Home / Pemuda / Suara Rohis-OSIS / Gerakan #CintaRohis yang Hanya Sesaat

Gerakan #CintaRohis yang Hanya Sesaat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

(Muamar AS)

dakwatuna.com Hari itu, sebuah stasiun TV menayangkan pemberitaan tidak mengenakkan tentang Rohis. Ekstrakurikuler di sekolah yang sebagian besar kegiatannya di Masjid ini dituduh sebagai salah satu pengkaderan para teroris-teroris muda.

Tidak disangka, pemberitaan fitnah ini berujung panjang, stasiun TV tersebut menuai kemarahan banyak alumni Rohis. Berbagai kecaman dilontarkan, bahkan sms pengaduan ke KPI di-stop karena banyaknya yang masuk. Di dunia maya, Facebook penuh dengan status kecaman, twitter dengan berbagai kultwit dan hastag mendukung Rohis, blog-blog penuh tulisan argumentatif pembelaan. Semua Alumni Rohis dari seluruh Indonesia bahkan yang sedang di luar negeri pun seia sekata, sepakat membela Rohis, tempat dahulu mereka dibesarkan, ditempa, diajarkan tentang hikmah kehidupan.

Tuduhan tak berdasar ini menjadi bola salju panas menumbuhkan Gerakan #CintaRohis, semua alumni Rohis yang pernah merasakan betapa manisnya dakwah sekolah sepakat bahwa Rohis adalah tempat semua ‘cinta kehidupan’ saat ini berlangsung. Di mana pun berada, apa pun kondisinya, Rohis selalu menyimpan memori indah saat sekolah dahulu.

Aksi Gerakan #CintaRohis besar-besaran pun diadakan di beberapa kota, walau aksi ini dilakukan oleh para aktivis Rohis itu sendiri, tapi tak sedikit alumni yang hadir mendukung aksi ini, bahkan ikut membantu para aktivis Rohis ini dalam merancang aksinya. Tak sampai di situ, pertemuan-pertemuan dengan stasiun TV tersebut juga dilakukan. Hingga akhirnya stasiun TV tersebut minta maaf secara terbuka dan melakukan klarifikasinya.

Semua alumni Rohis tersenyum bahagia, ‘perang opini’ dengan stasiun TV tersebut akhirnya dimenangkan. Tempat semua kenangan indah ini tak lagi dituduh. Nama besar Rohis tetap terjaga dengan baik. Pelajaran bagi siapa pun yang ingin memfitnah ekstrakurikuler paling manis ini.

Namun, setelah senyum bahagia itu, semua alumni Rohis kembali pada aktivitasnya masing-masing.  Melupakan Rohis, dakwah sekolah. Tak sepenuhnya lupa, hanya menyimpan kenangan indah Rohis rapat-rapat, kemudian tak berbuat apa-apa untuk Rohisnya selanjutnya.

Tak salah, hanya saja amat disayangkan kalau cinta hanya sebatas itu. Sebatas amarah jika ‘almamater’ Rohis diinjak-injak. Sebatas luapan emosi sesaat. Padahal betapa banyak pujangga yang mengatakan jika cinta itu adalah kepedulian yang tinggi terhadap apa yang dicintainya.

Mungkin ada seribu alasan yang akan disodorkan. Tapi, cukupkah satu alasan cinta untuk peduli. Walau hanya bertemu sesekali. Walau hanya dengan menyisihkan sedikit rezeki. Walau hanya dengan sekadar menanyakan kabar.

Rohis, begitu manis kedengarannya, begitu cantik rangkaian kenangannya. Tak meminta untuk penuh mengisi mentoring, walau ada banyak yang tak ter-mentor-kan. Tak meminta untuk diajarkan tentang organisasi, walau ada banyak yang tak mengerti organisasi. Tak meminta untuk dibangunkan, walau banyak yang sedang jatuh. Mungkin hanya sedikit pertemuan, receh-receh rezeki, atau bahkan sekadar sms menanyakan kabar yang tulus.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 8,23 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aktivis kemanusiaan yang hobi membaca, menulis, dan travelling. Mengabdi di Bulan Sabit Merah Indonesia.

Lihat Juga

Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan