Home / Berita / Internasional / Asia / Hamas – Fatah Sepakat Rekonsiliasi

Hamas – Fatah Sepakat Rekonsiliasi

Lambang Fatah dan Hamas (knrp)
Lambang Fatah dan Hamas. (knrp)

dakwatuna.com – Gaza. Setelah sempat terhenti selama satu tahun, gerakan Hamas dan Fatah Palestina, pada Ahad (10/12), akhirnya setuju untuk rekonsiliasi yang sempat terhenti selama satu tahun.

Ketua gerakan Hamas, Khaled Meshaal, dalam perjalanan pertama ke wilayah pesisir di Gaza, mengatakan, sudah waktunya bagi lawan pahit untuk membuat kesepakatan yang baik yang ditandatangani di Kairo, Mesir tahun 2011 lalu.

“Kami ingin persatuan nasional dalam perlawanan bersenjata dan perlawanan rakyat. Saya mendorong Anda menuju rekonsiliasi dan persatuan nasional jajaran Palestina,” kata Meshaal dalam pidato di Universitas Islam Gaza.

Dalam pertemuan dengan keluarga mereka yang tewas dalam konflik antara Israel dan Gaza (Hamas) bulan lalu, Meshaal menjelaskan, Palestina berada di bawah pendudukan. Palestina membutuhkan pemilihan umum yang bebas dan adil, maka kemitraan nasional dianggap tanggung jawab,

Sementara itu, pemimpin gerakan Fatah sekaligus presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan ketua komite sentral Fatah Azzam al-Ahmed menanggapi pembicaraan rekonsiliasi mengatakan, pihaknya sangat menyambut pidato Meshaal yang sangat positif pada isu terbaginya Palestina.

Ahmed berharap pernyataan Meshaal dari Gaza untuk upaya rekonsiliasi baru berarti faksi Islam kini bersatu dalam masalah ini. “Kami berharap itu mencerminkan posisi dari semua Hamas,” kata Ahmed, seperti dilansir AFP.

Abbas berupaya melanjutkan upaya rekonsiliasi itu pada pertemuan Liga Arab di Doha, Qatar beberapa waktu lalu. Abbas juga mengatakan, pemilihan yang diadakan pada tahun 2011 lalu akan menjadi kunci. Abbas menanmbahkan, tanpa pemilihan ini tidak akan ada rekonsiliasi.

“Pidato itu positif pada isu-isu dari satu presiden untuk rakyat Palestina, dan satu otoritas dan satu hukum, dan kami tidak setuju dengan dia sama sekali pada masalah ini, yang menjadi fokus dari perjanjian rekonsiliasi yang ditandatangani oleh Fatah dan Hamas serta faksi-faksi lainnya untuk mengakhiri terbaginya Palestina.

Kesepakatan tahun 2011 lalu yang disepakati di Kairo dimaksudkan untuk membuka jalan bagi pemilihan presiden dan legislatif pada Mei 2012, namun perbedaan pendapat mengenai siapa yang akan memimpin pemerintah transisi memperkeruh pelaksanaan perjanjian.

Awal tahun ini, Meshaal dan Abbas menandatangani kesepakatan baru di Doha, di mana presiden akan memimpin pemerintahan sementara. Tetapi para pemimpin Hamas di Gaza menolak kesepakatan itu, dan menuduh Meshaal mengambil keputusan tanpa dukungan mereka. (Dewi Mardiani/Rr Laeny Sulistyawati/ROL)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Hamas Bantah Pernyataan Al-Amir Turky Al-Faishal