Home / Berita / Opini / Muhammad Riza Azizy: Masa Depan IPNU

Muhammad Riza Azizy: Masa Depan IPNU

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Pergerakan yang serius tampak dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, merekalah KH. Hasyim Asy`ari dan kawan-kawannya yang rela mati untuk mempertahankan kota Surabaya dari penjajahan Belanda. Andai semangat juang itu tercermin dalam jiwa-jiwa pemuda Bangsa khususnya bagi Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU), tentu Rahmat yang Agung akan tercurahkan di Negeri Pertiwi Indonesia.

Gelombang semangat itu sangat jelas di mata kita, teriakan arek-arek Suroboyo mampu mengusir penjajah (hanya) dalam waktu tiga hari. Gelora perjuangan itu sangat kokoh dan melekat di dada mereka sehingga penjajah pun kucar-kacir dalam menghadapi gerilya pejuang kemerdekaan di Surabaya. Lagi-lagi sosok KH. Hasyim Asy`ari yang membuat para pejuang untuk maju tak gentar, rawe-rawe rantas malang-malang putung dalam mengusir penjajah dari bumi Surabaya. Inilah sejarah pendahulu-pendahulu Nahdlatul Ulama, mereka telah mengukir kemuliaan di bumi Indonesia dan telah memberikan teladan yang baik dalam berjuang untuk Bangsa.

Renungkan lah wahai Pemuda Nahdlatul Ulama! Harus jujur kita akui bersama, bahwa IPNU membutuhkan sosok yang tepat dan luar biasa agar kiprah IPNU di mata Bangsa lebih bisa dirasakan. Selama ini, IPNU seolah tidak memiliki taring karena memang tidak tampak adanya tindakan yang ril dari IPNU sendiri terhadap persoalan-persoalan yang menimpa Bangsa. Sebut saja misalnya, beberapa waktu yang lalu, ketika Indonesia dihantam isu perkelahian antar pelajar dan mahasiswa. Peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum emas bagi IPNU untuk menunjukkan pengabdiannya terhadap Masyarakat. Namun, apa yang terjadi? Tidak ada gerakan atau upaya dari IPNU untuk memberikan solusi walau pun secuil terhadap isu yang berkaitan langsung dengan ruh Organisasinya.

Kalau kita telusuri hasil Kongres PP IPNU di Makassar pada tahun 2000 dan di Surabaya pada tahun 2003, telah merumuskan bahwa kiprah IPNU dikembalikan pada pangkuan Siswa dan Santri. Amanah kongres yang seharusnya menjadi batu pijakan dan dasar untuk berjuang, dan mengabdi kepada Masyarakat serta Bangsa. Tapi sayang, cahaya perjuangan itu belum mampu menyinari, justru sebaliknya cahaya itu seolah redup. Ini pertanda bahwa IPNU harus bangkit dari keterpurukan dengan mengusung pemimpin baru yang lebih baik.

Kalau kita melakukan survey kecil-kecilan, katakanlah di lingkungan tempat tinggal kita, coba kita tanyakan kepada Pemuda dan Masyarakat sekitar. Tanyakan, apa yang Anda tahu tentang IPNU?  Kalau Anda mau melakukan hal tersebut mungkin jawaban yang Anda dapatkan tidak jauh dari yang saya dapatkan. Saya mendapat jawaban beragam, ada yang bilang saya tidak tau apa itu IPNU, ada pula yang menjawab IPNU itu Organisasinya orang NU. Namun, jawaban itu masih maklum adanya karena memang IPNU tidak memiliki program dan pencapaian yang pasti selama ini. Namun, ada satu jawaban yang mengusik hati dan benak saya; IPNU itu organisasi “pengemis”, atau organisasi yang ingin mencari keuntungan untuk mereka-mereka sendiri. Bayangkan bagaimana tangisan pendahulu-pendahulu NU terhadap keadaan yang menimpa IPNU saat ini, kalau sudah begini IPNU harus bergegas dan segera bangkit, paling tidak harus mampu bersaing dengan Organisasi lain dalam membantu mengurangi beban Bangsa dalam bidang Kepemudaan dan pembentukan Kader bagi perubahan Bangsa.

Keadaan yang buruk tersebut tidak boleh kita diamkan berlama-lama, kita pun telah melihat betapa besarnya semangat juang yang dicontohkan oleh pendahulu-pendahulu NU seperti yang tertera dalam paragraf awal. Keadaan ini pula menuntut pemimpin yang betul-betul memahami ruh Organisasi dan mampu membawa kearah yang sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh Organisasi tersebut.

