Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Optimistis dalam Bingkai Sunnah

Optimistis dalam Bingkai Sunnah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

            قال اللهُ تَعَالَى: )قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(.

            (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

            عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ t أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e: (قَالَ اللهُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى). ([1])

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Yang disepakati bersama, suntikan kata-kata mutiara dapat melejitkan potensi diri, dorongan semangat mampu merubah ketakutan menjadi keberanian, mendongkrak kemampuan belajar, dan memupuk keberhasilan yang cemerlang. Tentunya, kata-kata bijak seperti ini membentuk kepribadian yang berenergik, sebuah kekuatan jiwa yang terbangun kokoh oleh rasa percaya diri, kekuatan yang memberi semangat juang, kesabaran, dan keyakinan terhadap keadilan ilahi.

            Yang diketahui bersama oleh orang tua didik, anak yang gagal meraih angka tinggi dalam sebuah mata pelajaran mampu bangkit menggapai nilai tertinggi di kelasnya jika ia meresapi motivasi mendidik dari kedua orang tuanya. Yang demikian itu karena ia merasa bahwa yang berjuang bukan hanya dia, tetapi di sisinya ada orang tua yang mengikutsertakan diri mereka berjuang, kegagalannya adalah kegagalan bersama. Pastinya, anak yang baik anak yang ingin berhasil sehingga keberhasilannya milik bersama yang dinikmati secara bersama.

            Optimisme salah satu nilai-nilai Islam yang sangat mulia. Olehnya itu, sejak dini teks-teks Islam memerangi sifat putus asa dan cepat menyerah serta menganjurkan sikap optimis dan berprasangka baik terhadap Allah SWT –seperti yang tertera di kedua teks di atas-.

            Karena pentingnya, Rasulullah Saw menjelaskan arti optimis dan menjabarkannya dalam sendi-sendi kehidupan umat sejak lahir hingga mereka kembali ke rahmat Allah SWT, penjelasan dan penjabaran yang menambah kekayaan disiplin ilmu jiwa.

            Sejak bayi lahir, orang tua didik dituntun sunnah memberinya nama yang baik, nama yang punya arti islami, nama yang dapat menjadi doa tersendiri terhadap anak tersebut. Bukan islami nama yang kelihatan indah dan enak didengar, tetapi artinya jelek dan buruk di kaca mata Islam, atau nama-nama yang tidak punya arti.

            Di antara nama-nama yang terhitung sangat baik nama-nama Nabi Allah SWT, dan yang selain dari mereka seperti Abdullah (عَبْدُ اللهِ), Abdurrahman, (عَبْدُ الرَّحْمَن), Hummam (هُمَّام) yang bercita-cita mulia, Haristh (حَارِثٌ) yang bercocok tanam atau memakmurkan, dan yang paling jelek Harb (حَرْب) yang suka permusuhan, Murrah (مُرَّة) yang artinya pahit.

            Baik dan buruknya makna dari nama-nama tersebut diketahui dari sabda Rasulullah Saw berikut ini:

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعِيدٍ الطَّالْقَانِىُّ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُهَاجِرِ الأَنْصَارِىُّ، قَالَ: حَدَّثَنِى عَقِيلُ بْنُ شَبِيبٍ عَنْ أَبِى وَهْبٍ الْجُشَمِىِّ، وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ِe: (تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الأَنْبِيَاءِ، وَأََحَبُّ الأَسْمَاءِ إلَى اللهِ عَبْدُ اللهِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَن، وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهُمَّامُ، وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةٌ). ([2])

            Penyandang nama yang baik akan berusaha membuktikan bahwa ia berhak menyandang nama tersebut sehingga hidupnya pun seperti terkontrol oleh makna-makna baik yang dibiaskan namanya. Di lain sisi, nama yang punya arti buruk tidak mendapatkan tempat di hati, bahkan bukan hanya dia yang pesimis, tetapi orang-orang yang ada di sekitarnya ikut pesimis terhadap makna buruk nama tersebut yang tidak memberi secercah harapan dan kebaikan.

            Olehnya itu, Rasulullah Saw menganjurkan kakek Said bin al-Musayyab yang bernama Haznun (tukang sedih, حَزْنٌ) untuk merubah namanya menjadi Sahlun (سَهْلٌ) yang penuh kemudahan. Namun, karena ia enggan mengubah nama yang diberikan nenek moyangnya, kesedihan pun senantiasa menyertai keluarganya.

            Ini terlihat jelas di hadits berikut:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا هِشَامٌ: أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ أَخْبَرَهُمْ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ شَيْبَةَ، قَالَ: جَلَسْتُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، فَحَدَّثَنِي أَنَّ جَدَّهُ حَزْنًا قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ e، فَقَالَ: (مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: اسْمِي حَزْنٌ، قَالَ: بَلْ أَنْتَ سَهْلٌ، قَالَ: مَا أَنَا بِمُغَيِّرٍ اسْمًا سَمَّانِيهِ أَبِي، قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ: فَمَا زَالَتْ فِينَا الْحُزُونَةُ بَعْدُ).([3])

Di lain sisi, ada beberapa nama yang artinya sangat baik, tetapi kadang maknanya berbalik menjadi buruk, khususnya jika nama-nama tersebut ditempatkan dalam bentuk pertanyaan yang jawabannya datang dengan bentuk penyangkalan, seperti: Yasar (يَسَار) yang berarti mudah, Najih (نَجِيْح) yang artinya sukses, Rabah (رَبَاح) yang maknanya keuntungan, dan Aflah (أَفَلَح) yang bermakna beruntung. Nama-nama ini jika disisipkan dalam konteks pertanyaan, seperti: “Apakah di sana ada Yasar atau Najih?” Jika yang menjawab mengatakan: “keduanya tidak ada,” maka ia pun dengan sendirinya menafikan makna kemudahan dan keberhasilan yang ada di kedua nama tersebut sehingga mereka seperti pesimis dan putus asa dari kemudahan dan keberhasilan. Yang demikian ini ditegaskan Rasulullah Saw dalam sabdanya:

حَدَّثَنَا النُّفَيْلِىُّ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ الْمُعْتَمِرِ، عَنْ هِلاَلِ بْنِ يِسَافٍ، عَنْ رَبِيعِ بْنِ عُمَيْلَةَ، عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ e: (لا تُسَمِّيْنَ غُلامَكَ يَسَارًا، وَلا رَبَاحًا، وَلا نَجَاحًا، وَلا أَفْلَحَ، فَإِنَّكَ تَقُولُ: ثَمَّ هُوَ؟ فَلا يَكُونُ، فَيَقُولُ: لا، إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ، فَلا تَزِيدُنَّ عَلَيَّ). ([4])

Beranjak ke ruang lingkup yang lebih luas lagi, muslim dituntun menyikapi dirinya sendiri dengan penuh optimis dan tidak menuduh dirinya dengan tuduhan-tuduhan yang jelek, tuduhan yang menyudutkan dirinya dan mengangkat darinya rasa percaya diri, meskipun pada dasarnya ia telah jatuh dalam lembah kemaksiatan. Olehnya itu, Rasulullah Saw melarang seseorang memojokkan dirinya dengan mengatakan: “diriku buruk dan keji, tapi katakan: jiwaku telah mengeras.”([5])  Ini terlihat di hadits berikut:

 حَدَّثَنَا مُحَمّد بِنْ يُوْسُفُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِ e قَالَ: (لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي، وَلَكِنْ لِيَقُلْ لَقِسَتْ نَفْسِي). ([6])

Bahkan umat dianjurkan menyikapi mimpinya dengan sikap optimis, mereka diminta memuji Allah dan menceritakannya kepada siapa saja yang ia kehendaki, khususnya jika mimpi itu terlihat baik, di sisi lain, mimpi yang buruk hendaknya disembunyikan dan tidak diceritakan karena ia datang dari setan. Yang demikian itu demi menciptakan suasana nyaman, aman, dan damai di lingkungan sekitar, dan menjaga mereka dari prasangka-prasangka buruk yang tidak menentu. Tuntunan indah ini dituturkan hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بِنْ يُوْسُف، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، حَدّثَنِي اِبْنُ الهَادِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ خَبَّابٍ عَنْ أُبِيْ سَعِيْد الخُدْرِي: أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ e يَقُوْلُ: (إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رؤيا يُحِبُّهَا فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ اللهِ، فَلْيَحْمَدِ اللهَ عَلَيْهَا، وَلْيُحَدِّثْ بِهَا، وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلاَ يَذْكُرْهَا لأَحَدٍ، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ).([7])

Lebih dari itu, umat dianjurkan mengingat dan menyebut sanak keluarga mereka yang telah kembali ke rahmat Allah dalam kebaikan. Yang demikian itu harapan dan doa tersendiri terhadap mereka dari azab kubur dan pemompa semangat kepada siapa saja yang mendengarkan sifat-sifat baik tersebut untuk meniru dan mengikuti jejak mereka. Sikap optimis seperti ini dicontohkan sunnah berikut:

حدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مَنْصُورِ بْنِ صَفِيَّةَ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: (لاَ تَذْكُرُوا مَوْتَاكُمْ إِلاَّ بِخَيْرِ). ([8])

Hematnya, para pecinta sunnah diajak menjalani hidup ini dengan penuh optimis, percaya diri, dan berprasangka baik terhadap Allah SWT. Yang demikian itu karena tidak ada satu pun dari ketentuan Allah kecuali punya faedah, disadari atau tidak, bahkan yang terlihat buruk pun jika ditelaah lebih dalam lagi ia ternyata membiaskan hikmah dan petuah bijak. Yang optimis dari mereka langit-langit terasa cerah, meski muka dirundung duka, dan yang pesimis dari mereka merasa rapuh tertimpa atap, melihat dunia dan isinya seperti binatang buas yang mengerikan, kehilangan cita rasa dan semangat hidup, yang manis terasa pahit dan sebaliknya, meski ia bergelimang kesenangan. Olehnya itu, berprasangka baiklah kepada Allah dari sekarang jika Anda ingin mengikuti Nabi Saw dari pintu sunnah ini!



([1])   Hadits riwayat Abu Hurairah R.A di Shahih Imam Bukhari, kitab at-Tauhid, bab Qawlihi: (يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ), hadits. no: 7505, hlm. 2029  

([2])   Hadits riwayat Abu Wahab al-Jasyami R.A di Sunan Imam Abi Daud, kitab al-Adab, bab fi Taghyir al-Asmâ’, hadits. no: 4950, hlm. 895

([3])   Hadits riwayat Said bin al-Musayyab R.A di Shahih Imam Bukhari, kitab al-Adab, bab Tahwil al-Ismi ila Ismin Ahsan minhu, hadits. no: 6193, hlm. 1679

([4])   Hadits riwayat Samurah bin Jundub R.A di Sunan Imam Abi Daud, Kitab al-Adab, bab fi Taghyir al-Ismi al-Qabih, hadits. no: 4958, hlm. 896, dan untuk mengetahui lebih lanjut makna hadits ini lihat: Syarhu as-Sunnah, vol. 12, hlm. 338   

([5])   Karena keji dan buruk itu (al-Khubsu, الْخُبْثُ) hanya tepat disandang oleh orang-orang fasik. Lihat Syarhu an-Nawawi ala Shahih Imam Muslim, vol. 15, hlm. 8  

([6])   Hadits riwayat Sayyidah Aisyah R.A di Shahih Imam Bukhari, Kitab al-Adab, bab la Yaqul Khabusat Nafsi, hadits. no: 6179, hlm. 1676

([7])   Hadits riwayat Abu Said al-Khudriyyi R.A di Shahih Imam Bukhari, Kitab at-Ta’bir, bab ar-Ru’yâ min Allah, hadits. no: 6984, hlm. 1890

([8])   Hadits riwayat Aisyah R.A di Mushannaf Ibn Abi Syaebah, Kitab al-Janâiz, bab Ma Qâlu fi Sabbil Mauta wa Ma Kuriha min Dzalik, hadits. no: 12104, vol. 4, hlm. 600

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Kilang Minyak

Rofi Munawar: Dua Tahun Jokowi-JK, Sektor ESDM Belum Capai Progres yang Memuaskan

Organization