Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Beberapa Kebiasaan Kecil yang Dapat Menguatkan Keharmonisan Keluarga

Beberapa Kebiasaan Kecil yang Dapat Menguatkan Keharmonisan Keluarga

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Cinta dan kasih sayang antara suami dan istri bersifat fluktuatif. Kadang tampak demikian kuat, namun pada kesempatan yang lain bisa mengalami pelemahan. Ada banyak faktor dan variabel yang membuat suasana fluktuasi tersebut, baik yang datang dari kondisi jiwa suami dan istri, atau datang dari luar rumah. Perasaan cinta dan kasih sayang sesungguhnya memerlukan proses penjagaan yang rutin.

Sesungguhnyalah kehidupan keluarga tidak hanya diikat oleh hal-hal besar, seperti iman, visi, motivasi, program, cita-cita, orientasi dan seterusnya. Namun dalam realitas keseharian, ikatan cinta kasih antara suami, istri dan anak-anak sering kali lebih kuat diikat oleh hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan hati. Kebiasaan ringan dan kecil seperti ini pada kenyataannya lebih bercorak praktis dan mudah dirasakan dan dilihat oleh pasangan.

Ada sangat banyak kebiasaan kecil dan sederhana, yang apabila dilakukan dengan ketulusan hati, akan mampu menjaga dan menyuburkan cinta kasih antara suami dan istri. Di antara kebiasaan kecil tersebut adalah:

1. Mengobrol bersama pasangan

Mengobrol adalah aktivitas yang sederhana dan sangat mudah dilakukan. Jangan menyepelekan obrolan bersama pasangan. Mengobrol bisa mengurangi ketegangan jiwa, dan membuat suasana kelembutan hati. Berbagai tumpukan permasalahan akan terurai dan endapan perasaan yang menggumpal di dada, akan terurai dan melarut dalam suasana obrolan yang nyaman.

Jangan berpikir tema. Mengobrol bersama pasangan itu tidak harus dibatasi tema tertentu dengan waktu tertentu. Bisa berbicara tentang tema apapun dan dengan waktu kapanpun yang dimiliki. Bahkan untuk pasangan yang super sibuk, mereka tetap memerlukan aktivitas mengobrol, kapanpun dan di manapun. Tidak boleh menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan mengobrol.

Bagi pasangan yang super sibuk, bisa menyepakati waktu tertentu untuk bisa bertemu fisik dan mengobrol bersama pasangan. Mungkin saja tengah malam, mungkin pula menjelang subuh. Suami dan istri harus menyediakan waktu dan kesempatan yang memadai untuk bisa mengobrol berdua. Tidak cukup melalui telepon, SMS, BBM, email dan teknologi lainnya. Mengobrol dan bertemu langsung adalah sebuah kebutuhan psikologis bagi suami dan istri. Maka mengobrol harus dijadikan sebagai kebiasaan yang mengasyikkan dan dirindukan.

2. Sentuhan fisik yang ringan dan lembut

Sentuhan fisik yang ringan dan lembut bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Misalnya, ketika berboncengan naik motor, sangat nyaman ketika istri memeluk suami dari belakang. Ketika mengendarai mobil berdua, istri bisa menyentuh dengan lembut tangan suami yang tengah memegang tuas perseneling. Ketika berpamitan untuk berangkat kerja, suami bisa mencium kening istri, dan istri bisa mencium tangan suami.

Aktivitas memeluk, membelai, menggandeng tangan adalah contoh sentuhan fisik yang sangat dalam maknanya. Tanpa harus berkata-kata, cukup memeluk saja, itu sudah memberikan banyak pesan yang lebih luas daripada kata-kata. Sentuhan fisik termasuk salah satu sarana komunikasi nonverbal yang sangat efektif. Komunikasi tidak selalu dalam bentuk obrolan panjang atau diskusi yang akademik, namun sentuhan telah memberikan berbagai pesan yang sangat dalam.

3. Memberikan perhatian melalui berbagai sarana

Perhatian suami kepada istri –dan sebaliknya—bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sarana. Saat suami berkemas hendak berangkat kerja, istri bisa menunjukkan perhatian dengan memberikan bantuan, atau sekadar mengingatkan, apakah ada perlengkapan yang ketinggalan. Saat istri berdandan, suami bisa memberikan perhatian dalam bentuk memuji penampilannya atau menyarankan suatu penampilan tertentu yang lebih menarik.

Perhatian juga bisa ditunjukkan melalui teknologi. Misalnya mengirim pertanyaan dan ingatan melalui SMS atau BBM, “Pa, jangan lupa obatnya diminum siang ini jam 13.00”. Atau ungkapan, “Mama jangan lupa makan siang ya, biar tetap sehat dan fit”. Telepon juga merupakan bentuk perhatian. Walaupun terpisah jarak dan waktu karena tugas, tetap ada perhatian melalui bantuan teknologi.

4. Menyampaikan cerita dan informasi

Kebiasaan ringan lainnya yang bisa menguatkan keharmonisan keluarga adalah menyampaikan cerita dan informasi kepada pasangan. Misalnya suami yang akan mendapatkan tugas dari kantor untuk kunjungan ke luar daerah, bisa menceritakan dan menginformasikan rencana tugas tersebut kepada istri. Dengan demikian, istri merasa dilibatkan dalam tugas suami sejak awal, dan membuatnya merasa mendapat kepercayaan serta perhatian.

Demikian pula seorang istri bisa menyampaikan cerita tentang apa yang dilakukan seharian bersama anak-anak di rumah. Cerita dan informasi ringan seputar aktivitas rutin sehari-hari di tempat kerja, di rumah, di masyarakat, yang disampaikan kepada pasangan, merupakan bagian dari kebiasaan yang menguatkan cinta kasih antara suami dan istri. Masing-masing merasakan adanya keterbukaan dan kejujuran melalui cerita dan informasi yang mengalir setiap hari.

Masih sangat banyak kebiasaan kecil dan ringan yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, yang menguatkan keharmonisan keluarga. Selayaknya suami dan istri memperhatikan kebiasaan kecil yang akan semakin menyuburkan suasana cinta dan kasih sayang di antara mereka. Itu pula yang sekaligus memupuk perasaan suka dan perasaan saling membutuhkan antara suami dan istri.

Selamat siang, selamat beraktivitas.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (35 votes, average: 9,06 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Cahyadi Takariawan
Senior Editor diPT Era Intermedia, Pembina diHarum Foundation, DirekturJogja family Center, Staf AhliLembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. AlumniFakultas FarmasiUniversitas Gadjah Mada (UGM).

Lihat Juga

Miskomunikasi Suami Istri