Home / Pemuda / Cerpen / Dy, Aku Bersama Dakwah Kampus

Dy, Aku Bersama Dakwah Kampus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

September 2010

Ilustrasi (hudzaifah.org)
Ilustrasi (hudzaifah.org)

dakwatuna.com Dy, aku diajak ikut organisasi tadi. Entah, mungkin karena jilbabku agak berkibar- kibar dan rok ku serasa mau terbang saat angin kencang. Haah, si kakak manis banget lho. Apalagi si abang yang sempat kulihat sekilas setelah menyerahkan lembar yang aku gak tau apa isinya sama si kakak, cakep banget. Huaaaaa…

Aku ikut gak ya? Membayangkan kembali kakak tadi yang menemuiku. Namanya K’Nani yang satu jurusan denganku. Sebagai mahasiswa baru aku patutnya bersyukur karena ada yang perhatian samaku. Tapi jilbab dan pakaian kakak itu?? Huaaaaaa, aku mana sanggup. Jilbab yang berkibar- kibar dan rok kembang ini begitu kusayangi. Dy, help me!

 

Penghujung September 2010

“Shalat apa yang tasyahud akhirnya tiga kali?”

Semua peserta bingung mendengar pertanyaan kuis dari abang instruktur. Dy, aku ikut kegiatan yang ditawarin kakak kemarin. Syukur- syukur cocok, kalau gak ya cabut langsung. Hehe.

Huh, dasar. Unpredictable answer! Shalat Maghrib bagi makmum yang masbuk shalat berjamaah. Eh, tau gak Dy, aku tadi dapat doorprize lho. Pin yang gak bisa didapat semua orang. Simbolnya segitiga gitu, berkilat lagi.

 

November 2010

Dy, aku udah ikut mentoring beberapa kali. Tapi beberapa kali juga aku gak ikut karena kebentur sama jadwal kuliah. Tapi aku sedih karena teman- teman sekelas gak ada yang mau diajak. Jadilah aku sibuk sendiri.

 

Pertengahan Februari 2011

Aku jadi panitia, Dy! Ya, panitia untuk acara seperti yang ku ikuti kemarin. Aku di bidang dana. Ahh, gak tau apa yang mau dikerjakan. Tau, pas rapat kami lucu banget. Masak pake penutup gitu, gimana mau kenal teman- teman satu bidang. Ternyata bukan cuma aku yang heran, Lili juga yang dulu teman dekatku ketika kegiatan. Perkenalan nama, jurusan, dan bidang masing- masing. Nama dan nomor HP semua panitia udah ada di SK. Wah, hebat juga organisasi ini. Lalu dari seberang atau kelompok ikhwat eh ikhwan memberikan pemaparan tentang job description setiap bidang. Sepertinya itu suara abang yang kulihat sekilas itu. Haha, bayangkan dy. Suaranya aja masih terngiang-ngiang di telingaku. Astaghfirullah… Tobat, tobat.

 

Penghujung Maret 2011

Aku sakit, Dy. Badan dan pikiran ini rasanya pegal- pegal. (Eh, emang pikiran bisa pegal juga ya?)

Terlalu menikmati kesibukan di organisasi baruku yang lebih dikenal dengan dakwah kampus membuatku sedikit lupa akan hak- hak tubuh yang seharusnya kupenuhi. Tapi aku senang banget Dy, inbox HP dan wall FB ku penuh dengan kata- kata yang intinya adalah doa agar aku cepat sembuh. Bukan, bukan dari teman- teman sekelas. Tapi dari teman- teman di dakwah kampus. Ahh, indah benar ukhuwah ini…

 

Juli 2011

Liburan semester, Dy. Dan ternyata aku udah hampir 3 bulan gak ikut mentoring dan absen dari kegiatan- kegiatan dakwah kampus. Ada yang mengusik pikiranku belakangan ini. Sejak sembuh dari penyakit itu aku mulai sedikit mengurangi kegiatan di dakwah kampus. Namun tentu saja bukan karena kondisi sakit yang kuderita. Tapi ada hal lain yang membuatku merasa tidak nyaman. Yah, rasanya tidak perlu disebutkan di sini. Yang pasti jika aku terus berada di sana, masalah akan semakin besar dan bakal ada niat yang tak lagi bersih. Dengan berat, aku memutuskan untuk istirahat. Ya, bukan berhenti. Karena suatu saat nanti ketika aku sudah bisa menyelesaikan ini maka aku akan kembali bergabung. Bantu aku ya Rabb, bismillah…