Ke mana IPNU Berlayar

Sebagai organisasi yang otonom, IPNU dituntut untuk berjalan dan menentukan arahnya sendiri tanpa adanya campur-tangan dari pihak manapun termasuk dari internal NU. Guna membangkitkan semangat IPNU yang selama ini “tertidur”, perlu adanya sosok pemimpin yang mempunyai kemampuan cukup dalam berorganisasi serta memiliki mental pemimpin yang jujur, bersih, dan bisa dijadikan teladan. Kalau kita kembali kepada amanah Kongres 2000-2003, maka sudah jelas apa dan lapangan kerja IPNU, hanya saja memang perlu pemikiran yang agresif, agar amanah tersebut bisa diaplikasikan melalui program-program kepada Siswa dan Santri, sehingga akibatnya pun bisa dirasakan oleh Masyarakat dan Bangsa. Fakta di lapangan mengindikasikan bahwa kosongnya perjuangan IPNU yang sebenarnya telah menjadi Organisasi mandiri dan memiliki basis yang besar, sungguh keadaan yang sangat disayangkan.

Lagi-lagi IPNU merindukan pemimpin yang mumpuni, sehingga Organisasi ini mampu berlayar dengan jelas dan mampu membawa penumpang sampai pada tujuan mereka melalui perahu IPNU. Ini menjadi tugas yang berat bagi IPNU ke depan, karena bagaimana pun juga masih banyak yang harus diperbaiki, baik itu berkaitan langsung dengan problematika internal mau pun eksternal.

Sosok Pemimpin IPNU Masa depan

Sebentar lagi Kongres besar IPNU akan dilaksanakan di Palembang, yaitu tanggal 30-04 Desember 2012. Isu tentang Pemimpin baru pun bermunculan dan dukungan dari warga IPNU pun beragam. Siapa pun pemimpin IPNU yang akan datang, itu bukan lah persoalan esensi, namun yang utama adalah mampukah pemimpin itu membawa IPNU ke jalan dan keadaan yang lebih baik. Sebab tidak semua pemimpin itu baik, kalau kita telisik dalam Kalamullah, Allah Berfirman yang artinya; “bahwa kami telah menjadikan sebagian dari kalian seorang pemimpin yang akan membawa kepada jalan menuju neraka”. Oleh sebab itu, kita perlu berhati-hati dalam menentukan pilihan jangan sampai pemimpin kita membawa kepada jalan yang keliru.

Sampai di sini, saya melihat ada sosok yang luar bisa dan patut untuk dijadikan pertimbangan bagi warga IPNU dalam menentukan pilihannya pada Kongres Palembang yang akan datang.

Dia lah seorang anak muda yang cerdas, berbudi luhur, keilmuan yang cukup, bertaqwa, beriman, berpengalaman dalam Organisasi, ramah dan bermasyarakat. Ini lah yang dibutuhkan Oleh IPNU ke depan karena sosok yang seperti ini sulit untuk ditemukan, kalau pun ada terkadang dia enggan untuk diangkat menjadi ketua, sepantasnya warga IPNU bersyukur karena anak muda yang saya ceritakan ini berkenan memenuhi amanah dari IPNU se-Jawa Timur dan dengan harapan dukungan serupa juga datang dari warga IPNU di luar Jawa Timur.

Dia dikaruniai nama Muhammad Riza Azizy Hisyam, M.EIB atau sering disapa Gus Riza, oleh Allah dilahirkan pada bulan februari tanggal 12 tahun 1885, di Desa Blok Agung, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Kehadiran Muhammad Riza Azizy adalah Rahmat yang besar bagi kedua orang tuanya, karena dia adalah putra pertama, dari pasangan KH. Hisyam Syafaat dan HJ. Umi Mahmudah. Kedua orang tuanya adalah pengasuh Pondok Pesantren terbesar di Banyuwangi, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Selain itu, orang tuanya juga menjabat sebagai Suriyah PC NU.

Dunia dan lingkungan pesantren yang telah dia geluti semenjak kecil menjadikan Gus Riza sangat akrab dengan yang namanya Santri dan Organisasi kepesantrenan. Ketika Gus Riza masih duduk di bangku SD, ia sangat berprestasi bahkan di luar jam sekolah pun ia sangat rajin menimba ilmu kepada santri-santri senior untuk belajar membaca kitab-kitab kuning dan dia juga sangat giat menghafalkan Ayat-Ayat Al-Quran. Keadaan ini membuat dia sangat dikagumi dan disenangi oleh teman-teman sebayanya dan tak jarang dia disanjung oleh Santri-Santri senior karena kemampuannya dalam memahami pelajaran sangat kuat.

Hingga sekarang, Gus Riza telah memiliki pengalaman mengajar selama satu semester di Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) Yayasan PP. Darussalam Banyuwangi Jawa Timur, pada mata kuliah “Sistem Ekonomi Islam”. Mampu berbahasa Arab secara aktif lisan maupun tertulis. Pernah aktif dalam beberapa organisasi keterpelajaran dan kepemudaan, di antaranya sebagai Ketua PPI Jordania periode 2010-2011. Saat ini adalah Khadimul Ma’had PP. Asshiddiqiyah 10 Cianjur Jawa Barat.

Pada tahun 2002-2003 Gus Riza menjadi ketua IPNU komisariat PP. Darussalam, kiprahnya dalam memperjuangkan IPNU tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 2003-2005 Gus Riza menjadi pengurus di departemen Kemahasiswaan dan pengembangan keilmuan PW. IPNU Jawa Timur. Karena kualitas pribadi yang mumpuni akhirnya pada tahun 2005-2007 Gus Riza pun diangkat menjadi wakil bendahara PW. IPNU Jawa Timur.

Setelah tahun 2007 akhir, Gus Riza harus berhenti dari jabatan-jabatan IPNU karena Gus Riza harus melanjutkan studinya S2 ke Jordan. Saat ini, Gus Riza telah pun lama kembali dari studinya dan ingin kembali mengabdikan dirinya bagi IPNU dan Bangsa. Sangat banyak pencapaian dan penghargaan yang telah dicapainya sehingga saya tidak bisa menyebutkan secara rinci di sini, mudah-mudahan tulisan sederhana ini mampu menggugah semangat baru bagi warga IPNU untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Kesimpulan

Kita telah pun melihat dengan gamblang perjuangan yang gigih dari pendahulu-pendahulu NU, di mana NU adalah ruh yang melahirkan Organisasi IPNU, maka sepantasnya kita sebagai generasi muda NU atau Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama menunjukkan semangat juang yang tinggi untuk mengabdi kepada Bangsa seperti semangat juang arek-arek Suroboyo kala itu.

IPNU adalah Organisasi otonom, ini bukan bermakna bahwa IPNU adalah organisasi profit yang anggotanya bisa mengambil keuntungan materi dari atau melalui IPNU. Oleh karena itu, hindari lah pemimpin yang selalu membicarakan uang dan uang. IPNU adalah Organisasi non-profit yang bersifat pengabdian baik kepada Masyarakat maupun Bangsa.

Problematika yang ada pada internal IPNU semoga bisa segera diatasi sehingga IPNU bisa berjalan menuju ruh yang telah dicita-citakan oleh IPNU. Masyarakat dan Pemerintah wajib hukumnya mendukung keberadaan dan kiprah IPNU karena Organisasi ini memiliki misi pembentukan generasi muda yang tangguh dan berakhlak mulia. Seiring dengan menjamurnya masalah moral pejabat yang kurang baik dan membludaknya budaya korupsi di Negeri ini, sangat dibutuhkan kaderisasi generasi yang berakhlak mulia dan tangguh sehingga kepemimpinan Indonesia ke depan bisa lebih baik.

Mudah-mudahan semakin banyak anak muda yang memiliki kriteria seperti Muhammad Riza Azizy, M.EIB. Bukan apa-apa, tapi memang harus kita akui secara jujur bahwa Bangsa Indonesia masih sangat membutuhkan generasi-generasi yang unggul untuk menyongsong masa depan Bangsa yang cerah. Terakhir, selamat menuju Kongres Palembang bagi warga IPNU semoga dari situ muncul sosok pemimpin muda yang bisa dijadikan panutan bagi warga IPNU dan bisa membawa IPNU menuju perubahan besar. Salam demokrasi.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa Program Kelas International Universitas Islam Indonesia.

Lihat Juga

Jimmy Carter, presiden AS ke-39. (Islammemo.cc)

Sebelum Lengser, Obama Diminta Mantan Presiden AS Ini Akui Negara Palestina