Home / Berita / Opini / Menghapuskan Golongan, Menyatukan Islam?

Menghapuskan Golongan, Menyatukan Islam?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Akhir zaman merupakan sebuah keniscayaan untuk menyebut masa kini. Berbagai huru-hara yang menjadi pertanda mengenai dekatnya hari akhir memaksa kita untuk tetap waspada. Berbagai makar dilakukan untuk menghancurkan agama yang terjaga, walaupun berimplikasi pada semakin banyaknya kuantitas umat. Yang mengherankan, justru dengan semakin banyaknya kuantitas umat Islam, kualitas keislaman yang dimiliki umat semakin menyurut.

Jika pada masa lalu umat Islam mampu memegang peradaban, saat ini umat Islam yang dipegang oleh peradaban. Bukan karena jumlah umat Islam yang sedikit, karena saat ini jumlah umat Islam jauh lebih banyak dari beberapa tahun silam. Akan tetapi karena semangat untuk memperjuangkan agama ini semakin lemah.

Akhir-akhir ini juga semakin banyak lahir para pemikir Islam yang membawa sebagian umat ini kepada golongan-golongan. Para pemikir ini sudah memberikan sumbangsih yang cukup besar terhadap perubahan pola pikir umat Islam, hadirnya golongan-golongan baru yang ingin membawa Islam ini menuju “kaffah” juga tidak bisa disalahkan, tapi adu domba dari pihak Barat yang ingin umat Islam ini tidak pernah bersatu, juga kita yang dengan mudah terprovokasi dengan permainan mereka.

Sangat jelas bahwa musuh-musuh Allah akan selalu menggunakan segala macam cara untuk membungkam agama ini, bahkan tidak segan untuk membumihanguskan. Hal yang paling utama untuk mereka cegah adalah bersatunya umat Islam dalam sebuah panji yang kokoh. Mereka tidak memperdaya kita dengan sesuatu yang sangat jelas merusak, yang mereka lakukan hanya dengan menebar propaganda di dalam tubuh umat Islam untuk saling memusuhi. Ragamnya pemikiran umat Islam dijadikan senjata ampuh bagi mereka untuk melancarkan makar ini. Dengan menanamkan rasa benci dan fanatisme berlebihan terhadap pemikiran yang mereka gunakan, serta menyesuaikan materi untuk dijadikan bahan serangan terhadap golongan lain.

Saat ini mudah bagi kita untuk meneriakkan jargon toleransi, pluralisme, serta istilah lain yang lahir dari Barat. Padahal implementasi dari istilah ini telah lebih dahulu diterapkan oleh Rasulullah. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam hal toleransi jauh lebih mulia dari perlakuan para orientalis Barat yang selalu meneriakkan jargon pluralisme. Dalam bersosialisasi, Rasulullah tidak pernah menjauhi mereka yang berbeda keyakinan, juga tidak pernah menyepelekan hak mereka setitikpun. Hal ini berjalan begitu sempurna dan diikuti oleh para sahabatnya.

Dalam sebuah cerita, seorang Gubernur Mesir, Amr bin Ash ingin membangun sebuah masjid megah nan mewah di samping istananya. Akan tetapi impian itu terhalang oleh sebidang tanah kecil milik seorang Yahudi. Amr bin Ash memaksa Yahudi itu untuk membebaskan tanahnya dengan harga berkali lipat, namun Yahudi itu tetap tidak mau. Lalu dengan kekuasaannya, Amr bin Ash memerintahkan untuk membongkar paksa tanah tersebut. Merasa kecewa, Yahudi itu pergi mengadu kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Sesampainya di sana, ia hanya diberikan sepotong tulang yang telah digoreskan pedang, dan kemudian ia pulang untuk memberikan tulang itu kepada Amr bin Ash. Pada saat itu pula Amr bin Ash merasa sangat bersalah dan bersedia mengembalikan tanah miliknya serta memberikan penghormatan terhadap beliau.

Sebuah keadilan yang berbalut toleransi dalam bersikap telah ditunjukkan sekitar 14 abad yang lalu. Lucunya, umat Islam saat ini begitu mudah menyuarakan pluralisme terhadap agama lain, namun saling serang antar golongan Islam. Perang urat syaraf sampai kontak fisik sudah menjadi hal lazim di antara aktivis golongan-golongan Islam.

Sejatinya, setiap golongan mewakili satu sisi dari perwajahan Islam. Dengan begitu, ketika setiap golongan disatukan maka perwajahan Islam akan lengkap dan terbentuk Islam yang “kaffah”.

Dominasi Barat yang terasa sangat mendekap membuat kita tidak punya pilihan lain kecuali tunduk terhadap mereka. Maka, salah satu jalan keluar untuk lepas dari masalah ini, umat Islam harus bisa menciptakan pengaruh yang kuat. Pengaruh ini hanya bisa muncul jika umat Islam mampu bersatu dalam sebuah irama yang padu. Bukan lagi saatnya mempermasalahkan 73 golongan, tapi bagaimana cara mempersatukan setiap golongan. Sudah saatnya bagi umat Islam untuk mengambil alih kembali tanggung jawab yang diberikan kepada penghuni bumi.

Dan inilah permasalahannya, ketika umat Islam tidak berani mengambil kendali untuk mengatasi semrawutnya kondisi dalam tatanan kehidupan masyarakat, dengan berdalih “seorang Muslim tidak boleh meminta amanah” justru semakin membiarkan dominasi Barat masuk ke dalam relung kehidupan umat Islam. Melalui politik, ekonomi, media massa, dll. Dengan begitu, seorang pemimpin dalam Islam dianjurkan untuk menguasai multi dimensi kehidupan masyarakat, bukan hanya ditinjau dari aspek keagamaan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdullah Mujaddidi
Pengamat dan penikmat media. Media dan Opini BEM FEB UGM.

Lihat Juga

Austria Larang Pembagian Al-Quran