Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menertawakan (Kesalahan) Diri Itu Penting!

Menertawakan (Kesalahan) Diri Itu Penting!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Pernahkah kau alami hari yang luar biasa? Apa yang terjadi sama sekali berbeda jauh dengan yang kau rencanakan. Kita beri judul pada hari itu: Hari yang Kacau. Kita sudah sangat hati-hati siapkan presentasi yang sempurna hingga larut malam. Tapi kita justru terlambat bangun, PDAM mati, listrik mati. Sarapan gosong. Tidak dapat bus lalu dapat angkot yang ternyata berbeda jalur. Kita terlambat masuk kantor. Sampai kantor ternyata seragam kita salah kostum. Masuk ruangan yang salah. Ternyata, flash disk tempat file presentasi sempurna kita tertinggal di rumah. Dapat marah pula dari bos. Perfect day for crying.

Apa yang kau lakukan di akhir hari? Menangis? Marah? Jengkel? Pasti. Lalu apa yang akan terjadi? Selain kita akan merasa menjadi makhluk paling menderita sedunia. Tidak ada yang peduli dengan kita. Lonely heart.

Kalau mau marah boleh. Mau menangis boleh. Mau jengkel juga boleh. Tapi tidak boleh lama-lama ya. Segeralah wudhu dan perbanyak istighfar. Berkacalah dan tertawalah. Gilakah? Tidak! Aku hanya ingin mengajakmu untuk berbahagia. Bahagia itu bisa diraih dengan dua cara, ada sesuatu yang bahagiakanmu lalu kau bahagia. Atau kau berbahagia (merasa bahagia) lalu kau akan bahagia. Aku merasa, ada kalanya kita tak perlu menunggu sesuatu untuk berbahagia.

Hiburlah hatimu yang terluka, bahagiakan ketika hatimu sedang sedih. Kalau bukan Allah dan dirimu sendiri yang membuatmu bahagia, siapa lagi? Allah tidak akan menguji kita di luar kesanggupan kita (QS 2: 286) dan Allah bersama orang-orang yang sabar.

Tertawalah dan maafkan kesalahan diri sendiri. Hidup kita seperti buku. Jika halaman-halaman yang di depan sudah punya coretan yang tidak baik maka kita masih punya banyak halaman di belakang yang masih putih. Masa depan kita masih suci, bersih. Jadi, jangan tunda kebahagiaan kita di masa depan hanya karena kesalahan kita di masa lalu.

Itu sebabnya kaca spion lebih kecil daripada kaca depan mobil, karena kita boleh sesekali lihat masa lalu sebagai pelajaran berharga. Namun, kita harus fokus pada masa depan.

Maka, tertawakanlah dan maafkan kesalahan diri. Segera bangun dan berlarilah sobat! Berlarilah untuk raih masa depan yang lebih baik. Allahu Akbar!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,44 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Guru, Wirausaha. Senang belajar, membaca, menulis, meneliti, dan berpetualang.

Lihat Juga

Ilustrasi. (gallery.naslno.com)

Merasa Bersalah Telah Mengkhianati Suami, Mohon Saran atau Masukan