02:13 - Jumat, 24 Oktober 2014
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Meraih Surga Melalui Tetangga

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I - 14/12/12 | 08:30 | 00 Safar 1434 H

Bismillahirrahmaanirrahim

persaudaraan 2dakwatuna.com – Semua orang punya tetangga, semua kita adalah tetangga bagi orang lain. Semua orang membutuhkan tetangga. Tetangga, bagi seorang mukmin, bisa menjadi jalan meraih surga. Peluang ini sudah Allah tawarkan secara jelas, Allah tawarkan buat semua mukmin. Tanpa kecuali, semua punya peluang yang sama, bisa meraih surga lewat tetangga. Pertanyaannya adakah kita mau menerima tawaran menarik ini. Realitas kehidupan masyarakat yang cenderung mengarah kepada kehidupan urban dan metropolis, sendi-sendi sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bertetangga, mulai mengalami pengikisan. Miris mendengarnya, ketika teman di Singapore bercerita bahwa di apartemen di mana kebanyakan tempat di sana, sering didapatkan tetangga yang sudah berusia lanjut, meninggal di kamarnya tanpa ada satu pun tetangganya yang tahu, sampai akhirnya mencium bau busuk mayatnya. Tentu sangat naif, apabila dalam kehidupan masyarakat muslim, sampai terjadi yang seperti ini.

Sebenarnya bukan hal yang sulit, mengambil peluang surga melalui tetangga. Hal-hal berikut, adalah contoh –contoh upaya sederhana yang bisa kita lakukan, dan insya Allah akan memberikan dampak yang sangat bagus, baik bagi kita sebagai pribadi, ataupun bagi perkembangan dakwah secara umum.

1. Rutin berinteraksi /bergaul

Sesibuk apapun kita dalam berbagai tugas, baik tugas kerumahtanggaan, tugas dakwah, tugas di kantor/tempat kerja, upayakan untuk mengalokasikan waktu tertentu untuk bisa bertegur sapa, berkunjung, dan berakrab ria dengan tetangga. Peluang-peluang pertemuan tidak resmi, misalnya saat belanja, saat mengantar anak di sekolah/PAUD, saat menyapu halaman, jangan begitu saja dilewatkan tanpa ada tegur sapa dan upaya mengetahui kondisi tetangga. Hal ini sangat penting, untuk memastikan bahwa kita telah memenuhi hak-hak tetangga.

Jika ternyata ada di antara tetangga yang hari itu sedang mengalami kesulitan atau punya masalah sementara karena kurangnya perhatian, tetangga tidak bisa tidur karena kelaparan, sementara kita bisa tidur nyenyak, maka kita tidak termasuk golongan umat Rasul saw. Jadi, bersemangatlah untuk bisa menyapa, memberi perhatian, dan menanyakan kabar tetangga, agar peluang kebaikan selalu bisa dioptimalkan. Kita bisa membuat target, misalnya satu hari minimal kita bisa menyapa dan tersenyum kepada 1 sampai 5 orang tetangga kita. Bayangkan betapa banyak kebaikan yang Allah limpahkan pada kita dalam satu pekan, satu bulan, satu tahun dst.

2. Mencatat dan mengingat data –data penting tetangga kita.

Upaya yang cukup bagus, apabila kita mempunyai dan mencatat data-data penting seputar tetangga-tetangga kita, misalnya makanan kesukaan tetangga, nama lengkap tetangga, tanggal lahir, tanggal pernikahan, tanggal lahir anak-anak, asal daerah, hobbi, potensi, warna kesukaan dan sebagainya. Tentu yang tidak kalah penting adalah data tentang nomor telepon tetangga. Data-data merupakan asset penting, yang akan sangat bermanfaat untuk kita memuliakan tetangga. Ketika moment tertentu, misalnya hari kelahiran tetangga, kita bisa mengirimkan tausiah khusus untuk mengoptimalkan waktu/umur, sekaligus mengirim makanan kesukaan atau barang tertentu dengan warna kesukaan tetangga. Ketika kita punya informasi penting, misalnya informasi tentang beasiswa bagi anak sekolah, kita bisa membaginya kepada tetangga, tentu mereka akan senang hati menerimanya, apalagi jika momentumnya pas. Info lowongan pekerjaan dan sebagainya, ketika kita tahu data tetangga, akan bisa di share sesuai keperluan. Nah, untuk mengakses data-data tersebut, kita bisa meminjamnya kepada ketua RT setempat, di samping tentu ada data yang tidak bisa kita dapatkan, kecuali jika berinteraksi langsung dengan tetangga, misalnya tentang makanan dan warna kesukaan.

