Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yuk, Berdakwah Yuuk…

Yuk, Berdakwah Yuuk…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sepintas lalu, judul di atas terkesan main-main seperti mengajak seorang anak kecil, ”Yuk, main yuuuk…” Percayalah, ia tidak bermaksud begitu. Sengaja judul ini dibuat dengan kalimat seperti itu untuk mengubah imej bahwa berdakwah itu berat, serius dan susah! Tidak jarang, seseorang enggan terjun berdakwah dikarenakan kesan awal bahwa berdakwah itu pekerjaan berat dan tidak menyenangkan.

Berdakwah itu menyenangkan, pesan itu harus cepat singgah ke dalam benak kita mengingat berdakwah itu adalah kewajiban. Ya, berdakwah itu adalah kewajiban setiap muslim. Tidak percaya? Cobalah buka-buka lembaran buku hadits dan di sana pasti akan kita jumpai kalimat yang sangat terkenal dari Rasulullah SAW yang isinya adalah….ballighuu ‘annii walaw aayah….yang maknanya adalah “sampaikan daripadaku walaupun hanya satu ayat”. Subhanallah, sabda Nabi ini sangat dalam maknanya. Islam adalah agama yang sempurna. Segala sesuatu ada aturan dan tata caranya di dalam Islam dan semuanya dicontohkan dan dijelaskan secara gamblang oleh Rasulullah SAW. Nah, kesempurnaan Islam itu ternyata diawali dengan kemampuan kita menyampaikan satu ayat saja dari Rasulullah SAW. Kewajiban tentunya lebih nikmat dilaksanakan jika kita melakukannya dengan perasaan menyenangkan. So, enjoy it!

Berdakwah itu menyenangkan, sebab ia adalah sebaik-baik profesi seorang muslim. Apapun jenis pekerjaan kita, jangan lupa bahwa kita adalah seorang dai. Mungkin ada yang mengernyitkan dahi dengan pernyataan ini. Bukannya dai itu Ustadz? Ulama? Kyai? Apa kita semua harus menjadi Ustadz? Berdakwah dan berceramah dari mimbar ke mimbar? Brother and sisters, kalau kita menyimak pernyataan sebelum ini bahwa menyampaikan risalah Nabi SAW adalah kewajiban setiap muslim maka pasti kita akan setuju bahwa dai adalah profesi setiap muslim. Nggak nunggu lulus pesantren atau IAIN sebab memang sudah kewajiban kita menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Nah, kalau bukan lulusan pesantren, bagaimana kita punya ilmu untuk disampaikan? Hal ini berkaitan erat dengan pesan Nabi kepada kita untuk senantiasa menuntut ilmu. Banyak riwayat mengenai hal ini. Rasulullah SAW berpesan kepada kita untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya sedari usia kecil sehingga maut menjemput. Bahkan tidak tanggung-tanggung, beliau memotivasi kita untuk menuntut ilmu hingga menyeberangi samudra menuju negeri-negeri yang jauh letaknya hingga ke Cina. Jadi, carilah ilmu agama itu dengan sungguh-sungguh. Beruntunglah di Indonesia majelis-majelis ilmu bertebaran di mana-mana, tinggal kita melangkahkan kaki dan hati ke dalamnya.

Benarlah kata Asy-syahid Hasan Al-Banna, ”Nahnu du’aat qabla kulla syay’in” yang maknanya, “Kita ini adalah para dai sebelum profesi apapun” So, tunggu apa lagi?

Berdakwah itu menyenangkan, karena ia melejitkan potensi diri. Tidak percaya? Coba saja!

Ketika kita menyampaikan risalah Nabi kepada masyarakat, akan kita jumpai permasalahan-permasalahan di dalamnya. Entah kemampuan diri yang masih kurang dalam menyampaikan, kurang percaya diri ataupun permasalahan yang dialami oleh objek dakwah kita. Kekurangan dan kendala ini memacu kita untuk menyelesaikannya. Kalau kurang ilmu, berarti ya harus lebih giat belajar lagi. Kalau kurang pede berarti harus sering-sering berlatih. Problematika yang dialami oleh objek dakwah kita akan membuat kita bersemangat mencari solusi terbaiknya. Tanpa sadar, kita yang dulunya pendiam dan pemalu ternyata fasih dan mampu menyampaikan kalam Ilahi dengan baik. Kita yang dulunya tak berani berbicara di depan orang banyak, Alhamdulillah dengan izin Allah mampu menerangkan maksud dari risalah Nabi. Seiring waktu dan perjalanan, dakwah ini mengasah kita menjadi pribadi-pribadi unggul. So, untuk apa menunda-nunda lagi?

Berdakwah itu menyenangkan, karena membuat kita jadi banyak saudara. Salah satu harta kekayaan yang tak ternilai adalah persahabatan dan persaudaraan. Terlebih lagi persahabatan dan persaudaraan karena Allah. Berjumpa dan berkomitmen berjuang bersama-sama di jalan Allah. Dan ini bukan persaudaraan semu karena ia diikat oleh sesuatu yang tak dapat diputuskan manusia, yaitu ikatan aqidah. Mungkin banyak orang yang memiliki jumlah kawan sampai lebih dari lima ribu orang. Mudah saja dengan add dan request friend di Facebook. Apa susahnya? Tinggal klik dan enter. Tapi apakah jenis pertemanan seperti itu yang kita inginkan? Dengan berdakwah, kita mengenal beragam jenis karakter orang. Dengannya pula kita bisa memastikan siapa-siapa saja yang bisa kita jadikan teman dan sahabat. Perjalanan dakwah akan menyaring pribadi-pribadi mana saja yang layak untuk kita ikat dengan persaudaraan. Dalam medan ini pula akan kita jumpai pribadi-pribadi mulia yang bisa kita jadikan sandaran karena nasihat dan pengalaman mereka sangat bermanfaat bagi kita. Orang-orang yang senantiasa membuat kita rindu bila berjauhan dan mesra bila berdekatan. Orang-orang yang Allah pertemukan untuk mengokohkan langkah kita di dalam perjuangan menegakkan kalimat-Nya. So, kapan lagi?

Berdakwah itu menyenangkan. Yuk, berdakwah yuuk….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Cara Rasulullah Mencegah Anak Muda Berzina