Home / Pemuda / Cerpen / Cahaya Hati

Cahaya Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Ummi, mungkin itulah kata terindah yang pernah dimiliki seorang anak, di manapun ia berada, dari manapun ia berasal. Begitu pula denganku. Kata itu lah yang selalu menghiasi lembar demi lembar buku diary ku sejak kecil hingga kini, mahasiswa.

Dua tahun lalu, berita bahagia itu datang. Ya, berita kelulusan SMA ku dan berita tentang diterimanya aku di sebuah perguruan tinggi di Jawa Tengah membuat hatiku menari-nari sejak pagi. Ummi yang tau mengenai itu lantas segera menghampiriku dan memeluk, erat sekali. “Barakallah ya anak ummi yang shalihah, semoga makin rajin ibadahnya” pesan beliau di telinga kananku

Aku hanya terdiam, ada dua perasaan yang bercampur di sana. Antara sedih dan bahagia. Tak terasa butiran bening mengalir perlahan dari kedua mataku.

“Ummi, aku gak jadi deh kuliah di sana” kutatap wajah lembut ummi

“Kenapa sayang? Diambil aja, itu hadiah dari Allah loh”

Hening. Lagi lagi aku hanya diam sambil sesenggukan menahan tangis agar tak semakin menderas

Ummi, aku ingin terus berada di sisi mu, aku mau kuliah di sini saja, biaya kuliah di sana mahal. Aku tahu ummi dan Abi belum sanggup membayarnya. Kalau bisa, aku gak usah kuliah saja ummi,

Namun kata-kata itu hanya bergema di hatiku. Ah andai ummi tahu mengenai itu semua…

Sejurus kemudian ummi menatapku dalam-dalam, menepuk pundakku, lantas berlalu ke kamar.

Wajah ummi beberapa hari kemudian kulihat amat sendu. Aku tahu, itu pasti karena dalam tenggat beberapa hari lagi waktu yang diberikan untuk membayar biaya kuliah akan habis, sedangkan keadaan keuangan kami belum membaik. Selain biaya kuliahku, ummi dan Abi pun harus memikirkan biaya sekolah kedua adikku yang kebetulan pada tahun yang sama masuk SMA dan SMP. Jadilah di tahun itu kedua orang tuaku harus membiayai ketiga anaknya sekaligus

Suatu malam, saat semua orang tengah terlelap dalam mimpi panjang mereka, aku terbangun. Lamat-lamat ku dengar sebuah suara yang tak asing lagi di telinga. Suara itu, ya Rabb sedang menangis…

Perlahan aku mendekati sumber suara, sekelabat bayangan muncul tengah bersimpuh di atas sajadah biru muda, ummi dengan kepasrahannya yang besar pada sang pencipta, menengadahkan tangan seraya berdoa “ya Allah, yang maha meluaskan rizki, hamba mohon lapangkanlah rizkimu untuk anak-anak hamba. Bantu kami Rabb, bantu agar anak-anak hamba mampu melanjutkan studinya, semua engkau yang berkehendak ya rahmaan…” diucapkannya doa itu berulang kali dengan suara pelan, seolah tak ingin didengar oleh dinding sekalipun.

Perlahan, aku beringsut kembali menuju kamar dan memejamkan mata.

Pelik sekali urusan ini ya Allah, semoga esok lusa ada secercah cahaya yang kau beri untuk menerangi jalan kami yang gulita ini. Izinkan aku bermimpi sejenak dalam tidurku nanti, bermimpi tentang senyum yang selalu ku dapati kala menatap wajah teduh itu, bermimpi tentang masa kecil yang penuh warna bersamanya ya Rabb…

Kasihan sekali ummi, beliau selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan anak-anaknya. Beliau yang tidak tahan dengan bau muntah, dengan sabar membersihkan nya saat adikku sedang sakit. Beliau juga pernah berpura-pura terlihat baik ketika aku sakit,  aku mengalami hal yang menakutkan bagi remaja seusiaku. Saat itu aku mengalami pendarahan. Aku tidak tau apa yang terjadi, pukul sebelas malam aku terbangun dengan rasa kaget yang luar biasa. Aku tidak merasa sakit, tapi aku berteriak memanggil ummi dengan keras. Setengah berlari beliau mendatangiku, membantuku berganti pakaian, membuatkan teh hangat dan memanggil Abi untuk membawaku ke dokter. Malam itu, pukul setengah dua belas malam Abi membawaku menuju rumah sakit.

Esok paginya ketika aku pulang dari rumah sakit, kamarku sudah rapi seperti sedia kala. Semua bekas kejadian semalam sudah tak ada. Seolah semalam seperti mimpi saja buatku. Semua ummi yang membersihkan. Beberapa hari kemudian baru ku tahu bahwa ummi membersihkan darah yang berceceran di lantai sambil menahan mual, ya Rabb ummi ternyata trauma dengan darah.

Itu dua tahun yang lalu…

Ummi, kini aku telah resmi berstatus mahasiswa, itu semua berkat Allah dan doa-doa ummi yang membawanya melangit bersama lantunan dzikirmu untuk kami, anak-anakmu.

Ummi, sosokmu selalu menghiasi baris demi baris, lembar demi lembar buku diaryku. Senyummu, canda tawamu, amarahmu, teguranmu, semua mengkristal dalam pori-pori otakku.

Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi tak jarang masih ku temui tengah melantunkan doa-doa panjang untuk kami, anak-anaknya. Doa yang terlukis dalam hari-hari kami

Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja mengingatkanku agar tak lupa shalat, menanyakan kabar, hingga menyanyikan sebait lagu untukku, meski hanya lewat sambungan telepon.

Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja dengan setia mendengar celotehanku, memasakkan makanan kesukaanku, dan menemaniku belanja.

Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan ummi masih saja mengantarku ke stasiun, menyelipkan lembaran rupiah di tanganku, dan membawakan bekal makan siang untuk ku santap di kereta

Kini aku telah menjadi mahasiswa, dan aku masih saja belum mampu membalas semua kasih sayang dan kebaikannya.

Kini aku telah menjadi mahasiswa dan aku hanya mampu menuliskan sebait puisi pada diary yang penuh luapan rinduku padanya. Biarkan Allah saja yang membalas semua cinta yang telah diberi olehnya. Biarlah Allah mengangkat doa-doa ummi dan mengijabahnya.

Maka izinkan aku melukiskan satu rindu padanya dalam sujud malamku, dalam doa panjangku, dan dalam setiap hela nafasku. Ya Allah, cintai ia melebihi cinta ku padanya.

Ummi, saat ku menguntai hari

Ada senyummu menari pada titian pelangi

Ummi…

Tegarmu bagai karang yang kokoh

Ditempa derasnya air laut

Rinai tawamu, serupa percikan nada

yang membangkitkan nadi semangatku

Ummi…

Biarkan aku menyulam rindu

serupa gulungan ombak

agar kau selalu hadir dalam lautan hidupku

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zainab Mustaqimah
Lahir dan besar di Bekasi, tumbuh dengan kecintaannya yang besar pada dunia tulis menulis. Saat ini sedang menyelesaikan studi strata satunya di Universitas Negeri Jenderal Soedirman jurusan akuntansi. Aktif di Unit kerohanian islam fakultas Ekonomi unsoed sebagai staff syiar, dan Bem FE-Unsoed sebagai staff kementerian keuangan.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI