Home / Pemuda / Cerpen / Rahasia Dosa

Rahasia Dosa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Seakan dosa bisa dibersihkan oleh hujan. Zarfan masih saja berdiam diri di bawah derasnya limpahan air yang dilepaskan awan. Dia malah menyengaja menengadahkan wajah. Berandai-andai dosanya bisa dihapuskan dengan cara menyerah begitu saja didera serangan titik-titik hujan.

Sepuluh menit yang lalu, saat mulai turun hujan, dia beranjak dari tempat tidurnya. Seperti orang yang kesurupan, dari posisi berbaring dan mata yang terpejam, tiba-tiba saja dia berdiri dan langsung berlari. Berlari keluar kamar, kemudian menuruni anak tangga dengan langkah panjang-panjang. Ibunya yang sedang asik duduk sambil menonton infotainment cuma bisa mengerutkan kening melihat Zarfan melesat kilat melewati ruang tamu, lalu menghilang di balik pintu.

Senja digemuruhi gelegar petir, ketika pintu yang tadi dibuka Zarfan tertutup kembali. Membuat Ibunya bergerak dari depan televisi mendekati jendela di sisi pintu. Rasa khawatir merasuki hatinya. Kedua bola matanya bergerak-gerak menyusuri keberadaan anak semata wayangnya itu. Ibu Zarfan membalikkan badan dengan perasaan kecewa karena sudah tidak dapat lagi menyusul Zarfan dan bertanya ke mana gerangan anaknya itu hendak pergi dengan gelagat yang tidak biasa.

Sedari pagi Zarfan menampakkan wajah yang gelisah. Subuhnya hampir mendekati waktu Dhuha. Setelah itu dia menjatuhkan dirinya lagi ke atas tempat tidur. Berjam-jam kerjaannya hanya berdiam diri saja sambil memeluk bantal dan menjadikan guling sebagai bantal. Matanya terpejam, namun berkotak-kotak pikirannya tetap terbuka. Masing-masing kotak menyumbangkan satu kegalauan bagi jiwanya. Akhirnya kegalauan-kegalauan itu berkumpul membuat koloni untuk menguasai dirinya.

Selama separuh hidupnya, Zarfan menyimpan perasaan berdosa. Dia terus menerus menyesali perbuatannya. Di setiap hari yang berganti, dia berharap dirinya tidak akan mengulanginya lagi. Ketika sampai di pekan yang baru, dia berdoa supaya tidak ada noda yang sama seperti pekan yang telah lalu.

Begitu saja waktu berlalu. Hari terus berganti, pekan-pekan yang telah terlewatkan berubah menjadi bulan, dan bulan demi bulan tak pernah mau toleran untuk tak berubah menjadi tahun. Lima tahun lima bulan semenjak ditinggal pergi ayahnya untuk selamanya, Zarfan kehilangan tempat untuk bertanya tentang apa saja, tempat untuk membuka dirinya sebebas-bebasnya. Tidak ada lagi sesosok lelaki yang seratus persen dipercaya untuk bisa membimbingnya.

Zarfan merasa dirinya tidak menjadi lebih baik. Perasaan berdosanya justru semakin bertambah. Dia berpikir bahwa taubat yang dilakukannya belum dapat dikatakan taubatan nasuha. Seperti sebuah episode yang diputar ulang, antara kesalahan dan penyesalan terjadi lagi dan lagi.

Hujan sudah reda, kini Zarfan duduk di atas besi-besi berdiameter tujuh sentimeter yang disusun sedemikian rupa sehingga terpancang di sekitar taman komplek perumahan. Dia harus melewati lima blok dari rumahnya untuk dapat sampai di taman yang ditumbuhi pohon mangga itu. Tamannya tidak besar, namun cukup berfungsi sebagai tempat bersantai, berkumpul, beristirahat setelah jogging, berolah raga dengan berjalan di atas batu-batu refleksi, atau bisa juga dijadikan tempat menggalau seperti yang dilakukan oleh Zarfan.

