Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Sang Pemusar Gelombang

Sang Pemusar Gelombang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Sang Pemusar Gelombang

Penulis: M. Irfan Hidayatullah

Editor : Feri M. Syukur dan Topik Mulyana

Penerbit : Salamadani, Bandung.

Tahun Terbit : Juli, 2012

Jumlah Halaman : 502 halaman

ISBN :  978-602-84-5895-5

Cafe: Di sinilah Dakwah Dimulai

Cover buku “Sang Pemusar Gelombang”.

dakwatuna.com – Kematian dan pembunuh Hasan Al-Banna masih misteri. Dalam sejarahnya, Hasan Al-Banna adalah seorang taat beragama dan bervisi misi Islam yang kuat. Dia juga gemar berdakwah. Anehnya, tak seperti juru dakwah lain yang lazimnya melakukan dakwah di masjid. Dia mendobrak dengan kebiasaan baru dengan memulai dakwahnya dari warung kopi (cafe) ke warung kopi lainnya. Banyak yang simpati dan mendengarkan apa yang dia sampaikan namun tak sedikit pula yang acuh dan melawan apa yang dia dakwahkan. Dari warung kopi inilah sebuah Gerakan Islam yang kini memiliki pengikut paling banyak di dunia, Ikhwanul Muslimin.

Fenomenalnya gerakan yang Hasan Al-Banna pimpin dari dulu bahkan sampai dia telah meninggal, mungkin itu salah satu daya tarik M. Irfan Hidayatullah menulis sebuah novel Sang Pemusar Gelombang. Awalnya saya mengira novel ini tidak jauh beda dengan novel-novel tentang tokoh lainnya, mengisahkan sejarah tokoh tersebut secara langsung seperti novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral atau novel Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan karya Tasaro GK yang menceritakan sejarah Nabi Muhammad dengan tambahan fiksi di tempat lain tapi di waktu yang sama.

Namun, ternyata perkiraan saya meleset. Novel ini ternyata menceritakan kisah fiksi sepak terjang orang-orang yang terinspirasi pemikiran Hasan Al-Banna. Hasan Al-Banna anak sosialis yang mencari jati diri hingga menemukan catatan bapaknya (Rosid) yang pejuang dakwah di desanya dulu dan misteri kenapa ia dinamakan Hasan Al-Banna. Randy anak keluarga kaya raya yang moderat, namun berubah drastis perilaku lamanya yang suka foya-foya menjadi lebih islami dan terjaga setelah mengenal aktivitas dakwah di kampusnya. Cikal, vokalis band terkenal The Soul, merubah jejak hidupnya karena seorang wanita yang dia sebut “Najwa”. Najwa bernama asli Maryam, seorang akhwat (sebutan perempuan aktivis dakwah) yang shalihah juga cantik jelita. Tak sedikit dari para ikhwan (sebutan lelaki) tertarik padanya, termasuk sang ketua Randy dan juga Cikal yang berubah karenanya.

Sejatinya novel ini menceritakan sejarah sebuah pergerakan pemikiran yang berat. Namun, berkat kepiawaian penulisnya yang juga mantan ketua Forum Lingkar Pena ini dalam meramu sejarah, roman, intrik dan konflik, novel ini menjadi renyah dan menarik ketegangan serta rasa penasaran pembaca dalam novel setebal 502 halaman ini. Sebagai pencerahan, novel layak dibaca siapa saja. Karena pembaca akan tahu siapa Hasan Al-Banna sebenarnya tanpa membaca buku pemikirannya yang berat.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Rasyid Ridho
Alumni Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Anggota Forum Lingkar Pena. Pendiri Klub Pecinta Buku Booklicious. Anggota Bondowoso Writing Club. Fulltime writer.

Lihat Juga

Ustadz Ruslan Effendi (kiri) bersama Ustadz RahmatAbdullah (kanan). (IST)

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia