak politik aliran, karena fungsi dari intelektual (sarjana) adalah pencerah, penggerak, dan pemungkin.

“Pencerah itu ibarat cahaya dan cahaya paling cerah adalah putih. Putih itu kumpulan dari warna-warni,” katanya saat menjadi pembicara kunci dalam pelantikan dan musyawarah kerja ISNU Jatim di Surabaya, Minggu.

Acara itu dihadiri Ketua Umum PP ISNU Dr Ali Masykur Moesa, Gubernur Jatim Soekarwo, Ketua PBNU H Saifullah Yusuf (Wagub Jatim), dan Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah serta pengurus ISNU se-Jatim.

Menurut menteri yang juga Wakil Ketua Dewan Ahli PP ISNU itu, ISNU sebagai pencerah harus menaikkan bendera “rahmatan lil alamin” yang sifatnya kasih sayang, pengayom, penghormatan harkat, dan sebagainya.

“Jadi, ISNU sebagai pencerah itu bisa saja primordial, tapi tidak boleh eksklusif dan mempunyai kemanfaatan bagi siapa pun, karena intelektual itu memang tidak terbatas,” katanya.

Fungsi lainnya yang juga penting adalah penggerak dan pemungkin. “Fungsi penggerak itu bukan sekadar manfaat, tapi manfaat sebesar-besarnya. Artinya bukan sekadar ada tapi benar-benar manfaatnya terasa,” katanya.

Untuk fungsi pemungkin adalah intelektual itu tidak boleh terjebak pada hambatan atau kegagalan, tapi selalu kreatif. “Kreatif itu tidak ada yang tidak mungkin, maka ISNU memungkinkan yang tidak mungkin, seperti telepon yang dulunya hanya ada di rumah, tapi sekarang ada di jalan-jalan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, menteri kelahiran Surabaya, Jatim itu mengibaratkan ISNU sebagai “is NU”. “Is NU atau ISNU adalah NU yang sebenarnya. ISNU itu ibarat kunci. Kunci itu tidak lebih besar daripada gembok, tapi rumah yang kehilangan kunci bisa merusak struktur,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PP ISNU Dr Ali Masykur Moesa menegaskan bahwa ISNU ibarat jalur sutra atau intelektual yang melakukan pendekatan yang lembut seperti sutra. “Bisa saja apa yang dilakukan ISNU akan memiliki resonansi politik, tapi hal itu bukan semata-mata politik praktis, melainkan bagian dari tanggung jawab keilmuan ISNU,” katanya.

Namun, katanya, ISNU akan berupaya NU memiliki kemandirian secara ekonomi agar NU tidak mudah diintervensi secara politik. “Kalau mandiri, NU tidak akan diintervensi, tapi NU bisa menentukan politik itu sendiri,” katanya.

Dalam pelantikan itu juga dianugerahkan “Santri Award 2012” yang diserahkan kepada tiga dari 42 santri yang dianggap sukses yakni Aa’ Abdullah Al Kudus (santri sukses dalam bidang lingkungan), Suyadi (santri sukses dalam enterpreneurship/Presdir PT Perkasa, perusahaan perkapalan), dan Koperasi PP Sidogiri (kategori sukses dalam pemberdayaan pesantren). (Ant/OL-2/MICOM)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (evl.uic.edu)

Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat