Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Setelah Kita Dapatkan Mimpi-Mimpi Indah Kita, Lalu Apa?

Setelah Kita Dapatkan Mimpi-Mimpi Indah Kita, Lalu Apa?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Setelah kita dapatkan mimpi-mimpi indah kita, lalu apa? 
jika kita punya 100 mimpi, dan semua menjadi nyata, lalu apa?
hidup bukanlah upaya menggapai mimpi lalu pergi dengan hura-hura dan tawa,
ternyata tetap butuh tanggung jawab dan kesadaran bahwa inilah kehidupan yang tetap harus diperjuangkan…

Ilustrasi (templates.com)

dakwatuna.com Menjalani mimpi yang menjadi nyata itu ternyata tidak seindah bayangan ketika memulai untuk merangkai mimpi. Bukan sedang ingin mengeluh, tapi semoga perjalanan satu episode ini bisa menjadi sebuah pelajaran tidak hanya untuk saya, tapi juga siapapun yang menginvestasikan waktunya untuk membaca sebuah corat coret pena.

Bangunan mimpi ini saya bangun 2 atau setengah tahun yang lalu. Ceritanya saat itu saya mengalami galau tingkat akut. Bingung antara akan bekerja atau meneruskan pendidikan. Satu sisi, ibu saya dengan mimpi bahwa anaknya harus punya profesi dan mampu membiayai hidup sendiri, dan ayah saya yang di masa-masa pensiunnya, saya paham beliau khawatir pendidikan lanjutan itu tidak sanggup terselesaikan karena masalah biaya. Pada akhirnya saat itu saya memutuskan untuk memasukkan surat lamaran di sebuah sekolah yang menurut saya bukanlah sembarangan dan saya pilih karena memang atmosfirnya yang “ikhwah” dan ternyata alhamdulillah saya lolos seleksi dan menjadi staf pengajar di sana dan banyak belajar tentang Islam dalam bangunan masyarakat ideal.

Namun, apa mau dikata, selama perjalanan mengajar dan berada dalam zona nyaman itu, batin saya malah seakan tersiksa, dan kadang saya menjadi zhalim pada bocah-bocah tanpa dosa, hanya karena ketidaknyamanan saya dengan profesi mengajar itu. Dengan ketidaknyamanan itu saya pun mulai merangkai mimpi lama untuk bisa melanjutkan pendidikan, menyusun rencana dan strategi, berharap ini dan ini terjadi setelah pendidikan itu terjalani, dan banyak hal lain yang intinya mimpi itu dalam bayangan saya mulus tanpa halang dan rintang.

Mencari celah dan kesempatan, berdoa dan memohon sangat-sangat agar bisa diberi jalan hingga akhirnya jalan itu muncul. Setelah sempat gagal di ujian seleksi pertama, akhirnya lolos di ujian seleksi kedua, dengan jurusan yang sebelumnya tidak pernah saya sangka. Tapi itulah putusan Allah

Dan inilah mimpi yang di penuhiNya…

Doa-doa di kala safar, doa-doa di kala hujan, doa-doa milik ibu, doa di antara sujud-sujud panjang yang akhirnya terkabulkan. Tapi…. sepertinya saya sempat tidak sadar bahwa selama di dunia, seperti setiap badai yang pasti akan berlalu, maka setiap pesta pun akan tetap punya akhir, dan tentu saja gelaran karpet merah pun tetap saja akan digulung. Menjalani mimpi itu bukanlah sebuah jalan aspal mulus tanpa batu, bukanlah taman bunga tanpa ulat, atau istana tanpa gudang, kenyataan dunia pastilah diberi ujian, untuk melihat seberapa panjang, luas, dan dalam rasa syukur terhadapNya.

Dan perjalanan ini pada akhirnya tidak semulus dan seindah bayangan. Senyum kecut mulai mengembang ketika sadar, bahwa sekarang saya berdiri sendiri tanpa topangan “ikhwah”, perbedaan status sosial yang membuat saya ternganga, geliat semangat akademik, standar belajar yang membuat tidur tak nyenyak, dan semua perbedaan yang membuat saya sempat berpikir, mendapatkan mimpi itu tidak seindah kata-kata Pak Mario Teguh J. Mulailah satu-satu kebiasaan baik yang saya dulu bangun menjadi hilang, kerja saya hanya memperbanyak tidur untuk bisa kabur, banyak mengeluh di jejaring sosial bahkan di inbox-inbox orang. Intinya saya kehilangan rasa syukur.

Sampai akhirnya di titik ini saya mulai sadar mungkin inilah ujian Allah. Sepertinya Ia sedang menagih semua janji-janji. Janji untuk lebih berguna, janji untuk tetap manfaat, janji untuk tetap bersyukur, dan semua janji-janji manis yang di ucap dalam doa-doa saya (dulu).

Maka, mimpi itu memang berbeda dengan nyata. Dan sekarang ini bukan lagi sebuah mimpi, ini kenyataan yang jika saja saya analogikan, jalan aspal itu tetap saja bisa memiliki lubang yang bisa membahayakan, taman bunga itu harus rela bertemu ulat-ulat sebelum bertemu dengan kupu-kupu, dan gulungan karpet merah perayaan, waktunya ia ditutup dan terlihatlah jalan raya, yang akan ada lampu merahnya, persaingan antar pengemudi di dalamnya, tikungan, tanjakan, turunan, dan tidak selamanya datar.

“Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan???” (Q.S. Ar Rahman)

Setelah satu episode perjuangan panjang yang berbuah keberhasilan, tentu akan ada lagi ujian, begitu terus hingga sampailah pada ujung jalan pajang kehidupan manusia. Yang bukan lagi di perjuangkan untuk menjadi baik atau membiarkannya tersia-sia menjadi tidak baik, tapi pertemuan dengan penilaian mutlak yang menentukan di manakah tubuh dan jiwa ini akan abadi.

Maka setelah satu episode perjuangan panjang yang berbuah keberhasilan, tetaplah bersyukur atas segala nikmat, tetaplah melakukan yang terbaik, dan penuhilah janji-janji yang pernah terucap bersama doa-doa penuh harap.

Maka setelah satu episode perjuangan panjang yang berbuah keberhasilan, tetaplah berdoa padaNya, berlindung memohon pertolonganNya, bukan lagi keluh, bukan lagi angkuh. Karena hidup ini hanya untuk mencari ridhaNya, ridha Allah azza wajala.

Waalalu’alam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nuram Mubina
Seorang yang mencintai dunia psikologi dan proses mempelajari perilaku manusia serta menyenangi ketika menemukan keunikan mereka. Akan terus belajar dan belajar untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Lihat Juga

“Indahnya Berbagi”, Terinspirasi dari Film Duka Sedalam Cinta