Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merenda Ujung Penantian Kita

Merenda Ujung Penantian Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (desainkawanimut.com)
Ilustrasi (desainkawanimut.com)

dakwatuna.com – Galau. Risau. Atau khawatir. Itulah perasaan yang melanda sebagian besar perempuan yang sedang menanti siapakah gerangan yang akan mengajaknya mengarungi samudera bernama rumah tangga. Kebahagiaan plus tanda tanya ‘kapan ya giliranku?’ akan hadir tatkala mendengar sebuah pernikahan dilangsungkan. Suatu kenormalan bila demikian. Semoga tidak berlarut-larut hingga berujung pada frustasi.

Pernikahan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Laiknya tanda-tanda seperti siang bersanding malam, langit dan bumi, baik dan buruk, hidup dan mati. Kecenderungan di antara keduanya adalah bukti Maha Kuasa Allah. Laki-laki merasa tenteram bila ada perempuan di sisinya, dan demikian pula dengan perempuan akan merasa terlindungi bila laki-laki ada di dekatnya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang beriman.” (Ar-Rum: 21).

Allah, yang menitipkan perasaan-perasaan itu. Tak bisa seorang pun mengingkari fitrahnya itu. Kalaupun ada pernikahan sesama jenis, sebenarnya mereka hanya membohongi orang-orang bahwa pernikahan yang mereka jalani baik-baik saja, padahal hati nurani mereka mengingkari apa yang mereka lakukan.

Segala kondisi yang ditetapkan Allah semoga tetap menjadi kesyukuran pada-Nya. Cepat atau lambat adalah kehendak-Nya. Dan segala kehendak yang ditetapkan-Nya tidak ada yang sia-sia. “Robbana ma kholaqta haza batiila” Kita hanya bisa berikhtiar secepatnya melaksanakan pernikahan, sunnah Rasul. Namun yang menentukan tetaplah Allah azza wajalla.

Kalau boleh saya mengatakan, pernikahan penuh rahasia. Yah, penuh keunikan. Betapa banyak orang yang merencanakan bulan sekian menikah, ternyata melesat. Bertahun-tahun menjalin komunikasi atau istilah familiarnya ‘pacaran’ berharap ‘si dia’ yang menjadi teman hidup, ternyata menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenal. Teman sewaktu kecil sering bertengkar, eh ternyata berujung pada pernikahan.  Teman ngobrol di bus, cuma sebentar saja, ternyata berujung pada pernikahan. Bahkan tidak jarang sesama tetangga jodohan.

Allahu Akbar! Ternyata selain meyakini akan Kemaha Kuasaan-Nya, kita juga dituntut untuk meyakini akan qadha dan takdir-Nya. Bukan berarti kita melepas usaha untuk menjemput rizki dan jodoh. Sampai nafas terhenti; usaha, doa dan tawakal tetaplah menjadi prinsip sebagai seorang muslim dalam menjalani lika-liku kehidupan. Tentunya usaha yang dilakukan tidak mendatangkan kemurkaan-Nya seperti mendatangi dukun agar dimudahkan dalam pencarian, melakukan ramalan zodiak, ataupun pacaran.

Suatu kekeliruan bila kita memandang pernikahan itu kesenangan melulu. Pernikahan arena perjuangan.  Di dalamnya banyak duri yang siap menghujam ulu hati. Perlu kesiapan iman dan psikis untuk menghadapinya. Tidak hanya menyiapkan lahiriah semata. Rasulullah bersabda,

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki ba’ah (keinginan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu maka berpuasalah, karena puasa itu perisai baginya” (HR. Bukhari No5065 dan Muslim No. 1400)

Jika belum mampu untuk menikah maka berpuasalah, karena puasa dapat menjadi perisai, pengendali diri.  Ada satu penekanan yang perlu kita garis bawahi yaitu mampu. Mampu memang adalah hal yang relatif. Tapi setidaknya kita punya timbangan langit untuk mengukurnya, bukan timbangan bumi – adat, pandangan manusia, maupun materi. Mempertimbangkan apakah iman dan takwa kita sudah layak dijadikan pondasi dalam membangun rumah tangga peradaban. Bukankah dasar yang rusak akan menghasilkan kerusakan juga?

Semoga waktu yang ada saat ini mengajari kita bagaimana mensyukuri setiap keadaan. Penuhi hati agar tetap husnuuzhon terhadap-Nya. Mungkin Allah belum memberi giliran, karena untuk menguji sejauh mana kesabaran kita, memberi kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri, atau bisa jadi Allah belum memberi kesempatan itu di dunia dan hendak memberikan pasangan kita seorang ‘manusia akhirat’ kelak.

