Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jenazahmu, Bagaimana Nasibnya?

Jenazahmu, Bagaimana Nasibnya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Bismillahirrahmanirrahim,

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Mayat atau jenazah.  Adalah sebuah status yang akan disandang oleh semua orang, tak peduli ia seorang kakek-kakek atau pemuda perkasa, tak peduli ia seorang menteri atau pemulung yang menumpulkan nasi sisa.

Hari ini, seorang jenazah laki-laki tua dishalatkan di masjid dekat kontrakan kami, orang ini telah kehilangan kesempatan berbuat baik, saatnya ia menerima akibat berbuat baiknya dulu.

Kisahnya pun dimulai…..

Keluarganya sudah stand-by di lokasi masjid sebelum waktu shalat Zhuhur masuk, azan berkumandang, dan azan ini tak lagi menjadi panggilan wajib bagi si mayat, seandainya ia bisa, tentu ia akan mengikuti shalat berjamaah bersama untuk menambah pahala, tapi apalah daya sekarang, tak ada lagi kuasa.

Selesai shalat Zhuhur, langsung dengan komando pengurus masjid keranda mayat dipindahkan ke bagian tengah, shalat jenazah segera digelar…..

Tapi, saat pengurus menyampaikan kepada keluarga bahwa yang terbaik untuk mengimami shalat jenazah adalah anak laki-laki si jenazah sendiri, tak ada yang menjawab, tak ada tanggapan, bahkan pihak keluarga hanya menunduk atau berpura-pura tidak mendengar apa yang disampaikan pengurus itu! Bayangkan apa perasaan si mayit saat itu! Bayangkan jika kita dalam posisi si mayit itu! Di saat kita membutuhkan pertolongan terakhir, tak ada yang datang memberikan pertolongan, saat bantuan penting kita harapkan dari anak kita, mereka hanya menekurkan kepalanya!

Inilah sebuah kegagalan, kegagalan si mayit dalam mendidik anaknya. Entah apa yang akan bisa diperbuat oleh si anak terhadap almarhum ayahnya jika kondisi anaknya seperti itu.

Wahai para pemuda, ketahuilah ketika keluar dari masjid itu saya berbincang dengan sekelompok anak SD yang juga menyaksikan pelaksanaan shalat jenazah itu, mereka membicarakan apa yang mereka lihat, komentar seenaknya dan ocehan murahan ala anak SD, saya bertanya “udah bisa shalat jenazah dek?” mereka bergumam belum… “Tau gak, seharusnya yang menyalatkan jenazah tadi itu adalah anaknya, anak laki-lakinya! Tapi jenazah tadi tidak… mungkin anaknya tidak bisa, kalian sudah bisa shalat jenazah?”

Mereka merespon dengan respon yang tidak nyambung,

“Nanti, kalau ayah kita meninggal jangan sampai kayak jenazah ini, ayah kita meninggal kita malah hanya menunduk tidak bisa mengimaminya….”

Mereka terdiam, senyap

“Belajar ya dek ya….”

Wahai para pemuda, apakah kita mengharapkan kondisi seperti ini terjadi ada keluarga kita? Apakah kita tega nanti saat ayah kita dipanggilNYA kita hanya terdiam tiada daya? Mengimami shalat jenazah adalah persembahan terakhir dan kado terindah buat ayah ibu kita nanti….

Lalu, bagaimana pula dengan saat kita sendiri yang nanti menjadi JENAZAHNYA??? Apakah kita mampu menyiapkan generasi yang mampu mengimami shalat jenazah untuk kita nanti?

Maka pemuda yang cerdas tentu akan mempersiapkan kondisi itu sejak sekarang, mempershalih diri adalah langkah yang bisa kita ambil segera, sebelum orang lain yang mengambil kesempatan ini. Pemuda yang cerdas juga akan menempuh cara apapun yang membuat saat ia dishalatkan, orang antri untuk menshalatkan kita, sehingga masjid tidak lagi cukup menampung jamaah,  masyarakat berdesakan untuk mengantarkan jenazah kita ke pemakaman, bahkan berduyun datang memenuhi jalanan orang-orang yang tidak saling kenal, pergi menghadiri penguburan kita, bayangkan masyarakat sekitar berkomentar “kami melihat orang-orang yang sama sekali tidak kami kenal bergerombol datang tak henti ke pemakaman beliau”

Tidakkah kita mengimpikan kondisi seperti ini sobat!!

Satu hal lagi, untuk mempersiapkan anak-anak yang mampu mempersembahkan kado terindah untuk jenazah kita saat kita sebagai bapaknya wafat, pemuda yang cerdas juga akan memilih calon ibu untuk anak-anaknya yang nanti akan mendukung terwujudnya kondisi ini. Tentu bukan wanita yang suka mengumbar aurat mereka, wanita yang punya riwayat pacaran yang panjang, wanita yang gonta ganti pasangan sebelum dengan suami sah nya, wanita yang sedikit pun tidak menjaga marwah seorang perempuan dengan bercampur baur saja dengan laki-laki lain… wanita seperti itu belum bisa dikatakan sebagai calon ibu sebenarnya, baru sebatas calon istri, pemuda cerdas tidak sekadar mencari calon istri, tapi calon ibu.

Itulah sobat, terkadang kita terlalu menganggap remeh shalat jenazah yang mungkin secara sekilas sering kita temui, terlalu merasa sibuk dengan dunia sehingga melupakan hari di mana kita dipakaikan kain kafan, atau terlalu lemah di hadapan hawa nafsu yang mendorong kita untuk bermaksiat….

Pemuda yang cerdas terlalu ceroboh jika melewatkan saja pesan ini, tanpa bergerak nyata, mulai bekerja, memastikan segala sesuatunya berjalan dengan scenario yang kita citakan.

Salam hangat sobat! Ku tunggu pemakamanmu terdahsyat!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Adnan Arafani
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang, alumni Perguruan Islam Ar Risalah Padang, aktif di Unit Kegitan Kerohanian UNP dan beberapa organisasi internal dan eksternal kampus.

Lihat Juga

Harapan Baru untuk Menteri ESDM Baru