Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Inilah Jalan Pilihanku

Inilah Jalan Pilihanku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Erina Prima)
Ilustrasi (Erina Prima)

dakwatuna.com

Assalamu’alaikum
Demi Zat-Nya yang Maha Suci,
aku tuliskan untaian kalimat ini untukmu saudaraku.
Dalam setiap doaku, selalu aku selipkan permohonan agar Allah melindungiku dari tipu daya setan.
Aku memohon agar Allah merangkulku dan mendekapku dalam kesendirian dan sepinya jiwa.
dan aku selalu yakin bahwa doaku ini akan dikabulkan-Nya.

aku ingat, saat itu untuk yang pertama kali.
sejak aku mulai mengenal suatu rasa dari sebongkah hati.
aku selalu mampu memanajemen rasa agar ia tak salah arah.
walau terkadang aku pernah terpeleset, bahkan terjatuh dalam menghadapinya.
Saat terjatuh itulah, selalu ada Tangan yang Maha Indah membimbingku untuk bangkit, dan meninggalkan tipu muslihat itu.

saudaraku,
hal serupa terjadi tidak hanya satu kali, ini berkali-kali hingga datangnya suatu masa di mana aku mulai mengenalmu.
kita, ya kusebut kita karena ada aku dan kamu dalam segmen hidupku kali ini.

Saat satu tahun lalu, kita masih biasa saja, akrab layaknya dua orang teman biasa.
Berbagi info yang saling kita butuhkan. Hanya hal yang biasa.
Namun kita mulai merasakan berbedanya hati dalam menerjemah rasa.

Dalam kurun waktu kurang satu bulan, kita sudah terlalu jauh membahas hal-hal yang kita rencanakan ke depan.
Kita terlena pada indahnya kesamaan rasa, yang itu tidak lain adalah jilatan Api Neraka.
kita lancang melangkahi Kehendak yang Allah takdirkan untuk kita.

Saudaraku,
awalnya aku sangat bahagia atas apa yang terjadi di antara kita,
aku terlena dengan ucapan janji dan cerita mimpi indahmu untukku, aku terlena dengan tipu muslihat setan.
aku lengah, dan aku tahu ini adalah jatuhnya aku untuk yang kesekian kali, dan inilah jatuhku yang terdalam.
namun doa yang sama selalu aku minta pada-Nya.
dan kali ini, dengan Kasih Sayang-Nya,
Allah kembali Mengulurkan Tangan Maha Indah-Nya untuk mengeluarkan aku dari kubangan lumpur dosa ini.
melalui taujih dari seorang rekan, yang entah tidak ada angin tidak ada hujan.
rekan ku berceloteh tentang prinsip hidup yang kita pilih.

Ada tamparan keras saat dia mengeluarkan kalimat demi kalimat yang melukiskan kejadian kita, yang mungkin mulai salah langkah.

Saudaraku,
sebelum semuanya terlanjur salah dan ini membuat Allah marah.
mari kita hentikan apa yang sudah terlanjur terjadi ini.
&nbsp
Aku tidak ingin menjadi seperti wanita yang Rasulullah sabdakan,
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki
(melainkan fitnah yang datang dari) wanita.” (HR Bukhari Muslim)

kita kembali ke jalan yang memang sudah Allah sediakan untuk kita.
Kita pasrahkan diri kita atas Takdir, atas jodoh yang telah disiapkan-Nya untuk kita.

Saudaraku,
hari ini aku bertekad untuk menyerahkan dua lembar kertas bertuliskan biodata diri kepada dia yang aku sebut “em er”
ini adalah ikhtiarku, aku bulatkan azzam ini, bahwa inilah jalan prinsip yang aku pilih.
menikah melalui jalan berkah.
karena sejatinya keberkahan hanya dapat diraih melalui cara-cara yang diberkahi-Nya.

Aku tidak akan tahu seberapa lama biodata itu akan berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
atau bahkan tidak berpindah sekalipun. Aku akan terus menanti sampai Allah memberikan dia padaku dengan Senyuman-Nya yang Maha Indah.
ini adalah ikhtiarku.

dan ini adalah tulisan terakhir tentang kita.
tidak akan ada lagi kesalahan yang sama akan terulang,
antara aku, kamu, ataupun mereka (ujian-ujianku) nantinya. Aamiin…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aktivis Dakwah Kampus di LDK Kamil STMIK Bumigora Mataram. Aktifitas saat ini menjadi jundi di sebuah wajihah dakwah.

Lihat Juga

Ilustrasi Media Ghibah (doc. dakwatuna)

Stop Makan Mayat Saudaramu!