Home / Pemuda / Essay / Bagaimana Mengelola Rasa Cinta?

Bagaimana Mengelola Rasa Cinta?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Tulisan ini saya buat tersebab jenuhnya dengan dunia Facebook (FB). ^^

Dunia yang menjadi wasilah setan juga, jika tidak dikelola dengan ketersadaran kita.

Entahlah, mungkin karena saya belum lulus ujian yang Allah berikan, hingga saya harus di-remedial dengan materi ujian yang sama. Sungguh membosankan… ^^

Yahh, begitulah setan. Benar-benar konsisten dengan job-nya! Menggoda hingga di celah-celah manapun (QS. Al A’raf:16). FB, sebagai sarana untuk memudahkan penyampaian informasi dan ladang dakwah, pun diselusupinya!

Hem…

Tiba-tiba teringat orang tua dari salah seorang murid di tempat saya mengajar (sebenarnya, saya lebih suka dengan kata -mendidik- ^^), SDIT. Ia bercerita tentang putranya yang duduk di kelas 5;

“Ummi, aku menyukai seorang perempuan di kelasku. Tapi ini rahasia! Aku tidak mau kasih tahu ummi, tentang siapa orang itu? Karena kata bu guru, kita boleh menyukai lawan jenis, tapi dengan syarat; tidak boleh ada seorang pun yang tahu, termasuk orang yang kita sukai itu! Jadi ummi, biar ini menjadi rahasia aku dan Allah saja.”

Unik, yahh?!

Benih-benih rasa cinta kepada lawan jenis, bisa ditemukan saat usia SD. Bayangkan jika ini tidak dikelola dengan baik! Akan merebak menjadi sebuah virus merah jambu, yang jenis-jenisnya bisa kita kenali di kalangan remaja dengan istilah ‘cinta monyet’, ada juga ‘pacaran’, dkk. Ya, ini fakta! Sudah menyerang, sekali lagi; sudah bisa menyerang, di kalangan mereka yang kata orang tua, masih ‘bau kencur’! Dan perlu kita ingat, semua virus merah jambu itu menjangkiti seseorang karena proses “pengelolaan” yang GAGAL! Ya, pengelolaan dalam merasakan cinta.

Masih ingatkah kisah wanita mulia, putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah RA, dengan Ali bin Abi Thalib RA? Ternyata, keduanya saling menyimpan perasaan cinta di antara mereka. Ya, tersimpan dengan begitu rapat, sampai kedua belah pihak tidak ada yang mengetahui kondisi sama rasa tersebut. Dan yang lebih menakjubkan adalah rasa itu bisa lolos dari pantauan setan! Hanya Allah Yang Mengetahui lintasan hati di antara mereka saja.

Dan pada akhirnya, keduanya saling mengetahui perasaan cinta di antara mereka masing-masing ketika mereka menceritakannya saat sudah ter-sah-kan dengan ijab-qabul (menikah).

Betapa rapi pengelolaan rasa ini. Hingga Allah menghadiahkan dengan mempersatukan keduanya. Masya Allah…

Kembali ke isu. ^^

Saya paham betul (ah, tidak! Lebih tepatnya menggunakan kata ‘seperti yang kita ketahui bersama’), ujiannya seorang lelaki adalah wanita, dan ujiannya para wanita adalah harta ^^. (garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum).

Sudahlah, jangan nyaman bersembunyi di balik dalih “itukan fitrah”. Ya, benar! Fitrah. Namun jangan terlenakan dengan berlindung pada dalih tersebut. Apakah dengan ‘fitrahnya manusia’ kemudian kita asyik saja menikmati ritmenya? Tanpa berikhtiar untuk berlindung darinya? Hem?

Manusia memiliki nafsu, bukan kemudian kita harus mematikan gejolak nafsu itu hingga ke akar-akarnya. Bukan! Melainkan kita kelola atau kendalikan dengan baik, agar kita tak menjadi budaknya.

Saudaraku, bantu kami menjaga kemurnian hati ini, agar tidak ada niatan menduakan-Nya, tidak ada niatan mengkhianati-Nya. Lantas menyelusup di dalam hati kami ketika beraktivitas adalah; agar engkau semakin rekat mencintai, agar engkau lebih mengagumi pesona kami, agar engkau…. agar engkau…  dan harapan agar engkau lainnya…

Cukup!

Simpan saja rapat-rapat, agar kami tidak mengetahuinya.

Simpan dalam-dalam, agar setan tak mencium aroma dari gerak-gerik sikapmu yang mencurigakan.

Jangan mudah sampaikan cinta, baik dengan verbal atau nonverbal-mu.

Ada saatnya, saudaraku… akan ada moment yang tepat… kala engkau sudah berani meminang.

Dan engkau saudariku, muslimah sejati itu bukan dilihat dari kekhawatirannya yang takut digoda orang, tetapi dia yang merasa khawatir, jika ternyata dirinyalah yang menggoda!

Pernah ada seorang teman bertanya, “Ada tidak ya ukh, lelaki yang benar-benar baik dalam menjaga dirinya?”, maka jawabannya adalah “Ada, sebab engkau ada. Insya Allah…” ^^. Ya, pasangan hidupmu kelak adalah cerminanmu saat ini. Yakinilah bahwa ketika kau bermaksiat, maka ia yang berada di bumi belahan lainnya ^^, pun bermaksiat.

Saya percaya…

Allah senantiasa mengajarkan; kembang itu pasti akan mekar, ketika telah tiba musimnya.

Ada hujan yang turun dengan basah dan derasnya, itupun pasti karena buminya sedang berdahaga.

Heum, Preventif lebih baik daripada mengobati, bukan?!

Ketika rasa itu muncul dalam hati, mari mintalah pertolongan Allah untuk mengelolanya.

Semoga Allah mengaruniakan bashirah yang jernih pada hati-hati kita… hingga mampu dan peka dalam membedakan; mana yang Allah suka, dan mana yang Allah murka?

Selamat menjaga izzah (harga diri), saudara-saudari Muslimku…

Jangan khawatir, sebab janji-Nya; ia yang terjaga, hanya untuk yang terjaga (QS. An Nur: 26).

Dan untukmu cinta, di manapun engkau berada… bagaimanapun keadaanmu saat ini…

Dan entah siapa pun dirimu… sesungguhnya aku menyadari dirimu ada, ada dan ada!

Tetaplah indah terjaga di sana, terangkum lembut dalam perlindungan, serta tersimpan tenang dalam kedamaian… hingga hanya akan ada dua pilihan; kita bertemu atau kita dipertemukan.

Dan bagaimanapun datangnya jalanNya, engkau tetap sebaik-baik keberlimpahan, insya Allah.^_^

Tulisan ini saya akhiri dengan mengajak kita semua untuk merenungi kalimat yang Umar bin Khaththab RA sampaikan, dengan khas tegas menggelegarnya ^^;

“Celakalah engkau!! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta?! Lalu di manakah takwa, tanggung jawab, dan rasa malu?!”

Wallahu’alam… ^^

Laahaulaa wa laa quwwata illabillah.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sang Melankolis - Sanguinis yang ingin mendekap ridha Nya dalam tulisan dakwah.
  • Sudirman Aminin

    Mengelola itu bukan berteori dan hanya sekedar bercerita, tetapi berbuat dan memelihara dalam bentuk aktif dan nyata dalam perilaku yang dapat dilihat dari verbal. Bukan katanya tetapi bagaimananya

  • Sofya Farah Ghina

    Subhannallah.. syukron buat referensinya..:)

Lihat Juga

Aksi Damai Umat Islam (okezone.com)

Suka Duka di Balik “Aksi Damai 411”

Organization