Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Sepi Tanpa Mu, Nak…”

“Sepi Tanpa Mu, Nak…”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (boston.com)

dakwatuna.com Betapa sepinya hidup ini tanpa anak-anak. Gelak tawa, lengking tangis, jerit pekik, hingar bingar, hiruk pikuk, tingkah polah yang beragam dan segala keribetan yang bersumber dari anak-anak adalah bagian kehidupan yang sama sekali bukan beban. Bagian kehidupan itu kita jalani dengan persiapan dari awal dan pembelajaran selama menjalaninya, hingga mengantarkan mereka sampai memperoleh bagian kehidupannya sendiri. Tapi tak berhenti di situ, karena kita akan memberikan pertanggungjawaban kelak di kehidupan yang kekal, kampung akhirat.

Anak adalah amanah. Anak yang lahir dari rahim kita sendiri maupun anak yang sudah kita anggap sebagai “anak” (anak angkat atau anak tiri).Diberi-NYA kepada kita amanah itu bukan berarti kita memiliki kelebihan dan berbangga dibanding yang belum memilikinya, tapi Allah ingin melihat seberapa jauh kita bisa menjaganya.

Timbul suatu kegelisahan ketika menyadari bahwa anak-anak kita tumbuh di zaman yang berbeda dengan kita dan zaman yang terus berkembang dan berubah-ubah, persis seperti halnya pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis anak-anak dari masa ke masa. Selayaknya kita tak hanya menemani mereka, atau sekadar bersama, apalagi hanya dengan sisa waktu. Kewajiban orangtua untuk ‘mengisi’ dan hak anak-anak untuk mendapat cinta, kasih sayang, pendidikan, perlindungan dan segala ‘bekal’ (akhlaq) juga filter untuk mereka dalam zamannya, kini atau yang akan datang.

Dalam surah An-Nisa ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Sungguh, bagaimana mungkin ada orangtua yang tega menelantarkan anak-anaknya, menyerahkan kepada orang lain tanpa ada tanggung jawab sama sekali, bahkan membuangnya ketika baru lahir seperti sampah atau menyiksa dan membunuhnya tanpa hati. Sementara dalam hal berkata-kata saja harus dengan perkataan yang benar.

“Anak-anak bukan tamu biasa di rumah kita. Mereka telah dipinjamkan untuk sementara waktu kepada kita dengan tujuan mencintai mereka dan menanamkan nilai-nilai dasar untuk kehidupan masa depan yang akan mereka bangun” (Dr. James C Dobson).

Wahai ayah dan bunda, mari kita ibaratkan saja sebagai lembar-lembar pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan dalam amanah yang kita emban ini. Perkaya diri dalam ilmu yang tak pernah ada dalam kurikulumnya, terus belajar, mencari referensi, tanya sana sini, berusaha menyelesaikan PR itu sebaik mungkin, koreksi jika ada yang keliru, perbaiki lagi dan lagi, jangan jadikan beban karena PR nya itu dikumpulkan tanpa batas waktu yang kita ketahui. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nina Mariana
  • Fauzi

    :)

  • Assalamualaikum….,jazzakillah khoyron ukhty….,Alkhamdull ya Allah…..semoga Allah senantiasa memberikan kita keikhlasan dan kesabaran dlm mendidik anak-anak kita menjadi insan. Yg sholeh dan sholekhah…Aamiin….ya Allah…

Lihat Juga

Ustadz M Arifin Ilham dan Habib Rizieq Shihab. (Facebook)

Ahok Jadi Tersangka, Ustadz Arifin Ilham: Ini Awal Musibah Bagi Penista Alquran