Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Untukmu Sayangku

Untukmu Sayangku

Bismillahirrahmaanirrahim.

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Alhamdulillah, syukur yang tak pernah henti memang harus selalu kita panjatkan pada Allah, yang telah memberikan karunia untukmu, untukku dan untuk kita. Karunia keimanan, yang semoga Allah terus menjaga sampai akhir hayat kita. Dan semoga saat Allah memanggil kita, keimanan kita sedang berada di puncak. Inilah karunia besar yang harus selalu kita syukuri. Tanpa iman, segala kemewahan dan atribut dunia tidak ada nilai sama sekali.

Karunia hidup dalam komunitas dakwah yang dinamis, penuh kebaikan, keberkahan dan ukhuwah, bergaul, berinteraksi dan bekerja bersama-sama membangun peradaban mulia. Jalan ini adalah jalan panjang, penuh onak duri, jalan terjal, yang hanya mereka yang mendapat Rahmat Allah lah yang akan berhasil menjalaninya. Kita berdoa, semoga Allah memberi kekuatan, kesabaran dan kemudahan pada kita, agar tetap istiqamah berjalan di jalan mulia ini. Harapan ini pun kita panjatkan agar anak keturunan kita pun akan meneruskan estafet dakwah ini, menjadi salah satu mata rantai dari mata rantai panjang kafilah dakwah ini. Sebagaimana harapan yang juga diungkapkan oleh Nabi Zakaria, saat di usia tuanya berdoa kepada Allah memohon agar diberi keturunan yang akan meneruskan estafet perjuangan.

Karunia kebahagiaan hidup dalam keluarga. Taman kecil yang dari sini bermula peradaban. Kebahagiaan berkeluarga yang menjadi dambaan setiap insan di dunia. Meski tak bisa dipungkiri, kehidupan rumah tangga ini tak pernah sepi dari terjangan gelombang, tak pernah sepi dari ujian dan cobaan tak pernah sepi dari dinamika, namun, pelan tapi pasti, ujian-ujian tersebut alhamdulillah telah berhasil kita lewati, dan semua itu kita rasakan sebagai sebuah mekanisme yang Allah berikan untuk membuat kita makin bijaksana menjalani hidup ini. Meski kita pun sadar, perjalanan berikutnya mengayuh biduk rumah tangga ini juga pasti akan bertemu dengan berbagai ujian, gelombang yang lain, karena ini adalah sunnah dalam kehidupan. Hanya kepada Allah kita memohon kekuatan, kesabaran dan keteguhan, agar apapun bentuk ujian dari Allah, akan berhasil kita lalui dengan sukses. Sebagai nakhoda biduk ini, engkau tentu dituntut untuk lebih trampil mengendalikan, karena perjalanan ini boleh jadi akan makin berat, seiring dengan makin banyaknya tugas dan tanggung jawab serta amanah yang Allah berikan. Sementara secara fisik sunatullahnya kita makin lemah. Maka hanya pada Allah kita bersandar, hanya kepada Allah kita labuhkan harapan, semoga Allah selalu menolong kita dengan caraNYA.

Karunia anak-anak yang merupakan titipan/amanah Allah. Mereka adalah karunia, sekaligus ujian. Ujian, adakah kita tetap istiqamah mendidiknya menjadi insan yang bertaqwa harapan umat. Ujian, adakah dengan kehadirannya, telah membuat kita lalai ataukah tetap khusyu menjalankan fungsi kehambaan terhadapNYA. Ujian, adakah dengan kehadirannya membuat kita makin dekat atau justru makin jauh denganNYA. Ujian, adakah kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan kita dalam mendampingi mereka melewati jalan panjang kehidupan, sampai ke telaga kebahagiaan. Berat memang, tapi kita harus yakin kesungguhan kita berikhtiar dan kepasrahan kita padaNYa, dibarengi dengan doa tulus yang selalu kita lantunkan padaNYA, akan membuat semuanya terasa ringan. Laa haula walaa quwwata illa Billah.

