Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kenali Karakter Suami

Kenali Karakter Suami

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com Seorang suami berkata kepada temannya: Sudah dua puluh tahun berumah tangga aku belum pernah melihat pada istriku sesuatu yang membuatku marah.

Sambil terkejut temannya itu bertanya: Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Ia berkata: Sejak malam pertama aku bertemu istriku, aku mendatanginya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata: “Sabar dulu wahai Abu Umayyah, tunggu sejenak.”

Kemudian ia berkata: “Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah… sesungguhnya aku adalah wanita yang asing bagi dirimu, aku tidak tahu karaktermu. Jelaskanlah kepadaku apa saja yang engkau sukai sehingga aku bisa melakukannya dan apa saja yang engkau benci sehingga aku dapat meninggalkannya.”

Kemudian ia katakan: “Aku katakan ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.”

Ia melanjutkan ceritanya kepada temannya: “Demi Allah ia memaksa diriku untuk berbicara pada saat itu maka aku pun berkata: “Segala puji hanya bagi Allah, aku bershalawat dan mengucapkan salam atas nabiNya dan atas keluarga beliau, wa ba’du. Sesungguhnya engkau telah mengucapkan sebuah perkataan jika engkau teguh memegangnya maka itu akan menjadi keberuntunganmu. Dan bila engkau tinggalkan akan menjadi hujjah yang menghujat dirimu. Sesungguhnya aku suka ini dan ini… dan aku membenci ini dan ini… apabila engkau melihat kebaikan, maka sebarkanlah dan apabila engkau melihat keburukan, maka tutuplah.

Istrinya bertanya:”Apakah engkau menyukai kunjungan sanak familiku?”

Si suami menjawab: “Aku tidak suka dibuat bosan oleh mertua dan iparku (yakni ia tidak suka mereka sering mengunjunginya).”

Istrinya bertanya: “Siapakah tetangga yang engkau suka masuk ke dalam rumahmu sehingga aku memberinya izin dan siapakah yang tidak engkau sukai?”

Aku (si suami) menjawab: “Bani Fulan A adalah orang-orang shalih sedangkan bani Fulan B adalah orang-orang yang buruk.”

Lalu ia (si suami) berkata kepada temannya” “Maka aku pun melewati malam yang paling nikmat bersamanya. Satu tahun aku hidup bersamanya tidak pernah aku melihat apa-apa yang tidak aku sukai. Sehingga permulaan pada tahun kedua ketika aku pulang dari kerjaku, ternyata aku dapati ibu mertuaku di rumahku.

Ibu mertuaku bertanya kepadaku: “Bagaimana pandanganmu tentang istrimu?”

Aku menjawab: “Sebaik-baik istri”

Ia berkata: “Wahai Abu Umayyah, demi Allah tidaklah seorang lelaki mendapatkan yang lebih buruk dalam rumahnya daripada wanita yang manja. Bimbing dan didiklah ia menurut kehendakmu.”

Si suami berkata: “Ia hidup bersamaku selama dua puluh tahun dan aku tidak pernah menghardiknya karena masalah apa pun kecuali sekali, dan itupun karena aku yang menzhaliminya.”

Saudaraku… Betapa bahagia hidup seperti itu. Dan saya tidak tahu, ke mana rasa takjub harus diarahkan; takjub kepada si istri dengan ke-bijak-annya? Atau kepada si mertua dengan tarbiyahnya? Atau kepada si suami dengan hikmahnya?

Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 9,48 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Solo. Mahasiswa Mahad Aly An-Nuaimy, Jakarta.
  • Sri Fatimah

    Subhanalloh :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (Rosaria Indah)

7 Tahun Kedua: Menyelamatkan Pernikahan Dari Kebosanan