Home / Berita / Perjalanan / Catatan Perjalanan Haji (Bagian ke-4): ‘Portal Raksasa’ itu Bernama Arafah

Catatan Perjalanan Haji (Bagian ke-4): ‘Portal Raksasa’ itu Bernama Arafah

Ilustrasi (muxlim.com/sari_wu)

dakwatuna.com Arafah menjadi padang luas yang terbentang menjadi seperti lautan tenda. Pagi itu mentari belum begitu mengganggu dengan sengatan panasnya, dia telah memberikan cahayanya yang benderang pada hamparan putih. Sejauh mata memandang, putih-putih tenda dan putih-putih kain ihram mendominasi pemandangan. Di sana-sini bercuatan bendera-bendera negara atau sekadar tanda rombongan jamaah tertentu. Dari kejauhan tampak “bukit manusia” dengan puncak sebuah tugu yang juga berwarna putih, ‘Jabal Rahmah’.

Padang Arafah hari itu tidak begitu terik, tapi tentu saja panas. Angin yang berhembus perlahan setidaknya dapat mengurangi sedikit arti panas di tempat berkumpulnya berjuta umat itu. Inilah pertemuan umat di dunia terbesar yang pernah ada, dalam satu waktu dalam pakaian seragam yang sama, pakaian ihram.

Wukuf di Arafah adalah inti dan puncak peribadahan haji, tiada sah haji seseorang tanpa wukuf di Arafah. Seperti dinyatakan Rasulullah saw, al hajju ‘arafah……Haji adalah wukuf di Arafah.

Wukuf artinya berhenti, diam tanpa bergerak. Berbeda dengan thawaf yang artinya berputar, bergerak, ya bergerak…tepat seperti kehidupan ini yang diwarnai dengan dinamika gerak, maka pada suatu saat gerakan itu akan berhenti. Jantung kita akan berhenti berdetak, kaki kita akan berhenti melangkah. Ketika semua gerak itu berhenti, maka terjadilah kematian. Manusia diwujudkan dalam individu-individu dan akan dikumpulkan di padang Ma’syar. Seperti itulah prosesi wukuf itu ditampilkan.

Ketika saat wukuf tiba, eskalasi suhu yang semakin meninggi seperti tak terasa. Matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepala. Di bumi inilah, pada detik ini juga ‘portal malakut’ terbuka, terbentang luas seperti lubang raksasa, membuka jalan menuju dimensi tempat segala doa dikabulkan Tuhan. Jiwa-jiwa yang tenang tidak menapak di bumi lagi –akhlada ‘alal ardh– seolah terbang mengangkasa—irtafa’a ilassamaa’– menadahkan kucuran rahmat dan maghfirah dari ‘arsy Allah. Serasa benar-benar dihadapkan langsung kepada Allah swt dengan segala kepasrahan seluruh jiwa raga.

Kalimat-kalimat khutbah terdengar sungguh menuntun jiwa, menyentuh hati dan perasaan. Bait-bait istighfar terdengar lirih, merayu dan merintih kepada Allah memohon taubat dan keampunanNya. Tanpa disadari air mata bergenang dan berlinangan. Khatib mengingatkan diri kita sebagai hambaNYA yang kerdil banyak melakukan dosa-dosa, kesalahan dan perkara yang mungkar selama hidup, dosa-dosa yang kita lakukan terhadap kedua orangtua kita, dosa-dosa terhadap pasangan kita, anak-anak dan anggota keluarga kita. Namun kita masih diberi kesempatan dapat menjadi tamuNYA dan berpeluang memohon ampunanNYA.

Di bumi Arafah ini, di sela-sela perbukitan tandus dan angin gurun yang ganas mengembus. Bersimpuh umat Islam dari seluruh penjuru negeri, merendahkan diri serendah-rendahnya
di haribaanNYA, dalam cucuran air mata yang memancar dari setiap nurani. Berjuta-juta tangan menengadah, menggelorakan doa dari jiwa yang pasrah. Di tengah galau akan dosa-dosa yang terus bertambah. Mengotori jiwa, mengisi lembaran-lembaran hidup yang kian redup, termakan usia yang semakin tua yang kita jalani tanpa daya.

Waktu terus bergelora begitu tegas melindas siapa saja yang tak siap menghadapi. Peristiwa-peristiwa terus mengalir bagai lahar panas tanpa ada yang bisa menghalangi. Waktu terus mengguncang kehidupan bagai tsunami yang menghanyutkan segala yang dilewati. Ruang, materi, dan energy terus berubah menggerus zaman yang semakin lama semakin buram
menuju akhir drama kehidupan.

Di bumi Arafah inilah Allah pilihkan tempat berkumpulnya berjuta insan untuk bersimpuh
dalam pertaubatan. Arafah menjadi padang pengampunan yang Allah janjikan bagi siapa saja yang datang berserah diri dengan hati yang bersih dan berendah diri. Bergetar seluruh alam semesta dalam gema tasbih yang membahana. Mengagungkan Dzat Maha Agung dalam dzikir tiada henti. Bergetar Arsy Allah, berputaran para malaikat mengelilinginya, bertasbih dan berdoa untuk orang-orang yang datang kepada-Nya dalam jiwa yang pasrah.

Inilah tempat di mana air mata manusia terbanyak ditumpahkan dengan rasa penyesalan atas dosa-dosa lalu sekaligus sebuah kebahagiaan karena dapat melakukan kewajiban haji dengan berwukuf di Arafah.

Aku merindukan arafah.
Berada di antara hamparan jutaan manusia.
Kau, aku, kita merasakan kenikmatan yang sama.
Dalam balutan dua helai kain putih.
Satu dililitkan di pinggang, dan satu lagi dililitkan di bahu.
Tak ada gaya, branding, wewangian misk, oud atau paris gallery.

Aku merindukan Arafah…
yang benderang seperti ma’syar…
aku mengunjungi-Mu
wahai Tuhan yang memuliakan manusia
aku bergerak…seperti butiran air menuju samudera talbiyah
“aku memenuhi panggilan-Mu..! wahai Tuhan yang memuliakan manusia…”

Terima kasih kepada ustadz Tifatul Sembiring dan keluarga yang telah membersamai kami dalam menjalani hari-hari indah di Arafah, Mudzdalifah dan Mina. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di tempat yang terbaik.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Jamaah Haji sedang melakukan Tawaf (mengelilingi Kabah).  (kemenag.go.id)

Khutbah Idul Adha 1437 H: Tiga Pelajaran Dari Ibadah Haji

Organization