Pernikahan Proses Membangun Rumah Tangga Peradaban

Rumah tangga adalah miniatur kecil dari suatu negara. Dari sebuah keluargalah terbentuk berbagai manusia dengan berbagai karakternya. Perannya dipastikan menentukan eksisnya peradaban suatu negara. Membangun peradaban suatu negara tidaklah mudah seperti mengayuh sepeda. Demikian pula dengan rumah tangga peradaban tidaklah mudah untuk membangunnya, akan tetapi keberhasilan terdapat di dalamnya jika ada azzam yang kuat untuk mewujudkannya. Bukan kebaikan namanya jika tidak ada keburukan yang mengiringinya. Bukan perubahan namanya jika tidak ada godaan dan ujian yang menyelinginya. Ada panduan yang telah disediakan Allah dan Rasul-Nya. Tinggal bagaimana kita menjalaninya.

Bangunan rumah tangga peradaban telah dicontohkan manusia agung, Muhammad SAW. Ada kasih sayang karena-Nya yang terbangun di dalamnya, ada kelembutan, ketulusan, tanggung jawab, hari-hari dipenuhi dengan ibadah di dalamnya, itsar (mendahulukan kepentingan orang lain) terbangun sempurna, juga tarbiyah – pendidikan yang tidak mengenal waktu, berproses di sana.

Di sanalah para istri beliau berada, dengan kelebihan-kelebihan amalan sunnah yang diajarkan Rasul. Khadijah yang dikenal dengan kedermawanan dan keikhlasannya mendukung dakwah nabi, lalu surga pun merindukannya. Aisyah dikenal dengan Ummul Mukminin karena ketekunannya menyerap ajaran Rasul. Zainab binti Khuzaimah yang mudah mengulur tangannya membantu para fakir miskin hingga ia digelar dengan Ummul Masakin. Lalu anak-anak beliau yang juga punya kepribadian mulia. Hingga kita pantas mencemburui kebajikan dan keberanian Fatimah yang menghibur dan membela Rasul saat para kafir Quraisy menganiayanya. Ia dengan kedua tangannya membalut luka-luka itu. Ummu Kaltsum dan Ruqoyyah yang sabar dicerai dari kedua putra Abu Lahab dan mereka merelakan diri untuk bersakit-sakitan saat hijrah asal kalimat tauhid tetap di hati.

Rumah tangga peradaban, rumah tangga yang dibangun atas ketaatan pada-Nya. Rumah yang membagi kebahagiaan dan kebaikan yang mereka miliki kepada orang-orang yang berada di sekitar mereka. Kepribadian mulia lahir dari sana. Tidak hanya shalih secara pribadi tapi juga shalih secara sosial. Dengan kata lain, orang lain turut serta bersamanya meniti jalan kebaikan.

Kita perempuan, mulailah menanam harapan kepada-Nya agar diberikan seorang imam yang memiliki iman yang teguh lagi benar. Tidak usah muluk-muluk. Sebab, tiada bekal yang hakiki selain iman yang teguh dalam mengarungi jalan rumah tangga agar selamat dunia hatta akhirat. Imannya bisa menjadikan ia imam buat kita dan keluarga. Dan, kekonsistenannya menjalankan visi dan misi keluarga yang dipenuhi dengan ketundukan kepada-Nya.

Mungkin akan terlontar pertanyaan, mungkinkah mendapatkan seorang qowwam sejati seperti itu, apalagi usia sudah mematut di jendela-jendela tiga puluh, empat puluh, bahkan lima puluh?

Tetaplah menatap Kemaha Rohiman-Nya,  kasih-Nya tiada semu.  Tiada doa yang tidak diijabah Allah kecuali akan Allah persiapkan ‘anugerah’ terindah buat kita. Semoga ikhtiar dan doa terus menghiasi diri kita. Mari menyeka bulir-bulir air yang menurun dari kedua mata. Mari menghembus debu-debu yang menutupi hati agar tidak tersesak. Semoga kita tetap istiqamah dan diberikan kesabaran dalam penantian ini.  Tetaplah menjaga hati hanya untuk-Nya dan kalaupun mencintai hamba-Nya tiada lain Karena Allah. Sebab menjaga hati tidaklah semudah menjaga ternak sebara. Ternak dihalau pada saat-saat tertentu, sedang hati mesti siaga (Al-khizru) tiap waktu agar tidak terjerumus godaan syaithon. Umar berkata, “Waspada adalah bagian dari takwa”

Dalam penantian ini, ada kesempatan yang diberikan Allah untuk mempersiapkan bekal, memperbaiki diri agar kuat membangun rumah tangga peradaban. Karena tidak mungkin kita hanya mengharapkan seorang qowwam sejati sedangkan kita tidak memiliki bekal yang lumayan. Suatu hal yang tidak tahu diri namanya, bila kita hanya mengharap yang baik saja sedangkan kita tidak berupaya untuk memenuhinya.

Padangsidimpuan, dalam rangka memperbaiki diri

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guru di Sumatera Utara.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Facebook.com)

Miskomunikasi Suami Istri

Organization