Karunia kesehatan, yang dengannya menjadi modal untuk kita bisa meneruskan pengabdian pada sang Khalik. Tak henti tiap hari kita lantunkan doa allahuma aafini fie badaani. Allahumma aafini fie sam’i. Allahumma aafini fie baswhari. Kabulkanlah ya Rabbi, rintihan kami. Berilah kekuatan bagi kami untuk bisa menjaga dan merawat diri ini, amanah dariMU.

Karunia materi, yang kita harapkan keberkahannya, bukan semata jumlah dan tampilan fisik perabotan dan kendaraan. Bukankah semua itu juga adalah sekaligus ujian bagi keimanan kita (innamaa amwalukum wa aulaadukum fitnah). Ujian adakah kita mampu mensyukurinya, menjadi golongan yang sedikit (wa qalillan min ibadiyassyakuur). Mensyukuri apa yang ada, berharap sesuatu yang lebih baik dengan izinNYA, bersabar jika sesekali Allah kembali memintanya, untuk saudara, untuk kerabat, untuk mereka yang papa, untuk mereka yang tidak seberuntung kita. Bersyukur, karena selama ini Allah membimbing kita dan memudahkan kita untuk membantu mereka. Ujian, adakah kita mampu memberikan yang terbaik, yang paling kita cinta, untuk diberikan bagi jalan dakwah ini. Duhai, betapa malu hamba ini di hadapanMU ya Rabbi, merenungi ayat-ayatMU yang ini “innamal mu’minuuna ladziina aamanu billahi warasuulihi tsumma lam yartabuu wajaahiduu biamwaalihim wa anfusihim fie sabiilillah. Ulaaika hummushaadiqiin.” (QS Al Hujurot 15).

Karunia tetangga yang baik, teman-teman sejawat, kerabat dan saudara-saudara, yang dengannya hidup ini menjadi semakin dinamis dan bermakna, karena kita dilatih untuk bijaksana bergaul dengan berbagai karakter manusia. Dengan keberadaan mereka pula, kita dilatih untuk menerapkan prinsip naafiun lighairihi, bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sungguh ini adalah lahan subur untuk persemaian keimanan dan dakwah kita. Mohonlah padaNYA agar kita diberi kekuatan untuk bisa menyemai benih kebaikan di lahan subur ini. Agar kita diberi kekuatan bisa merawat tanamannya, sampai akarnya kokoh, batangnya tegak, daunnya lebat, dan buahnya memberikan kebahagiaan dan kemanfaatan bagi sekitarnya (QS 14: 24-25) Kepada Allah jua kita memohon kesabaran agar pohon-pohon ini tetap teguh meski angin kencang selalu ingin menumbangkan dan mematahkan cabang-cabangnya. Dan sejuta karunia dariNYA yang tak mungkin kita bisa menghitungnya.

Mari sejenak kita merenung, adakah banyaknya karunia Allah, bertambahnya usia kita, telah mengantarkan kita menjadi hamba yang makin dekat dengan keridhoaanNYA. Kini, jatah umur kita sudah berkurang. Perjalanan hidup ini, pasti akan berakhir. Ya pasti, ini adalah sunnatullah hidup. Semua yang bernyawa pasti akan kembali padaNYA. Kita semua akan kembali. Entah siapa yang akan lebih dulu kembali, itu tidak penting. Jauh lebih penting kesiapan kita, sehingga kita bisa memastikan Allah memanggil kita dengan kalamNYA: “ya ayyatuha nafsul mutmainnah irji’ie ilaa rabbika Raadhiyatan mardiyah, fadkhuli fie ibadie… wadkhulie jannatie…(Qs Al fajr 27-30). Sebagaimana Allah telah memanggil para mujahidin di tanah Al Quds, Palestina…..

Allahumanshur ikhwanal mujaahidiina fi Filistin…..

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.
  • AlhamduliLLAH bibarokati zawjatiy sholihah. Uhibbukum fiLLAH. Rabbana auzi’na an nasykuro ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’ala waalidayya wa’an na’mala sholihan tardhoohu wa ashlih lana fiy dzurriyyatina inna tubna ilaika wainnana minal muslimin

Lihat Juga

Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan