Abah Ejo

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sekira lima bulan lalu, Bu Ana diam-diam menaruh rasa kagum pada sosok seorang kakek di daerah pengabdiannya. Entah mengapa, setiap ia memandangnya, selalu saja terlintas bayang kakeknya yang berada jauh darinya. Perawakannya pun hampir sama. Tinggi, kurus, wajahnya pun sudah dibalut keriput, dan yang paling mengingatkannya adalah ia selalu mengenakan sarung, padu dengan kopiah. Persis dengan kakeknya nun jauh di sana.

Orang-orang sekitar mengenalnya dengan sebutan Abah Ejo, bocah di lingkungan desa Riwo pun kerap memanggilnya demikian. Pekerjaan yang dilakoninya sehari-hari, sebagai petani biasa. Sekilas tak ada yang istimewa darinya. Namun, ketaatan ibadah serta kepiawaiannya mendidik anak-anaknya patut diacungi jempol. Abah Ejo meski tidak tamat SD, namun ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Kegagalannya dalam pendidikan cukup menjadi pengalaman pahit yang tak ingin dibagi kepada keturunannya. Ia sadar bahwa pendidikan adalah sesuatu yang harus dinomorsatukan. Oleh karena itu, ia berusaha agar anak-anaknya mengenyam pendidikan yang layak. Bukan menjadi petani biasa sepertinya. Walaupun tak semua anaknya menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Tetapi semua anaknya merasakan pendidikan lebih dibandingkan dirinya yang tak tamat SD.

Tak banyak penduduk Dusun Woja Bawah yang bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Selain karena terkendala dengan biaya, juga faktor malas dan minat yang rendah terhadap dunia pendidikan. Abah Ejo, cita-citanya amat mulia, ingin anak-anaknya bermoral. Upaya yang dilakukan untuk menjadikan cita-citanya tercapai terbukti dari kerja kerasnya menyekolahkan mereka, meski ia harus membanting tulang.  Kini, ia dapat melihat hasil kerja kerasnya. Dua orang anaknya tengah menempuh pendidikannya di perguruan tinggi negeri di kota Dompu. Satu di antaranya sudah menjadi tenaga guru honor di SDN 15 Woja. Seorang anak perempuannya juga sementara menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas Dompu. Anak bungsunya masih di kelas VI SDN 15 Woja. Ia pun berencana untuk terus menyekolahkannya hingga jadi orang sukses.

Sekarang usianya menginjak 56 tahun, ia mengisi keseharian dengan turut serta mengajar ngaji di masjid dekat rumahnya. Selain itu, ia juga menjadi imam di masjid tersebut. Kegiatan itu ternyata sangat disukainya, selain bisa menambah ilmu, ia juga bisa mentransfer ilmu yang dimilikinya. Bahkan ia merasa lebih berguna ketimbang hanya duduk diam di rumah. Ketaatannya dalam beribadah patut diapresiasi.

Banyak hal yang dapat diteladani darinya, mulai dari usaha dan kerja kerasnya dalam bertahan hidup, kesuksesan dalam membangun keluarga, kepedulian dalam pendidikan, serta ketaatannya beribadah.

Taat ibadah, yah, Abah Ejo orangnya. Tak banyak warga yang peduli dengan kegiatan keagamaan yang digelutinya saat ini. Warga dusun Woja dan Fo’o Rombo lebih memilih berdiam di rumah, bercengkerama dengan cerita-cerita tak berbobot, atau lebih mengutamakan berlama-lama di lahan daripada melangkahkan kaki menuju masjid.  Sebelumnya, masjid selalu kosong. Tak satu pun jamaah yang tergerak memakmurkan masjid. Bahkan ketika waktu shalat fardhu tiba, kumandang adzan sama sekali tak terdengar. Kini, suara adzan membahana dan terdengar jelas oleh warga. Imam pun tak perlu dirisaukan lagi, ia selalu siap menjadi imam bagi jamaah dusun. Meski yang menjadi ma’mum dapat dihitung jari.

Sosok sepertinya amat dibutuhkan oleh bocah-bocah yang ada di dusun untuk membina akhlak. Sabar dan sederhana amat menonjol dari kepribadiannya. Menghadapi anak-anak pun sangat sabar. Suara keras dan amarah tak pernah ditunjukkan meskipun anak-anak yang datang ke masjid hanya datang sekadar berlari-larian. Namun, hal itu sama sekali tak menganggu aktivitasnya.

Pernah suatu ketika, saat abah menunggu waktu Isya, usai mengajar para bocah melafalkan alif, ba, ta, tsa dengan versi Mbojo, sebagian dari mereka yang datang ke masjid membuat gaduh. Berteriak dan berkejar-kejaran, bahkan di antara mereka ada yang menangis karena kelewatan bercanda. Siapa pun geram bila melihat tingkah para bocah itu, bahkan terkadang ada jamaah yang menegur dengan lantang, juga sampai menggunakan fisik. Berbeda dengan abah, sepertinya dalam pikiran Abah Ejo, tak pernah sekalipun terlintas pikiran untuk melayangkan tangan pada pundak atau bokong mereka. Hanya teguran lembut yang terdengar, “Ana’, aina ngango, mai sembeyang mena!” ‘Anakku, jangan ribut, ayo shalat semua!’ Tetapi, bukan bocah namanya, jika mendengar sekali atau dua kali ucapan demikian, lantas mereka terdiam. Sejenak, terdiam. Setelah itu, kembali gaduh. Melihat tingkah bocah yang sudah memuncak itu, Pak Deo, salah satu jamaah masjid, biasanya mendekat kemudian menegur. Suaranya lantang hingga membuat para bocah menempelkan badan di dinding masjid atau menundukkan wajah kemudian berbaris sambil saling dorong agar masuk ke dalam masjid, atau bahkan ada hingga dua bocah yang langsung mengambil sandal kemudian meninggalkan masjid.

Bila hal demikian terjadi, Abah Ejo pun kembali mendekati para bocah, menegur dengan versinya. Tak ada suara yang meninggi atau mata membelalak.

“Alae, anak toi, ciwe lao mone toi, aina bengke akkeke!” ‘Ya ampun, anak kecil, perempuan dan laki, jangan nakal di sini!” Tanpa dijawab oleh sang bocah.  Abah meneruskan nasihatnya.

“Lao ri sigi, maina sembeyang, maina tanao ngaji, laina rai, laina ngango” ‘pergi ke masjid itu untuk shalat, untuk belajar ngaji, bukan lari, bukan juga ribut’

“Midi seraa anak!” ‘Diam semua, Nak!’

Bu Ana, kerap ikut menegur.

‘Ya Allah, astaghfirullah, jangan ribut, nih. Aina ngango, mai tanao doa (jangan ribut, ayo belajar doa)!”

Pemandangan mengundang tawa pun mulai terlihat. Sontak mereka menjawab, “Iya, Bu e” sambil menundukkan wajah.

Para bocah yang tadinya, ribut, sibuk berlari-larian, akhirnya duduk manis, kemudian menggelar sajadahnya sembari mendekati Bu Ana. Ah, kalau saja Abah juga ikut menegur dengan keras. Takkan mau mereka menginjakkan kaki di masjid. Pikir, Bu Ana sambil menahan tawa. Mungkin hal demikianlah yang menjadikan Bu Ana lebih betah menunggu Maghrib dan Isya di masjid itu. Ada abah yang meneduhkan suasana.

Satu harapan yang selalu bertahta dalam hati kecilnya. Ia ingin menjadikan anak-anak di lingkungannya melek agama dan tidak buta dengan Al-Quran. Harapan itu akan selalu dipintal menjadi benang-benang kesuksesan agar asa dapat tercapai sehingga anak-anak yang dibinanya kelak menjadi manusia bermoral yang mampu menggantikannya.

Inspirasi yang diselipkan Abah ke dalam hati penulis tentu sangat banyak. Tauladan yang baik, guru inspiratif, dan sosok kakek ideal. Semoga hal ini menjadi bekal abadi yang akan selalu dikenang sehingga menjadi acuan untuk berbuat lebih banyak untuk orang-orang yang membutuhkan.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dasnah, SPd.
Fasilitator Komunitas Guru Gugus SGI Dompet Dhuafa. Bantaeng, Sulsel.

Lihat Juga

Bercermin Pada Hajar: Sudahkah Kita Menaklukkan Ego Kita?