Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Karena Surga Begitu Manis

Karena Surga Begitu Manis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dunia, Di manakah Posisiku Kini?
Pernahkah kau bayangkan arti sebuah lapangan bagi seorang atlet? Lapangan adalah medan terjal yang panjang lagi berduri. Di sana segala persiapan dipertaruhkan, di sana semua tenaga dikerahkan, di sana peluh tak lagi terhitung jumlahnya, di sana nafas sepenggal demi sepenggal diusahakan.Di lapangan itu.

Atau kau bayangkan arti lapangan bagi seorang penonton? Ia adalah tempat hiburan yang paling menyenangkan. Segala hiruk pikuk kemeriahan berderai. Sorak sorai penuh canda tawa pun terdengar keras. Makanan, minuman dan tontonan menjadi pertunjukan yang begitu meriah. Di sana setiap orang bebas mengekspresikan apapun yang diinginkannya.Sebagiannya memuji dan sebagian lainnya mencela permainan yang sedang berlangsung.Untuk itu mereka sungguh telah menghabiskan banyak tenaga dan biaya.Di lapangan itu.

Pernahkah kau berpikir arti lapangan bagi seorang wasit? Lapangan menjadi tempat kekuasaannya. Ia lah yang dengan leluasa menilai mana yang menang dan mana yang kalah. Di tempat yang dekat dengan pemain namun ia selalu terlindungi. Di sana setiap pemain akan tunduk terhadap aturan darinya. Di lapangan itu.

Pernahkah kau bayangkan arti lapangan bagi seorang pengamat? Ia ada jauh dari tempat itu, jauh ditempat yang sangat nyaman. Namun ia akan dengan sangat leluasa menilai semua yang ada di lapangan. Ia memang tak punya andil apapun pada apa yang terjadi di lapangan, namun komentarnya tentang keadaan lapangan selalu ditunggu oleh siapapun.

Begitulah seni melihat…

Kini coba kembali merefleksikan diri, apa yang kau pikirkan tentang dunia ini? Apakah dunia ini masih terlihat sebagai tempat nyaman dengan segala fasilitasnya? Masihkah dunia ini terlihat begitu mulus tanpa kerikil dan onak duri? Berhati-hatilah kawanku, mungkin engkau tak lebih dari seorang penonton di dunia ini. Berhati-hatilah ketika kau terlalu betah berlama-lama dalam zona nyamanmu tanpa kau sadari. Berhati-hatilah ketika kau hanya mampu bersorak dan berteriak terhadap keadaan di sekelilingmu tanpa melakukan apapun. Berhati-hatilah kawanku, karena tak ada seorang pun dari ribuan penonton yang akan menjadi pemenang…

Ataukah mungkin kita ada di posisi sang juri, yang memegang andil pada kemenangan dan kekalahan orang lain tanpa pernah ikut bermain. Kau ada di lapangan, kau ada di medan juang itu namun kakimu masih terlalu kaku untuk bergerak. Kau senang menilai tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, tanpa pernah bertindak. Tanpa tindakan maka nilai benar dan salah hanya fiktif. Berhati-hatilah kawan, ketika engkau begitu dekat dengan jalan kesuksesan namun kau memilih diam dan menyibukkan diri untuk menilai orang lain. Berhati-hatilah kawan, karena hanya akan ada satu juri dan dia tak akan pernah menjadi pemenang…

Mungkin juga kita tak pernah sadar kita hanya menjadi pengamat di dunia ini. Duduk di tempat yang sangat jauh dari medan perjuangan memang akan membuat dunia terlihat damai. Kau mengamati apa yang terjadi, kau sungguh tahu semua ilmu dan strategi di medan itu, namun kau tak sedikit pun berniat turun ke medan itu. Kau memiliki kapasitas yang cukup untuk berjuang namun kau memilih mengamatinya saja. Pasif dalam zona nyamanmu. Berhati-hatilah kawan, juga karena dari beberapa pengamat tak satu pun berhak menjadi pemenang…

Ataukah kau orang yang terlihat begitu aneh itu kawanku? Yang melihat dunia dengan segala perhiasannya menjadi medan yang berduri lagi terjal. Yang peluhnya mengalih deras sementara yang lain berleha-leha. Yang air matanya mengalir syahdu mengharapkan tempat kembali yang terbaik sementara yang lain tertawa terbahak. Yang nafasnya tersenggal sementara yang lain bersantai melenakan diri. Yang mengharap pertandingan segera usai dengan membawa kemenangan sementara yang lain enggan pulang karena terlalu nyaman di kursinya masing-masing? Padahal semuanya sungguh sangat mengetahui bahwa lapangan itu pasti akan ditinggalkannya, cepat ataupun lambat, suka maupun tidak. Dan semua akan pulang tanpa harapan membawa kemenangan kecuali mereka, segelintir orang-orang yang mau bergerak, segelintir orang-orang yang mau bersusah, segelintir orang yang beberapa waktu lalu terlihat begitu aneh. Hanya merekalah yang kembali dari lapangan dengan membawa kemenangan, atau pulang dengan membawa kenangan manis tentang beratnya perjuangan di medan itu. Hanya merekalah orang-orang yang berani. Hanya mereka yang menentukan hidupnya untuk menjadi seorang pemain.

“Karena surga sungguh terlalu indah untuk sekadar ditonton, diawasi maupun diamati, ia harus diusahakan dengan sepenuh jiwamu, dengan peluh, dengan semangat, dengan semua yang masih bisa diusahakan, kini dan nanti…”

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mutia Gadri
Mahasiswi jurusan Sains dan teknologi farmasi ITB 2009. Sedang menempuh tahun terakhir pendidikannya di ITB. Aktif dalam berbagai kegiatan agama dan pengabdian masyarakat.

Lihat Juga

Bocah Suriah berusia 5 tahun, Omran Daqneesh, yang diselimuti debu dan darah, duduk di dalam ambulance setelah diselamatkan dari puing-puing reruntuhan bangunan yang terkena serangan udara Rusia di Aleppo pada 17 Agustus 2016. (Mahmoud Rslan / Getty Images)

Si Kecil Omran, Durrah, dan Tangisan Dunia