Home / Berita / Daerah / Ulama di Kalsel Dukung Pelestarian Aksara Arab Melayu Banjar

Ulama di Kalsel Dukung Pelestarian Aksara Arab Melayu Banjar

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Banjarmasing. Sejumlah ulama di Provinsi Kalimantan Selatan mendukung pelestarian aksara Arab Melayu Banjar yang dilakukan Kesultanan Banjar dalam upaya mempertahankan seni dan budaya daerah itu.

Dukungan itu terlihat dari apresiasi tokoh masyarakat dan ulama dalam seminar budaya bertema “Reinventing Bahasa Arab Melayu Banjar” di auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, Selasa.

Sejumlah ulama yang hadir pada kegiatan itu antara lain, Tuan Guru Haji Irsyad Zein, Ahmad Makkie, Rektor IAIN Antasari Prof Dr Akhmad Fauzi Aseri MA, Prof Kustan Baseri, dan Dr Mirhan, MAg.

Turut hadir pula ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan cendekiawan perguruan tinggi serta pemerhati seni dan budaya, Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H Adjim Arijadi dan Datu Mangku Adat Syarifudin R.

Rektor IAIN Antasari Banjarmasin Prof Dr Ahmad Fauzi Aseri MA merespons positif seminar budaya bertema Reinventing Bahasa Arab Melayu Banjar bekerja sama dengan Kesultanan Banjar tersebut.

“Kami berterima kasih kepada keluarga besar Kesultanan Banjar yang mengajak IAIN Antasari turut terlibat dalam upaya menemukan kembali Bahasa Arab Melayu Banjar, salah satunya melalui seminar ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, keterlibatan IAIN dan perguruan tinggi lainnya harus dipahami sebagai salah satu tanggung jawab perguruan tinggi dalam upaya menstimulus, mendorong, dan mengawal kajian berbasis kearifan lokal.

Dalam makalahnya berjudul “Membanjarkan Kepenulisan Arab Melayu Banjar”, Tuan Guru Haji Muhammad Irsyad Zein mengatakan tradisi penulisan naskah menggunakan aksara Arab Melayu di masyarakat Banjar mencapai puncak kegemilangan di masa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1122 H – 1227 H/ 1710 M-1812 M).

Ulama terkenal asal Martapura, Kabupaten Banjar Kalsel itu menyumbangkan pemikiran intelektual dan hasil karyanya yang ditulis menggunakan huruf Arab Melayu dan hingga sekarang menjadi kebanggaan masyarakat Banjar.

“Penting sekali aksara Arab Melayu Banjar diimplementasikan dalam kebijakan pemerintah seperti penulisan nama jalan, nama perkantoran pemerintah dalam rangka melestarikan kearifan lokal,” ujarnya.

Pentingnya pelestarian Bahasa Arab Melayu juga disampaikan narasumber Anang Seifuddin Husin yang menilai, besarnya pengaruh Arab dalam Bahasa Indonesia dapat dilihat dari kalimat-kalimat Bahasa Indonesia.

“Sebagian besar kosa kata merupakan pinjaman dari Bahasa Arab dicetak miring di antaranya masyarakat wajib taat hukum, berdasarkan musyawarah dan mufakat,” ujar dosen Pendidikan Bahasa IAIN Antasari.

Seminar dalam rangka peringatan hari lahir atau Milad Kesultanan Banjar ke-508 itu juga menghadirkan nara sumber lain yakni Ketua Tanfiziah NU Kalsel Syarbaini Haira dan Dede Hidayatullah MPd. (ANT/Jodhi Yudono/KCM)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Bagaimana Reaksi Dunia Arab dalam Masalah Kudeta Militer di Turki?