Home / Pemuda / Cerpen / Memoriku di Atas Kereta

Memoriku di Atas Kereta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (backgroundpictures.org)
Ilustrasi. (backgroundpictures.org)

dakwatuna.com – Mentari sore perlahan bergerak menuju peraduannya. dalam balutan semilir angin sore di bawah naungan langit yang menghamburkan cahaya kekuningan di penghujung senja, aku masih menegakkan kedua kakiku menyusuri jalanan aspal yang masih terasa panas di kedua telapak kakiku, jalanan aspal yang telah terbakar terik matahari selama seharian penuh kini melepaskan rasa gerahnya saat hari menuju senja. Panas itu makin terasa memaksa menyelinap ke dalam kedua telapak kakiku manakala ku tersadar hanya sepasang sepatu kulit yang telah lusuh yang terbalut di kedua kakiku. Mungkin pula karena aku telah menempuh jalanan aspal ini sekian kilometer dengan berjalan kaki sehingga panas itu terasa semakin sangat membakar ketika bercampur dengan pegal dan lelah di otot-otot kakiku.

Sore itu tujuanku hanya satu, bergegas menuju gerbang stasiun demi mengadu waktu dengan kereta ekonomi sore yang akan segera datang ke stasiun beberapa saat sebelum adzan Maghrib berkumandang dan akan bergegas pergi setelah menurunkan muatan-muatannya. Kereta tersebut merupakan kereta ekonomi dengan jadwal keberangkatan terakhir menuju rumahku jauh di pedalaman di sebuah desa terpencil di pinggiran kota. Jika aku sampai kalah cepat dengan sang kereta, maka aku harus ikhlas menghabiskan waktu malamku di pelataran teras stasiun dalam selimut udara malam yang mungkin akan sangat menggit di kulitku. Tapi aku masih tak mau kalah, aku terus melangkah kaki-kaki lelahku bak mesin kereta yang terus memutar roda-rodanya demi menggerakkan rangkaian gerbong yang saling berpegangan erat.

Seretan langkah-langkah gusar kakiku mulai tersentak tatkala di mulut gerbang stasiun ku dengar sayup-sayup mesin diesel yang berasal dari kereta mulai terdengar masuk ke dalam stasiun, langkah-langkah kaki pun berubah menjadi hentakan-hentakan berat menendang-nendang permukaan bumi, seolah memaksa sang bumi untuk sesegera mungkin mendorong tubuhku agar bergerak secepat mungkin demi menyongsong kereta sebelum bergerak meninggalkan stasiun. Dalam nafas tergopoh-gopoh ku rogoh saku jaketku untuk meraih selembar uang seribuan yang sengaja aku simpan baik-baik untuk menukarnya dengan selembar tiket kereta. Dan aku pun kembali berlari tatkala tiket itu sudah berada dalam genggaman tanganku dan “aaahhhh…” aku nyaris berteriak ketika kulihat kereta mulai bergerak pergi dan… “tap…” satu lompatan kecil dari kaki kananku berhasil mendarat mulus pada mulut bordes kereta tepat pada rangkaian gerbong terakhir.

Ku eratkan pegangan jemari-jemariku pada lingkaran-lingkaran kecil yang bergelantungan di atap gerbong kereta yang disediakan khusus bagi penumpang yang berdiri. Ku tumpu kan hampir seluruh berat badanku di kedua tanganku itu karena kedua kakiku nyaris tak mampu lagi menahan tubuh ini. Dalam hentakan roda-roda kereta ku dengar sayup-sayup adzan Maghrib berkumandang di beberapa masjid di sepanjang rel kereta api, memberikan kesan sejuk dan damai serta memberikan energi tersendiri bagi jiwa ini. Pikiranku jauh melayang mengembara memutar kembali memori-memori perjalanan yang telah aku tempuh sepanjang siang ini…

