04:09 - Minggu, 26 Oktober 2014

Ikhlas: Di Kala Lapang dan Sempit, Di Saat Terang-terangan dan Sembunyi

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Ahmad Mulyono - 09/12/12 | 12:30 | 25 Muharram 1434 H

Bismillahirrohmanirrohim

 

Ilustrasi (desktopnexus.com)

dakwatuna.com – Alhamdulillahirobbil ‘Alamin. Ash-sholatu wa salam ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi ajma’in.

Ikhlas, memurnikan ketaatan, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beramal adalah suatu perkara yang penting bagi setiap mukmin. Tidak akan diterima amal perbuatan seorang hamba, hingga ia benar-benar ikhlas, menjadikan Allah sebagai tujuannya dalam beramal, Rasulullah SAW menjelaskan di dalam sebuah riwayat bahwa “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang murni, yang dilakukan hanya untuk-Nya” (HR. Nasa’i)

Ikhlas juga merupakan suatu perkara yang besar, yang menunjukkan kualitas ketauhidan seorang hamba kepada Allah, Al-Ahad. Di dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 Allah SWT berfirman:

“Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa ini adalah kaidah bagi agama Allah secara mutlak, aqidah yang murni di dalam hati, beribadah hanya kepada Ilahi, dan menerjemahkan aqidah ini dengan melakukan shalat dan menunaikan zakat. (Tafsir Fii Zhilalil Qur’an)

Orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, sehingga ia beramal bukan ditujukan untuk Allah semata, namun kepada sesuatu yang sifatnya lemah, fana, yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudharat kepadanya, seperti beramal karena ingin mendapat sanjungan manusia, atau karena dunia yang dikehendaki. Maka, sesungguhnya tauhid mereka kepada Allah bermasalah. Telah tumbuh benih syirik di dalam hatinya, yakni dalam bentuk riya ketika beramal.

Dalam hadits Rasulullah bersabda: Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadapmu ialah syirik kecil, lalu ditanya oleh sahabat, apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Kemudian baginda bersabda: itulah riya’. (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Lalu, bagaimanakah ikhlas itu? Bagaimanakah petunjuk Allah tentang keikhlasan?

Di antara kita mungkin pernah mendengar analogi tentang ikhlas dari teman, saudara atau para ustadz yang kurang luas pemahamannya, di mana mereka menganalogikan perkara ikhlas yang penting ini sama halnya dengan perkara ketika buang air.  Mereka mengatakan ketika kita buang air, pasti kita tidak ingin melihat atau memperhatikan apa yang keluar dari saluran pembuangan kita. Begitulah ikhlas, ketika kita sudah melakukan amal tidak usah kita perhatikan dan ingat-ingat lagi.

Menurut saya, menganalogikan ikhlas dengan perkara ketika kita buang air adalah kurang tepat, dan tidak patut untuk disampaikan, karena ada penjelasan yang lebih shahih tentang itu, yang bisa kita dapati di dalam kitab yang penuh petunjuk, Al-Qur’an Al-Karim. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, termasuk petunjuk tentang bagaimana menjelaskan suatu perkara agama. Di samping itu, ketika kita melakukan sebuah amal, kita bukanlah sedang mengeluarkan kotoran, tetapi kita sedang menanam kebaikan.

Dari sekian banyak petunjuk yang Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an terkait dengan Ikhlas, pada kesempatan ini akan kita bahas sebagiannya saja.

Petunjuk pertama kita dapati di dalam surat Luqman ayat 32, di mana Allah SWT berfirman:

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus (mengakui keesaan Allah). Adapun yang mengingkari ayat-ayat kami adalah pengkhianat yang tidak berterima kasih.”

Ketika kita mentadabburi ayat di atas, maka akan kita dapati sebuah petunjuk bahwa Ikhlas adalah suatu kondisi di mana kita mampu istiqamah dalam amal, baik di kala lapang maupun sempit, di saat kita dianugerahi banyak kenikmatan dan juga di saat kita ditimpa ujian.

Ayat di atas adalah sebuah gambaran tentang orang-orang yang ditimpa ujian, lalu mereka menyeru, berdoa kepada Allah dengan ikhlas. Namun apa yang mereka lakukan itu sesungguhnya tidaklah dilandasi atas keikhlasan, melainkan karena kondisi mereka yang terjepit, lalu mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali Allah SWT. Sehingga mereka pun segera berdoa agar Allah tidak menimpakan mudharat kepada mereka. Bukti bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah dilandasi atas dasar keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, hanya sebagian kecil saja yang tetap dalam jalan yang lurus, sedangkan sebagian besarnya kembali kepada pengingkaran serta pengkhianatan atas nikmat Allah SWT.

Di dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:

“Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imron: 134)

Dari ayat di atas bisa kita pahami bahwa Allah menginginkan kita untuk tetap istiqamah dalam amal, baik di waktu lapang maupun sempit. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa ada taqwa di dalam hati, yang di mana pada ayat lain Allah menggunakan kata taqwa ini untuk menjelaskan makna ikhlas.

“Daging dan darah (sembelihan kurban) tidak akan sampai kepada Allah, tapi sikap takwa darimu-lah yang akan sampai kepada-Nya” (Al-Hajj: 37)

Makna takwa pada ayat di atas adalah ikhlas, sebagaimana di dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa sesungguhnya dahulu di masa jahiliyah, jika mereka menyembelih binatang untuk ilah-ilah mereka, mereka meletakkan daging kurban dan melumurkan darahnya kepada berhala-berhala tersebut. Maka Allah Ta’ala berfirman “Daging dan darah (sembelihan kurban) tidak akan sampai kepada Allah (tidak mencapai keridhaan Allah).” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, bahwa Ibnu Juraij berkata “Dahulu, penduduk jahiliyah melumurkan daging dan darah kurban ke Baitullah” Lalu para sahabat berkata “Kami lebih berhak melumurkannya” Maka Allah menurunkan ayat ini.

Dari penjelasan di atas nampak jelas bahwa makna takwa yang Allah gunakan pada surat Al-Hajj ayat 37 di atas adalah keikhlasan.

Petunjuk kedua kita dapati penjelasan ikhlas ini di dalam surat Al-Baqarah ayat 274, di mana Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Tadabbur kita pada ayat di atas akan menghadirkan sebuah pemahaman bahwa ikhlas adalah suatu kondisi di mana kita mampu istiqamah dalam amal, baik secara sembunyi atau terang-terangan, baik ketika luput dari perhatian manusia, maupun mendapat perhatian mereka. Tiada satu keadaan pun yang mampu menghambat kita untuk beramal, baik di siang ataupun malam hari.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Jubair dari ayahnya yang mengatakan bahwa Ali RA mempunyai uang empat dirham, lalu ia menafkahkan satu dirham darinya di malam hari, satu dirham lainnya pada siang harinya, dan satu dirham lagi dengan sembunyi-sembunyi, sedangkan dirham terakhir ia nafkahkan secara terang-terangan. Maka turunlah ayat di atas. (Tafsir Ibnu Katsir)

Begitulah teladan yang dicontohkan dari sahabat mulia Ali RA, keistiqamahannya dalam berinfak baik secara sembunyi atau terang-terangan mendatangkan ajr (balasan) dari Allah SWT.

Janganlah kita seperti orang munafik, yang tidak pernah diterima amal mereka oleh Allah SWT. Ketika siang hari, di saat mendapatkan perhatian kaum mukmin, mereka berkumpul bersama kaum mukminin, menampakkan amal mereka,  shalat berjamaah bersama mereka. Namun ketika malam hari tiba, di saat perhatian itu hilang, mereka menunjukkan lagi kemunafikannya. Menampakkan kembali jati diri mereka bahwa sebenarnya mereka sangat malas untuk beramal.

Rasulullah SAW bersabda: “Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari)

Dua waktu shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah ketika Isya’ dan subuh. Pada dua waktu tersebut mereka enggan sekali mendatangi masjid untuk shalat jamaah bersama kaum mukmin, hal ini disebabkan karena di waktu-waktu tersebut mereka luput dari perhatian kaum mukmin, selain itu juga disebabkan karena mereka tidak pernah beramal secara ikhlas kepada Allah. Jikalau mereka benar-benar ikhlas dalam setiap amalnya, niscaya Allah pun akan memudahkan mereka melaksanakan amal tersebut di waktu-waktu yang lain.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan, sebuah penjelasan tentang keikhlasan yang diambil dari petunjuk Allah di dalam Al-Qur’an. Keikhlasan itu Nampak ketika kita mampu istiqamah dalam amal baik di kala lapang maupun sempit, di saat terang-terangan maupun tersembunyi. Wallahu A’lam bish Showab.

Tentang Ahmad Mulyono

Pengurus Yayasan Telaga Insan Beriman, lembaga yang berkhidmat kepada ummat di bidang Sosial, Dakwah dan Pendidikan dan administrator www.alimancenter.com. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 5,50 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
117 queries in 1,986 seconds.