Home / Berita / Nasional / Kader NU Ancam Boikot Demokrat di Pemilu 2014

Kader NU Ancam Boikot Demokrat di Pemilu 2014

Logo Nahdlatul Ulama (NU). (inet)

dakwatuna.comKader Nahdlatul Ulama mengancam tidak akan memilih Partai Demokrat di Pemilu 2014 jika politisi Demokrat Sutan Bhatoegana tidak minta maaf kepada NU atas pernyataannya yang menghina almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Gerakan Pemuda Ansor sebagai ormas afiliasi NU merasa terhina dengan pernyataan Bhatoegana yang menyebut Gus Dur lengser karena terlibat skandal korupsi Bulloggate dan Bruneigate.

“Jika Sutan tidak meminta maaf, maka warga NU tidak akan memilih Demokrat di Pemilu 2014,” kata Sekretaris GP Ansor DKI Jakarta, Abdul Aziz, di kantor Dewan Pimpinan Pusat Demokrat, Jakarta, Selasa 27 November 2012.

GP Ansor memberi waktu 2 x 24 jam kepada Sutan Bhatoegana untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan NU atas pernyataannya tersebut. Mereka menilai permintaan maaf yang telah disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, tidak cukup.

“Anas Urbaningrum tidak ada hubungannya dengan ini. Sutan harus menyampaikan permintaan maafnya sendiri,” ujar Abdul. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan Bhatoegana tidak pantas disampaikan oleh elit politik, apalagi anggota DPR.

Oleh karena itu kader NU mendesak Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk memecat Bhatoegana dari jabatannya di partai dan DPR. “Pernyataan Sutan menyakitkan dan melukai hati keluarga besar NU,” kata Abdul.

Sebelumnya, Anas Urbaningrum telah meminta maaf atas ucapan Bhatoegana soal Gus Dur di salah satu forum diskusi DPR. Saat itu Bhatoegana mengatakan semua pemerintahan punya masalah, termasuk Gus Dur. Oleh sebab itu Gus Dur turun di tengah jalan.

“Sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, dan sebagai pengagum Gus Dur, saya menyampaikan permohonan maaf kepada almarhum Gus Dur, keluarga, pengikut dan warga NU,” ujar Anas.

Isu korupsi yang pernah menerpa Gus Dur di masa kepresidenannya, tak pernah terbukti. Kejaksaan Agung bahkan mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan, dan Gus Dur dianggap bersih serta tidak bersalah. (eh/vivanews)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Kader “Siang Malam Tunggu Panggilan”