Ada rasa sedih dan haru yang mendesak dari hati kecil ini, namun entah mengapa masih tetap tak mampu mendorong jatuhnya air mata dari kelopak mata ini. Aku tak mampu menerjemahkan maksud dari perasaan yang telah Allah tanamkan dalam jiwa ini, perasaan yang dengan mudah menggerakkan hatiku untuk mencurahkan segenap rasa cinta yang bercampur iba pada orang-orang yang aku temui. Seorang anak kecil dengan gemericik tutup botol yang ia pukul-pukulkan di kedua tangannya terasa mengisyaratkan padaku untuk mengulurkan sepeser uang demi sesuap nasi atau untuk apa saja yang diinginkan anak kecil itu. Atau sepasang kakek nenek yang berjalan beriringan sambil menengadahkan telapak tangannya ke arahku demi berharap jatuhnya koin-koin rupiah dari tanganku. Atau pula sekelompok laki-laki berambut gondrong yang bergerombol dengan gitar seadanya sambil meneriakkan lagu-lagu klasik yang tak karuan. Semua terasa begitu memanggil, hingga beberapa lembar uang seribuan dari kantong celanaku yang telah aku simpan baik-baik sebagai bekal untuk perjalanan pulang, nyaris tak ku perhitungkan lagi keberadaannya di kantong celanaku itu.

Bukan aku tak mendengar selentingan orang-orang di luar sana yang mengatakan bahwa mereka tadi adalah orang-orang berada, bahkan mungkin jauh lebih berada dari si pemberi yang menyisihkan sebagian uangnya walaupun dalam keadaan mungkin ia juga sangat membutuhkannya. Namun mereka telah mengabdikan diri dalam budak meminta-minta. Dan mereka akan semakin girang tatkala orang-orang merasa iba dan kasihan pada mereka karena hal tersebut berarti semakin menambah pundi-pundi penghasilan mereka. “Cobalah kau ikuti ke mana anak kecil itu pulang, ke mana sepasang kakek nenek itu pulang, dan ke mana segerombolan muda-mudi itu pulang?” tambah si orang sinis. “Maka kau akan tersentak ketika kau lihat rumah mewah mereka, perabotan serba ada yang mereka miliki serta sejumlah ini itu yang menunjukkan bahwa mereka orang berada” tambahnya lagi.

Tapi sungguh, aku tak mau peduli akan hal itu. Bukan karena aku bodoh, bukan karena aku sok rajin memberi, namun karena justru dengan begitulah aku masih merasa sebagai orang kaya di muka bumi ini, karena dalam pandanganku kekayaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, namun terletak pada seberapa banyak kita memberi. Biarlah mereka meminta, biarlah mereka mengiba, dan aku masih memiliki sejuta cinta yang akan mengantarkan aku menjadi orang paling bahagia demi meraih kekayaan hati yang hakiki. Biarlah fakta menunjukkan bahwa mereka orang berada, namun dalam pandanganku dan pandangan hatiku aku tetap tergerak untuk memberi. Aku hanya berharap bahwa Allah mencatat itu sebagai kebaikan.

Aku terperanjat dari pengembaraan memoriku tatkala suara adzan tak lagi kudengar, ku alihkan pandanganku menuju pintu kereta yang terbuka,, kubiarkan angin malam menyengat kulit muka dan tubuhku, kereta ini masih berlari menembus gelap malam di bawah naungan langit kelam dan taburan bintang, Ya Allah ampunilah hambaMu yang tak bisa menunaikan kewajiban di awal waktu, semoga Kau masih memberi kesempatan padaku hingga sampai di stasiun yang ku tuju…

Dan kereta pun masih tetap berlari menembus gelap malam…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 1,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Diki Rukmana
Mahasiswa S2 Jurusan pendidikan fisika di Universitas pendidikan Indonesia, memiliki hobi menulis dan bermain musik.

Lihat Juga

Ekonomi Syariah di Zaman Sekarang