 

November 2011

Aku merasa sangat bersalah kepada kakak mentoringku yang tiap Jum’at menghubungi. Aku dengan berbagai alasan menyatakan gak bisa ikut mentoring. Haah, aku makin jauh dari masjid, Dy. Padahal dulu aku sangat rajin ke sana, walau hanya menunggu jadwal kelas setengah jam. Aku rasanya malu kepada teman- teman dan kakak- kakak yang pastinya banyak berkumpul di masjid. Tapi tenang, Dy aku gak akan meninggalkan shalat wajibku, amalan sunnahku, dan jilbab yang udah lumayan gak besar akan tetap kujaga insya Allah.

 

Maret 2012

Dy, aku menangis tadi. Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini? Kenapa masalah sepele ini menjadi sangat rumit? Ahh, berbagai buku tentang manajemen hati sudah kubaca namun kenapa juga tidak bisa menuntaskan masalah ini? Dy, aku tidak ingin ini berlarut. Dengan malu- malu, kupenuhi ajakan K’Nani untuk ikut training lanjutan dari kegiatan yang kuikuti 2 tahun yang lalu. Alhamdulillah lulus seleksi. Dy, semoga niatku tetap terjaga.

 

Penghujung Mei 2012

Hei, aku menjadi pengurus dakwah kampus, Dy! Gak salah ni? Menjadi sekretaris departemen? Hahh? Departemen apa ini? Ya Rabb, aku gak menginginkan ini. Aku cukup jadi prajurit yang selalu siap untuk diperintah. Mau kubawa ke mana dakwah kampus nantinya?

Dy, aku protes tadi siang ke sana kemari. Kenapa harus aku? Kakak mentoringku hanya bilang bahwa aku pasti bisa. Lalu K’Nani hanya tersenyum. Haaaaaaaahh, aku masih ingin diperhatikan bukan memperhatikan!

Lama aku tadi termenung Dy, sempat terpikir untuk mundur. Namun aku agak berpikir dewasa, siapa yang nanti akan menjalankan ini? Maka aku berdoa kepada Allah agar diberikan pundak yang kuat untuk memikul amanah ini. Pun jika keberadaanku membuat dakwah ini jadi lebih buruk, kumohon agar aku tidak ditempatkan di sini. Dan akhirnya aku dengan ikhlas mencoba menjalankan amanah ini dengan semampuku.

 

September 2012

Dakwah itu merangkul, bukan memukul.

Dakwah ini mengajak, bukan mengejek.

Dakwah itu cinta.

Ahh, indah sekali kata- kata itu, Dy. Tapi kenyataan? Aku mendapati berbagai pukulan, dan menerima berbagai ejekan. Aku bahkan nyaris tidak merasakan cinta di sini. Apakah memang dakwah sudah berubah? Aku melihat semua sudah pada sibuk Dy, dan tidak ada lagi waktu bagi kami untuk sedikit bercengkerama menanyakan kabar keluarga atau kabar ibadah. Semua bahasan hanya tuntutan, ini sudah diantar? Itu sudah diundang? Proposal ini jebol? Syura’ ini di mana? Haaah… Aku rindu masa- masa dua tahun yang lalu.

Dy, apakah hadirku yang membuat keadaan berantakan begini? Dan haruskah aku mundur??

 

Awal November 2012

“Maju atau tergantikan”. Kata itu yang menjadi taujih Lili di daftar hadir syura’ tadi.

Aku harus memperbaiki diri, benar kan Dy?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 7,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi tingkat akhir Universitas Negeri Medan, aktif di LDK sebagai staff Dept. Rekrutmen dan Pembinaan Kader.

Lihat Juga

Ahok

Ini Soal Rasa, Bukan SARA