Tubuh Zarfan yang basah kuyup cukup menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang di sekitar taman. Beberapa orang menatapnya dengan wajah keheranan, beberapa yang lain hanya menoleh tanpa berekspresi, dan ada juga yang mengomentari dengan bicara pada teman perjalanannya.

Sementara Zarfan sama sekali tidak menggubris keadaan di sekelilingnya. Dia masih merasa tubuhnya berlumuran dosa. Sepertinya guyuran hujan tidak berhasil membersihkan dosa-dosanya. Dia kebingungan, dengan apa lagi dia harus menghapus semua dosanya.

Sudah tiga tahun lamanya, Zarfan suka ikut mengaji di dalam lingkaran-lingkaran kecil. Di dalam lingkaran kecil itu, dia belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an, mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan keimanan dan ketakwaan, menyempurnakan keislamannya.

Sejak itu dia berazam untuk menghentikan perbuatan dosanya. Dia menyusun rencana kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas imannya. Dia menambah perbuatan-perbuatan baik agar dapat meringankan timbangan perbuatan buruknya.

Tragisnya, ternyata azam Zarfan tinggal nama saja. Azam hanyalah kata azam yang tidak bermakna di hidupnya. Dia tetap saja melakukan dosa di tengah kesadarannya bahwa perbuatan itu adalah dosa.

Sebenarnya Zarfan tidak sebegitu mudahnya menyerah pada kenyataan. Ketika melakukan dosa lagi, dia memberikan tanda merah pada kalender di atas meja di kamarnya dan menuliskan target untuk mengganti dosa dengan meningkatkan ibadahnya. Seperti waktu dia menemukan dirinya masih berbuat dosa, dia menugaskan dirinya untuk menambah ibadah shalatnya dengan shalat sunah sebelum subuh. Tugas itu berhasil dilaksanakannya hingga dia melakukan dosa lagi, kemudian dia menugaskan dirinya untuk menambah ibadah shalatnya dengan shalat sunah sebelum dan sesudah Zhuhur. Tugas itu berhasil dilaksanakannya hingga dia melakukan dosa lagi, kemudian dia menugaskan dirinya untuk menambah ibadah shalatnya dengan shalat sunah sesudah Maghrib. Tugas itu berhasil dilaksanakannya hingga dia melakukan dosa lagi, kemudian dia menugaskan dirinya untuk menambah ibadah shalatnya dengan shalat sunah sebelum dan sesudah Isya.

Akan tetapi, kenyataannya Zarfan masih melakukan dosa. Dia sudah terus berupaya untuk menghentikannya, selain dengan shalat rawatib, dia juga mengusahakannya dengan puasa sunah senin-kamis. Ternyata dia masih juga melakukan dosa, lalu dia menghukum dirinya dengan menginfaqkan uangnya untuk pembangunan masjid atau untuk kepentingan-kepentingan keagamaan, atau dengan mengerahkan dirinya untuk bangun di tengah malam untuk shalat tahajud.

Dengan tetap melakukan semua yang telah diupayakannya, realita pahitnya semalam Zarfan masih saja melakukan dosa. Perbuatan semalam membuatnya begitu tertekan hingga dia merasa kesulitan untuk melelapkan diri, dan dampaknya menjadikan perasaan tertekannya bertambah parah karena dia sangat terlambat mendirikan shalat subuh.

Dia merutuki dirinya sendiri. Dia sangat takut dilaknat Tuhan. Buah pikirannya bermacam-macam, bercabang ke mana-mana. Dia menyimpulkan bahwa semua yang telah dikerjakannya selama ini tidak bernilai apa-apa karena dosanya semalam. Dia pikir bahwa tidak seharusnya dia masih berbuat khilaf. Kekhilafannya semalam seakan-akan telah merusak keberhasilannya selama tiga bulan terakhir.

