Home / Berita / Perjalanan / Catatan Perjalanan Haji (Bagian ke-3) : Kiprah ‘Para Penuntun Jalan di Mina

Catatan Perjalanan Haji (Bagian ke-3) : Kiprah ‘Para Penuntun Jalan di Mina

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kasus orang kesasar…tersesat terbilang bukan kali ini saja terjadi, sudah sering terjadi. Bayangkan sekitar 221.000 jamaah Indonesia dan ratusan ribu jamaah dari negara lain tumplek blek dalam satu waktu dan tempat. Mereka menjalani ritual haji berupa melempar jumrah di Mina.

Seseorang kerap kali bingung karena belum banyak beradaptasi. Apalagi memasuki
daerah baru, kondisi ini juga dialami para jamaah haji, khususnya dari Indonesia selama ritual jumrah di Mina. Sejak hari pertama pelontaran jumrah Aqabah, tak terhitung jamaah yang tersesat lupa jalan pulang ke maktab ataupun lokasi jamarat.

Jumlah jamaah yang tersesat semakin banyak di saat-saat waktu afdhal. Sebab di waktu tersebut banyak jamaah dari penjuru dunia berbondong-bondong menuju jamarat. Umumnya jamaah juga semakin kebingungan lantaran tak mengerti petunjuk-petunjuk yang disampaikan polisi atau petugas Arab Saudi, bahkan ketidakmampuan membaca peta lokasi.

Sebagian besar jamaah tak tahu jalan utama menuju perkemahan Indonesia karena jaraknya 3-4 kilometer dari jamarat. Mereka semakin takut karena setiap berhenti sejenak akibat kelelahan langsung diminta terus berjalan oleh askar atau petugas yang lain. Tak hanya usia lanjut, jamaah yang tersesat juga banyak yang masih berusia muda.

Sebenarnya dengan adanya terowongan baru yang menghubungkan kawasan maktab jamaah haji Asia Tenggara ke Jamarat yang dioperasikan musim haji tahun ini. Kemungkinan tersesatnya makin kecil. Tetapi yang namanya tersesat kerap saja terjadi.

Seorang ibu tua tampak kebingungan di tengah lautan orang yang tengah menuju Jamarat. Saat itu lepas Zhuhur ketika para jamaah bergerak dari tenda-tenda mereka untuk melempar jumrah. Tapi kondisi Jamarat memang sedang penuh-penuhnya karena semua jamaah berpikir ‘inilah waktu afdhal untuk lempar jumrah’.

Hm….pasti ibu ini kesasar. Dilihat dari baju ihramnya, beliau asli jamaah haji Indonesia. Cirinya berwarna putih. Nenek tua ini tampak kebingungan saat diajak bicara. Hanya diam dengan pandangan kosong. Sesekali bicara dalam bahasa daerah yang tidak dapat dimengerti. Beliau tersesat berjam-jam, berputar-putar di antara ribuan tenda-tenda yang bertebaran di sekitar Jamarat.

Beruntunglah ibu itu, karena tidak jauh dari tempat ibu itu berdiri datanglah serombongan anak-anak muda berkepala plontos menghampiri. Dengan penuh penghormatan anak-anak muda itu menawarkan pertolongan untuk menemukan kembali tendanya. Tampak wajah ibu tua itu sumringah penuh kegembiraan. Anak-anak muda itu menyiapkan kursi roda buat ibu itu, sebab kondisi si ibu yang sudah kelelahan sementara jarak tempuh ke kemah Indonesia masih jauh.

Saat kursi roda mulai bergerak, kali ini tumpahlah tangis si ibu dengan tak tertahankan. Ada haru yang tak terbendung. Dengan tak putus-putusnya si ibu itu terus berdoa sepanjang perjalanan menuju kemahnya. Subhanallah!

Catatan ini saya dedikasikan teruntuk para relawan di Posko PKS-PU Saudi, sebagai apresiasi yang luar biasa atas kiprahnya selama 8 tahun memberikan pelayanan sebagai khidmatul hujjaj. Tanpa pamrih, tanpa publikasi. Semoga Allah membalas semua khidmah Antum dengan kebaikan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba