Home / Berita / Opini / Masjid

Masjid

 

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik pikiran saya dilontarkan oleh mantan Wakil Presiden RI HM. Yusuf Kalla saat melantik Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat di auditorium gubernuran pekan lalu.  Pertanyaannya adalah kenapa mall ramai setiap hari, sementara masjid sepi, atau kalau ramai paling di waktu-waktu tertentu saja?

Jawabannya sederhana saja, mall menawarkan jasa one stop service, satu tempat menawarkan berbagai fungsi dan kebutuhan. Survei membuktikan bahwa hanya 20 persen saja pengunjung mall datang khusus untuk belanja. Selebihnya mereka datang untuk kepentingan lain, seperti bertemu seseorang/relasi, makan dan ngopi atau sekadar rekreasi dan cuci mata (window shopping). Suasana mall juga diciptakan sedemikian rupa sehingga nyaman, menyenangkan dan bersih, sehingga pengunjungnya ramai, betah di sana dan akhirnya belanja juga.

Idealnya masjid juga memakai konsep demikian, tidak hanya untuk satu kebutuhan saja, tapi juga multi fungsi (one stop service) dan juga perlu diciptakan suasana senyaman mungkin.  Jika di tempat lain, orang melakukan perjanjian atau perundingan bisnis di mall, seharusnya hal serupa juga bisa dilakukan di masjid. Jika selama ini masyarakat melakukan seminar dan diskusi di hotel, bukan tidak mungkin juga bisa dilakukan di masjid. Begitu juga dengan acara lain, seperti pernikahan, syukuran dan sebagainya, bisa dilakukan di masjid. Masjid tidak hanya berfungsi tunggal sebagai tempat shalat, tetapi juga untuk kemaslahatan umat.

Di sejumlah tempat fungsi-fungsi tersebut telah diterapkan, sebagian kecil penduduk telah menjadikan masjid sebagai tempat acara pernikahan sehingga nuansa keagamaannya lebih terasa. Di sejumlah tempat, masjid juga telah dilengkapi dengan pustaka, tempat berdiskusi, bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Di sejumlah tempat, selain memiliki TPA dan MDA, masjid juga memiliki tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dengan demikian anak terbiasa dengan suasana masjid sejak usia dini.

Namun fungsi-fungsi tersebut belum optimal, masih dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat saja. Kegiatan ini masih bisa ditingkatkan lagi, sebagai salah satu cara memakmurkan masjid.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentu saja fasilitas masjid perlu dilengkapi, manajemen masjid juga perlu dibenahi. Kebersihan juga menjadi hal yang sangat penting, karena dalam Islam sendiri jelas-jelas diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Tentu saja masalah kebersihan bukan tanggungjawab pengurus masjid saja, tetapi tanggung bersama.

Satu hal lagi yang penting diperhatikan menurut Pak Yusuf Kalla (JK) adalah masjid bisa memberikan dampak ekonomis terhadap lingkungan sekitarnya. Masjid bisa menjadi makmur, bersih dan lengkap fasilitasnya karena didukung oleh masyarakat sekitarnya yang mempunyai kehidupan ekonomi yang cukup kuat pula. Masjid jika memiliki lembaga keuangan yang baik, tentu bisa membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitarnya. Pak JK telah mengajak sejumlah Bank Syariah untuk mendirikan kantornya di masjid. Sejumlah bank menyatakan setuju dan Insya Allah dalam waktu dekat sejumlah Bank Syariah akan berkantor di masjid.

Saya sepakat dengan pendapat Pak JK, fungsi masjid memang harus dikembangkan dan dimaksimalkan. Apa yang dimaksud dengan Islamic Center harus bisa diwujudkan. Masjid harus dijadikan pusat kegiatan umat Islam, baik untuk kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan maupun kegiatan ekonomi. Saya sendiri sudah lama berniat dan mengumumkan akan juga berkantor di Masjid Raya Sumbar. Pendekatan keagamaan, baik dalam pemerintahan, kebudayaan maupun ekonomi kemasyarakatan adalah pilihan terbaik yang telah terbukti keampuhannya.

Mari kita makmurkan masjid kita dan kita benahi manajemennya, kedekatan masyarakat dengan masjid (surau) telah menjadi jati diri masyarakat Minangkabau sejak dulu.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi. M.Sc
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar).

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Wakaf Sebagai Solusi Pengembangan Infrastruktur di Indonesia