Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berhijrah Ke MLM

Berhijrah Ke MLM

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Semacam Pengantar

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Siapa yang belum pernah mendengar MLM (multi level marketing)? Nyaris, setiap orang yang mengenyam pendidikan atau bahkan sebetulnya, warga di setiap desa pun yang belum dan tidak mengenyam pendidikan, pernah bersentuhan –baik langsung atau pun tak langsung– dengan tiga huruf yang diserangkaikan ini. Sejumlah ragam kosakata yang sering kali sekaitan dengan tiga huruf itu pun muncul, mulai dari yang positif sampai yang kurang positif –jika tak boleh mengatakannya negatif: kaya dalam waktu yang cepat, target-target dan impian, melebarnya jaringan, prospek, jadwal presentasi, tertipu, terkurasnya kekayaan, sampai pada penangkapan. Cukup. Kita tidak akan membicarakan MLM dengan konotasi yang seperti itu. Kita akan membicarakan MLM dengan konotasi dan paradigma yang baru dalam nuansa dakwah untuk peradaban di tahun baru Hijriah, Muharam 1434, MLM: Menulis Langsung Menulis. Mari kita mulai.

Menulis itu, sebuah keniscayaan

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan apa? Meninggalkan nama? Ah, rasanya bukan itu yang tepat! Manusia mati meninggalkan karya. Lebih khusus lagi, meninggalkan karya tulis hingga nama dan karyanya bisa dibaca ulang oleh orang-orang di zaman setelahnya, terus dan menerus. Menebar manfaat, mendulang pahala. Dan aku kembali bertanya retoris, bukankah ada dua tetesan yang menjadikan Dienul Islam ini tegak dan memimpin dunia selama kurun waktu 12 Abad lamanya? Ya, kedua tetesan itu adalah merah darah para syuhada dan hitam tinta para ulama. So, menulis itu, sebuah keniscayaan.

Lalu, sejarah telah dengan semerbak menebar wewangi ke seisi dunia bahwa mereka yang menulislah yang kemudian hari ini kita hirup namanya seharum kesturi, sewangi misik, dan berbau seribu bunga. Sebut misalnya guru dan murid yang menggoreskan karya inspiratif dan menjadi rujukan muslim se-dunia, Imam Malik dan Imam Syafi’i juga Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim. Sastrawan yang menjelma ulama dan berkarya dalam penjara Sayyid Qutub dengan Fii Zhilaalil Quraan-nya, Buya Hamka dengan Al Azharnya. Bahkan Hasan Al Bana yang berkata, “Saya tidak mencetak buku, saya mencetak kader” tetap kita nikmati goresan penanya, Majmuu’atur Rasaail dan Mudzakkiratud Da’wah wad Da’iyyah. Dan sampai saat ini, mereka tak pernah mati. Mereka hidup di hati umat.

Menulis itu, dakwah yang aktif-produktif

Menulislah! Dengan segenap daya yang kita miliki. Karena dalam menulis, ada upaya pengejewantahan ilmu. Ada kegigihan dalam merangkai kata. Ada kecermatan dalam memilih diksi. Ada seleksi dalam menampilkan ide. Ada unjuk yang paling gigi. Ada nuansa lain di hati, yang mengembang dan mengempis kemudian merekah dan berbunga. Ketika kata demi kata tersusun dengan rapi. Kalimat demi kalimat tertata dengan indah. Paragraf demi paragraf terbentuk dalam perwajahan ide dan pemikiran. Hingga dakwah pun, tampil dalam rupanya yang paling elok: menawan.

Soenardi Djiwandono (2008: 121) mengatakan bahwa sebagaimana hubungan antara kemampuan menyimak dan kemampuan membaca, yang sama-sama merupakan bahasa pasif-reseptif dengan rincian kemampuan yang mirip satu sama lain, demikian juga halnya dengan hubungan antara kemampuan berbicara dan kemampuan menulis. Keduanya merupakan kemampuan bahasa yang aktif-produktif yang mengasumsikan adanya isi masalah yang hendak disampaikan di samping penataan yang sistematis terhadap isi masalah tersebut agar dapat dipahami dengan baik oleh pendengar atau pembaca.

Dari pendapat sang Profesor yang telah menuliskan sebuah buku berjudul Tes Bahasa itu, kita sudah ngeuhkan tentang wujud menulis dalam tinjauan berbahasa. Nah, sekarang kita berkunjung ke Jogokariyan untuk menjumpai Ust Salim A. Fillah, yang salah satu bukunya kudu Antum baca. “Bukunya yang mana?” “Yang mana aja boleh.” Kita cermati buah pikirnya tentang dakwah, katanya, “Jika dakwah itu hanya terbatas pada ceramah, niscaya, dunia ini hanya memerlukan mulut dan telinga saja.”

Jadi, kumaha Hijrah teh, Mau? Ayo hijrah! Dari MM ke MLM, Malas Menulis ke Menulis Langsung Menulis dalam dakwah untuk peradaban.

 “…. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi,…” (Q.S. 13: 17)

Al Faqir ilaAllah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akom Al Azam
Lahir dan tinggal di Sukabumi Jawa Barat. Lelaki yang sedang berusaha berbenah diri dan membenahi negeri.

Lihat Juga

Habiburrahman El Shiraj dalam talkshowpun bertema “Hijrah Nabi Muhammad SAW dan Pembentukan Karakter Pribadi Pemimpin Masa Depan”. Sabtu (29/10/2016). (YY Farikha/FORKOMMI)

FORKOMMI Gelar Talkshow Hijrah Rosulullah SAW dan Pembentukan Karakter Pribadi Pemimpin Masa Depan