3. Berkunjung ke rumah tetangga

Niatkan silaturahim, agar fadhilah silaturahim yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kita dapatkan. Fadhilah tersebut yaitu dipanjangkan umur, dimurahkan rezeki dan diampuni dosa-dosanya. Berkunjung ke rumah tetangga, tidak harus formal, tapi bisa kita lakukan misalnya sambil meminjamkan buku bacaan/majalah atau apa saja yang kira-kira akan bermanfaat untuk tetangga. Dalam kunjungan tersebut kita harus memperhatikan waktu yang pas untuk berkunjung, jangan sampai karena tidak tepat waktunya, justru malah kontra produktif. Kita bisa juga membuat target, tidak perlu muluk-muluk, yang penting bisa kita realisasikan, misalnya dalam satu pekan ada waktu 1-2 jam yang kita prioritaskan untuk berkunjung kepada tetangga, atau kita mengundang tetangga untuk datang ke rumah kita. Yang sering menjadi kendala adalah, jika tetangga kita juga orang yang super sibuk, dan di hari libur sering digunakan untuk piknik ke luar. Di sini dibutuhkan kecerdikan kita untuk bisa tetap bertemu tetangga, misalnya dengan mengajaknya bersama-sama datang ke tempat wisata atau belanja bersama, datang ke pengajian/arisan bersama.

4. Bincang –bincang ‘bersih’ dengan tetangga,

Yang banyak terjadi di masyarakat, bincang-bincang sesama tetangga di sore hari, terutama kaum ibu, sering diwarnai dengan gossip yang tidak bermanfaat. Di sini dibutuhkan kreativitas kita untuk merubah bincang bergosip menjadi bincang yang bersih. Bersih dari segala macam gosip/ghibah. Kiat yang bisa kita lakukan misalnya dengan membawa “majalah yang mendidik”, sebagai fokus perbincangan. Kita ambil tema tertentu, yang kira-kira menarik. Perbincangan akan lari kepada gossip, biasanya akan terjadi manakala tidak ada teman tertentu yang menjadi fokus pembicaraan. Insya Allah, jika kerumunan tetangga kita lemparkan tema secara khusus, peluang gossip akan bisa kita hilangkan, minimal bisa kita kurangi secara perlahan. Tema bersih misalnya, bisa kita luaskan dengan kebersihan hati, di samping kebersihan fisik. Perbincangan tentang bersih dengan tetangga bisa sangat bermanfaat, apalagi diikuti dengan aksi nyata berbagi kiat kebersihan.

5. Mengirimkan makanan atau hadiah kepada tetangga.

Keterampilan memasak menjadi terasa sangat penting, ketika membahas aksi yang satu ini. Berbagai kreasi masakan bisa kita olah, yang bisa menjadi bahan antaran untuk tetangga. Tapi, jangan sedih, ketika Anda bukan termasuk pada golongan yang pandai memasak. Berbagai jenis makanan/masakan/kue yang menarik sudah banyak tersedia di pasaran, yang dapat kita pesan atau beli, untuk berbagi dengan tetangga. Satu hal yang harus kita ingat, apapun yang kita berikan kepada tetangga, sepanjang kita memberinya dengan tulus dan dengan dasar cinta, pasti akan diterima dengan senang hati oleh tetangga. Apa yang berawal dari hati, akan sampai ke hati. Berbahagialah, manakala kita bisa berbaik-baik dengan tetangga. Berbahagialah manakala kita mempunyai tetangga-tetangga yang baik. Ayo muliakan tetangga kita. Betapa rasul saw mengabarkan pada kita ada seorang wanita yang rajin dengan ibadah ritualnya, tetapi dia termasuk penghuni neraka, karena dia suka menyakiti tetangganya. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal yang demikian.

Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Tentang Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 8,71 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/eka.soraya1 Eka Soraya

    Salam. Bagus sekali bu,, terima kasih,, sudah saya share yaa,, semoga pahala untuk ibu,, Amin YRA. ~

Iklan negatif? Laporkan!
97 queries in 2,135 seconds.