Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Arah Sebuah Kehidupan

Arah Sebuah Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Langit kokoh berdiri tegak begitu indah, tanpa ada tiang penyangga namun tertata begitu indahnya ditambah lagi dengan sinar matahari di siang hari, bintang-bintang di malam hari, angin berhembus ke sana ke mari, Allahu Akbar walillahi Hamdu.

Di kalangan pelajar, ilmuwan, masyarakat yang giat belajar, tanpa terasa akan menyadari bahwa di luar bumi ini terdapat planet-planet yang berputar pada porosnya, semuanya sudah di atur oleh sang maha kuasa dari segala sesuatu yaitu Allah SWT. Lihatlah dan perhatikanlah di sekitarmu, bahkan di alam bumi ini ada siang silih berganti menjadi malam, ada hujan dan mendung serta ada sinar matahari menyinari bumi agar makhluk-makhluk di dalamnya tumbuh subur hingga pada akhirnya ajal/mau akan menjemputnya. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” Demikianlah bunyi firman Allah SWT. Dalam Surah Yasin, ayat 38.

Telah jelas bahwa planet-planet pun telah diatur oleh Allah. Bahkan masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang benda-benda langit nan indah ini. Namun penulis tak akan menguraikan dalam tetesan tinta ini.

So….. Sebuah pertanyaan buat diri kita semua. Siapakah yang mengatur matahari..? Siapakah yang mengatur perputaran planet pada porosnya..? Mengapa ada mati dan hidup..? Dan untuk apa, ke mana hidup ini..?. Setelah mati ke manakah jasad ini..?Apakah hancur begitu saja rata seperti tanah…?

Itulah secuil pertanyaan yang bakal muncul jika manusia menggunakan akal rasiolamnya. Namun sadarkah manusia bahwa kehidupan yang sedang dinikmati di bumi nan indah ini hanyalah sementara, manusia dibangkitkan di bumi ini hanya untuk menanam bekal menuju kehidupan abadi. Kehidupan yang belum pernah terpikirkan manusia seperti apa, dan bagaimana model kehidupan sesudah mati.

Kitab suci al-Quran dan perkataan Nabi Muhammad SAW atau orang menyebutnya dengan sebutan sabda rasul, telah mengukirkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya, ada di alam akhirat. Itulah tempat kita setelah nyawa umat manusia melayang dan kembali kepada sang pemilik nyawa. Yah…akhiratlah tempat atau dunia yang sesungguhnya, di sinilah umat manusia akan bermukim untuk selamanya. Tak mengenal mati tak mengenal jabatan seperti bupati presiden, kepala desa. Yang membedakan derajat manusia setelah mati adalah sifat Taqwa.

Bahkan bukan hanya di akhirat pada dasarnya manusia di bumi semuanya sama, namun model kehidupanlah yang membeda-bedakan semua ini, di mata Allah tak ada yang membedakan satu sama lain, Allah tak mengenal jabatan Presiden, Gubernur, Pak lurah dan lain sebagainya. Di sisi Allah orang yang paling mulia adalah orang yang bertaqwa pada Allah, yaitu orang yang patuh tunduk pada perintah Allah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-hujrat Ayat 13.)

Setelah mengkaji al-Quran dan hadits maka telah jelas terukir indah dalam firman Allah dan hadits rasul tentang ke mana arah hidup ini, dan bagaimana cara menempuh hidup ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (Menyembah) kepada-Ku.” (QS. Addzariyat: 56). Itulah salah satu perintah Allah agar kita menyembahnya, selama kehidupan di dunia ini masih melekat pada kita masing-masing.

So my brothers………In Islam, saudaraku, jalan hidup ini sudah sangat jelas yaitu menyembah Allah SWT. Lalu bagaimana cara menyembah Allah….?

Tentunya setiap muslim telah dituntut untuk mengetahui tatacara  menyembah Allah yaitu dengan beribadah kepada-Nya. Taat, patuh pada perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Salah satu bentuk penyembahan kepada sang maha pencipta adalah shalat 5 waktu.

Waktu demi waktu silih berganti, tak terasa dunia ini semakin berkembang mengikuti arus kehidupan, dan tak sedikit dari umat muslim menjadikan standar akhlaq dan pakaian dari budaya kafir barat yang bermukim di tanah eropa. Hingga tak heran jika ada muda mudi tak berpakaian ala eropa, biasanya dikatain ketinggalan zaman…..!

Hal ini sangatlah wadhih/jelas bahwa jikalau kembali ke zaman purba banyak manusia yang belum mengenal bumi Islam, cobalah sejenak menengok kehidupan manusia purba kala, mereka berpakaian ala kadarnya, Nah sekarang sebuah pertanyaan ….? Apakah mudah mudi sekarang ingin kembali ke kehidupan purba kala….?  Jawabannya ada pada diri masing-masing yang jelas al-Quran dan hadits telah mengatur alur-alur kehidupan anak manusia. Bukalah al-Quran dan hadits-hadits insya Allah arah hidup akan terarah. Wallahu a’lamu.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sukmahadi
Mahasiswa Universitas Sidi Mohammed Ben Abdellah Fez, Maroko, Afrika yang Hobby Menulis

Lihat Juga

poster-film-duka-sedalam-cinta

“Indahnya Berbagi”, Terinspirasi dari Film Duka Sedalam Cinta