Home / Berita / Opini / Kisah Usang Israel – Palestina?

Kisah Usang Israel – Palestina?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(knrp)

dakwatuna.com Kisah IsraelPalestina adalah kisah usang? Kisah ini memang lebih tua dari kisah perjuangan merebut kemerdekaan Bangsa kita, Indonesia. Pada 14 Mei 1948, kisah perang antara Israel – Palestina makin memuncak karena Israel dengan lancangnya mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara. Bahasa kasarnya, kisah Israel – Palestina adalah kisah basi.

Kini, mencuat lagi kisah tentang konflik Israel-Palestina. Kita mungkin tak lagi heran atas kisah kebiadaban Israel. Karena sedari dulu memang begitulah kisahnya.

Harusnya memang tak ada lagi kalimat “Palestina kembali terluka”. Karena memang Palestina senantiasa terluka, hanya luka-luka yang sebelumnya bisa jadi tidak terekspos media. Ya, Palestina memang senantiasa terluka oleh blokade dan intimidasi Israel. Menurutku, kalimat yang lebih tepat adalah “Palestina masih terluka”.

Meskipun kisah Palestina terkesan kisah usang dan basi. Tapi kisah perjuangan mereka tak pernah usang untuk membakar semangat dukungan dunia untuk kemerdekaan Palestina. Kisah kegigihan mereka tak pernah basi untuk membuat kita tertunduk dalam karena malu pada mereka yang tetap kuat menggigit agama. Kisah mereka bukanlah kisah monoton yang hanya berkisah tentang hilangnya nyawa, karena kematian mereka adalah sebuah syahid yang didamba.

Permasalahan ini bukan semata tentang konflik Israel-Palestina saja. Cakupan permasalahannya lebih luas dari itu.

Setidaknya, ada tiga landasan mengapa kita harus membantu Palestina. Pertama, di Palestina terdapat sebuah Masjid yang menjadi salah satu dari tiga masjid yang di berkahi yang juga merupakan kiblat pertama umat Islam, Al-Aqsha.

Terlebih lagi, jika dilihat dari segi historis, Palestina memiliki peran besar bagi Bangsa Indonesia. Di saat negara-negara yang lain belum mengakui kemerdekaan Indonesia, Palestina menjadi pendukung terdepan dalam kemerdekaan Indonesia. Syaikh Amin Al-Husaini, seorang mufti agung Palestina, menyeru kepada seluruh pemimpin Arab untuk memberikan pengakuan untuk Indonesia.

Terlepas dari itu semua, konflik ini sangat menyandera setiap jiwa-jiwa yang masih bernurani. Ya, apa pun suku, bangsa dan agamanya, bagi mereka yang masih bernurani, pasti turut mendukung terhentinya agresi militer Israel.

Rasanya ketiga alasan ini menjadi bahan renungan bagi kita untuk membantu kemerdekaan Palestina.

Korban kebiadaban Israel bukan hanya pejuang HAMAS, tapi juga kaum perempuan dan anak-anak tak berdosa. Ini perlu menjadi perhatian khusus. Jangan-jangan Israel sengaja mengincar nyawa mereka agar terputus generasi penerus para pejuang kemerdekaan Palestina.

Ya, seorang perempuan adalah aset berharga juga madrasah pertama. Ia yang melahirkan para jundullah dan ialah sang pendidik saat sang ayah harus pergi ke medan perang.

Ialah yang menanamkan jiwa-jiwa pemberani dan tawakal pada anak-anak mereka. Hingga setiap anak di Palestina tak takut dan gentar lagi ketika roket dan peluru bertebaran saat mereka tengah asik bermain. Karena keberhasilan sang ibu yang telah menanamkan nilai tawakal tingkat tinggi, hingga mereka yakin bahwa peluru dan roket itu sudah punya alamatnya masing-masing.

Belakangan ini marak bertebaran foto-foto anak kecil baik korban luka maupun korban jiwa. Miris dan ingin sekali meminta pada mereka untuk tidak menampilkan atau membagikan foto-foto itu. Karena setiap kali melihat foto anak-anak korban kebiadaban Israel, rasanya hati begitu ngilu dan mata tak mau menatapnya.

Ironis. Di satu sisi kita pasti tak tega menyaksikan foto berdarah itu apalagi jika yang menjadi korban adalah anak kecil mungil yang tak berdosa. Tapi jika kita tak mengekspos foto mereka, bisa jadi dunia tidak akan tahu bahwa inilah yang tengah terjadi di sana. Bahwa anak-anak kecil nan lugu inilah yang menjadi korbannya.

Perjuangan Palestina ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari semua negara, Amerika Serikat adalah salah satunya. Bahkan dengan tegas Presiden AS, Barrack Obama mendukung aksi yang dilancarkan oleh Israel karena menganggap bahwa serangan Israel ke Palestina merupakan serangan balasan atas tindakan HAMAS yang meluncurkan roket ke Israel. (Okezone, 19/11/12)

Sungguh sebuah dukungan yang sebelah mata sangat terlihat atas sikap Presiden AS ini. Tidakkah dia melihat bahwa Palestina begitu ‘pengap‘ karena blokade yang dilakukan Israel. Sungguh, alasan pemblokiran ini saja sudah cukup bagi Palestina untuk melawan Israel. Karena blokade ini ‘mematikan’ mereka secara perlahan karena memutus akses perdagangan, bantuan dan lainnya.

Bukan hanya AS saja yang tak bergeming atas aksi brutal Israel. Bahkan PBB yang kerap kali menjunjung tinggi HAM belum nampak jelas aksinya atas agresi Israel kali ini. Harusnya PBB belajar dari Indonesia. Negara berkembang sekelas Indonesia saja mampu membentuk Densus 88 yang tegas, lugas, main sergap dan angkat senjata pada tersangka teroris, apalagi Israel yang jelas-jelas merupakan state terrorist. Terrorism is the systematic use of violence to create a general climate of fear in a population and thereby to bring about a particular political objective. (The Britanica Encyclopedia)

Harusnya makin jelas siapa the real terrorist di sini. Kekuatan Israel yang di-backing penuh oleh AS menjadikannya ‘besar kepala’, karena merasa didukung oleh negara super power. Untuk itulah, kita harus bersatu padu melawan dan mendukung perjuangan Palestina.

Yakinlah, sekecil apapun kontribusi yang diberi akan berdampak bagi perjuangan Palestina untuk merdeka. Baik itu berupa doa, sumbangan material maupun aksi solidaritas.

Munajat doa tulus kalian akan mengalir halus dalam jiwa-jiwa mereka, yang menambah kekuatan tersendiri bagi kebesaran hati. Sumbangan harta kalian akan menjadi amunisi nyata untuk membeli senjata ataupun mengobati yang terluka. Aksi solidaritasmu yang berkumpul dengan penuh senandung pekikan takbir akan menyiutkan nyali musuh-musuh mereka, menjadikan mereka gentar karena nyatalah kita mendukung kemerdekaan Palestina.

#Pray, Fight and Save Palestine

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Berusaha Menjadi Berarti dan Memberi Arti

Lihat Juga

Khalid Misy’al: Palestina Tetap Menjadi Sentral Permasalahan Umat