Sorot mata Zarfan menerawang ke depan. Sampai pada saat tatapan kosongnya terisi pemandangan seorang bocah bersepeda yang berhenti di sisi taman tepat di hadapan seekor kucing, pandangannya tak lagi mengabur. Dia bisa melihat ujung jari telunjuk dan ibu jari bocah itu memegang sesuatu. Dia memfokuskan penglihatannya pada sesuatu yang dibawa bocah itu yang kemudian diberikan pada seekor kucing yang sedang menggaruk-garuk badannya. Beberapa detik kemudian, dari jarak empat meter, dia melihat seekor kucing memakan seekor capung.

Setelah bocah yang membawakan makanan untuk seekor kucing itu pergi, pemandangan Zarfan beralih pada dua orang remaja laki-laki dan dua orang remaja perempuan yang berada di gazebo. Dua remaja lelaki itu menaikkan kakinya ke atas gazebo tanpa melepas alas kaki, duduknya di kayu yang bertopang di sisi-sisi gazebo sembari mengepulkan asap rokok. Sementara dua remaja perempuan yang memakai hotpent dan kaos yang ketat hanya duduk-duduk biasa sembari mengayun-ayunkan kaki jenjangnya.

Zarfan terusik dengan tingkah laku para remaja itu. Dia merasa perlu mendekati mereka. Baru saja dia hendak mengangkat badannya, seorang bapak sudah lebih dulu meneriaki mereka. Bapak itu meminta mereka untuk pergi dari taman itu. Bapak itu mengatakan kepada mereka bahwa tingkah laku mereka sangat tidak sopan dan remaja-remaja yang tidak bersopan santun seperti mereka tidak layak berada di sekitar taman karena mengganggu warga yang lain. Bapak itu menyuruh remaja lelaki untuk berhenti merokok dan menasihati remaja perempuan untuk memperbaiki pakaiannya dengan suara yang sangat keras sehingga para remaja tersebut menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berada di sekitar taman. Awalnya, para remaja itu bersikap acuh dan pongah. Seperti tidak mempedulikan sama sekali teriakan-teriakan bapak itu. Sampai bapak itu mengeluarkan suara yang lebih keras sambil bertolak pinggang, baru lah mereka bergerak menjauhi taman.

Zarfan miris menyaksikan kejadian tersebut. Dia punya cara lain untuk menyikapi tingkah laku remaja-remaja itu. Dia jadi teringat pada adik-adik kelas yang dibinanya. Meskipun tiga tahun yang lalu sudah menjadi alumni, dia masih tetap melibatkan dirinya dalam kegiatan pembinaan di ekstrakurikuler kerohanian Islam. Kegiatan ini pun dilakukannya dalam rangka mengurangi dosa-dosanya yang menggunung tinggi.

Saat itu lah Zarfan merasa masih bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki kekhilafannya. Dia masih memiliki pekerjaan besar dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Pekerjaan yang bisa dimulai dari hal yang sangat kecil seperti seorang bocah yang memberikan makanan pada seekor kucing. Dia juga masih harus membina remaja-remaja yang rentan terkena tipu daya dunia.

Semangat Zarfan untuk mengenyahkan dosa-dosanya timbul lagi. Dia berpikir untuk melakukan apa saja agar perasaan bersalahnya segera musnah. Dia harus mengevaluasi dirinya lebih serius lagi. Dia hitung-hitung lagi ibadah-ibadah apa saja yang sudah berkesinambungan dilakukannya, mengukur sejauh mana dia sudah mencapai sebuah keistiqamahan dalam mempersembahkan penghambaannya kepada Tuhan. Dia berazam lagi, bahwa dia tidak akan angkat tangan begitu saja pada dirinya sendiri yang dibisiki setan yang kerap kali menjerumuskan langkahnya ke dalam lubang dosa. Dia sangat menyadari musuh terbesarnya berada di dalam dirinya sendiri dan dia akan berjuang lagi untuk memenangkan nurani yang senantiasa menuntunnya kepada cahaya Ilahi. Akhirnya Zarfan menghembuskan napas lega serta mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, membulatkan tekad untuk mengganti lagi dosa kali ini dengan target kebaikan yang baru.

Dia celingak-celinguk ke segala arah mencari sesuatu yang bisa membantunya untuk menyalakan kembali cahaya di hati. Kemudian, saat dia melihat seorang nenek membawa belanjaan dari pasar komplek, dia bergegas menghampiri dan membawakan belanjaan nenek itu. Kebetulan nenek itu adalah nenek Karmi yang menjual gorengan di sekolah dasar Zarfan dulu. Zarfan sangat mengenalnya karena waktu kecil sering berutang gorengan pada nenek Karmi.

Nenek Karmi tertegun saat tiba-tiba saja Zarfan mengambil alih belanjaan di tangannya. Nenek tersenyum sebentar, lalu berubah mengerutkan keningnya yang keriput ketika tersadar pakaian yang dikenakan Zarfan kebasahan. Nenek Karmi dan Zarfan berlalu menuju tempat yang dituju. Nenek Karmi sesekali memukul Zarfan dengan amat sangat pelan, kemudian tertawa-tawa kecil menghadapi tingkah Zarfan.

Di dalam sebuah rumah di jalan angin puyuh blok I nomor 32 komplek angkatan udara Jakarta Utara, seorang ibu memasuki kamar anaknya. Ibu itu bermaksud untuk mereda kekhawatirannya. Ibu itu menyentuh benda-benda yang terletak di dalam kamar, seolah-olah meminta benda-benda itu bercerita tentang apa yang sedang dirasakan anak semata wayangnya. Seketika, perhatian ibu itu tertuju pada kalender yang ditaruh di atas meja. Diambilnya kalender 2012 itu dan ditemukannya banyak tanggal yang dilingkari pena berwarna merah: kemarin, 18 November; 18 Agustus; 19 Juni; 12 Mei; 1, 2, 28 April, 11, 20, 30, 31 Maret; 3, 4, 14, 15, 16, 25, 26, 27 Februari; 5, 8, 9, 13, 15, 21, 22, 23, 27, 29 Januari. Di pojok kanan kalender itu terdapat sebuah tulisan, “Sesungguhnya dibalik satu kekhilafan terkandung berjuta-juta kobaran api yang membakar jiwamu untuk lebih bersemangat lagi dalam memperbaiki diri karena yang terpenting dari kekhilafan adalah seberapa mampu kau memperbaiki kekhilafanmu, bukan seberapa dalam kau menyalahkan dirimu atas kekhilafan itu.” Setelah selesai membaca satu kalimat penyemangat itu, seketika pintu rumah terbuka dan suara seseorang yang sekarang menjadi satu-satunya orang yang paling disayang ibu itu bergema, “Assalamu’alaikum. Bu, Zarfan pulang.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

El 'Athifah adalah nama pena dari Eka Rachmawati, lahir di Jakarta tahun 1988. Anak bungsu dari pasangan Sofyan Ridwan dan Yati Rokhayati (almh). Penulis telah menyelesaikan kuliahnya di jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia dan saat ini menjadi konselor pendidikan di SMAIT Miftahul Khoir Bandung. Selama kuliah, penulis aktif dalam organisasi Pembinaan Anak Salman ITB Periode 2007; Dept. Kesejahteraan Sosial HMJ PPB Periode 2007; Bendahara Umum HMJ PPB Periode 2008; Ketua Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) PPB Periode 2009; Dept. Keuangan BEM REMA UPI Periode 2009. Penulis juga pernah mendapatkan Juara ke-2 Lomba Cerpen GRAFIKA UPI 2010 dan dua cerpennya yang berjudul Nota Cinta dan Bersandar pada-Mu terdapat di dalam buku antologi Pelangi dari Surga dan Kita Kata Cinta.

Lihat Juga

Innalillahi, Ibunda Aher Meninggal Dunia