Home / Pemuda / Essay / #IndonesiaTanpaJIL (Episode ke-7): Antara Imam Samudera dan Isu Terorisme

#IndonesiaTanpaJIL (Episode ke-7): Antara Imam Samudera dan Isu Terorisme

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cuplikan kartun Israel yang olok-olok Abbas. (Youtube)

dakwatuna.com – “Sebagai orang Islam, saya bertanggung jawab mempertahankan umat Islam yang ditindas seperti yang dinyatakan Al Qur’an. Islam membawa rahmat ke seluruh alam. Jika umat Islam disembelih di Palestina dan kita tidak berbuat sesuatu, kita akan disumpah. Umat Islam seperti satu badan. Jika sebahagian anggota sakit, bahagian yang lain turut merasainya.”

Kira-kira begitulah kata-kata yang diucapkan Imam Samudera dalam persidangan di Denpasar dalam kasus Bom Bali (12 Oktober 2002).

Terlepas dari soal bom, kita bisa menelaah apa yang terjadi kali ini melalui 2 sudut pandang. Terkait argumentasi Imam Samudera, coba kita lihat dari aspek “fiqhul jihad”. Sayangnya, tidak ada argumentasi Imam Samudera, dia mengikuti mazhab atau ulama yang mana dalam mengajukan pendapatnya itu: apakah boleh membunuh orang kafir yang tidak ikut membunuh orang Islam, meskipun dia merupakan warga Negara dari pemerintahan yang mendukung pembantaian umat Islam? Mungkin ada yang berminat untuk mengkaji masalah ini secara akademis, sehingga kita dapat mengkajinya secara objektif.

Yang perlu kita cermati juga adalah aspek “keadilan/fairness” dari media massa dalam melakukan pemberitaan terhadap kasus-kasus pemboman atau terorisme serta penyebutan identitas kelompok.

Kalaupun Imam Samudera dan kawan-kawan yang membom turis Barat di Bali disebut sebagai teroris, lalu haruskah Bush, Sharon, dan sebagainya yang membunuh ribuan warga di Irak, Afghanistan, Palestina, sama sekali tidak disebut teroris? Hingga mereka mendapat panggilan suci sebagai “pembasmi teroris”? Bandingkan saja, jumlah korban akibat perbuatan Imam Samudera dkk dengan Bush serta antek-anteknya. Dan seharusnya kita dapat menilai secara objektif dalam hal ini. Atau minimal tidak ikut serta men-cap mereka sebagai teroris dan mendiamkan yang lain.

Allahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa STIDA Al Manar, Utan Kayu jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Bekerja sebagai guru Bimbel bid. Matematika di Bimbingan Belajar Clever. Merangkap juga sebagai Owner SETIA Distributor (facebook.com/setiabuku dan @SAdistributor) yang menjual buku-buku, terutama yang bertema keislaman.

Lihat Juga

Khalid Misy’al: Palestina Tetap Menjadi Sentral Permasalahan Umat