Home / Berita / Opini / Lebih Pintarkah Kita dari Imam Malik?

Lebih Pintarkah Kita dari Imam Malik?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bisa dibilang sekarang itu zaman yang semua serba terbuka, karena sudah tidak ada lagi yang tertutupi. Semua, siapapun di penjuru bumi ini karena kemajuan zaman dan teknologi sekarang ini, akan terlihat oleh siapapun ketika dia memposting atau mempublikasikan apa yang ia lakukan ataupun ia katakan.

Dan ini buruknya, dengan semuanya yang serba terbuka, ini juga mengundang siapapun bisa menjadi komentator-komentator ecek-ecek yang tak berilmu namun gaungnya sangat besar. Apapun yang terlihat akan serta merta dikomentari tanpa harus mengetahui apa duduk masalahnya. Pun dia tidak peduli bahwa yang dikomentari itu masalah yang ia tidak punya keahlian di dalamnya.

Ini seperti tren. Kita lihat saja di media social, baik itu yang massif atau hanya bersifat hanya komunitas. Apapun masalahnya (apalagi yang sensitive) pasti ramai dikomentari. Tidak peduli ia tidak tahu masalah yang dibicarakan yang penting ingin terlihat pintar dan tidak mau kalah dengan komentator lain yang sama-sama tidak punya keahlian di dalam masalah yang dibicarakan.

Tiba-tiba banyak yang menjadi ahli agama, tiba-tiba pula banyak yang menjadi ahli olahraga, tiba-tiba juga banyak yang jadi pengamat politik. Walaupun hanya sebatas komentar “basi” di media social. Tidak puas hanya komentar, ia serang juga lawan komentarnya yang berbeda pemikiran dengan dia. Dan di dunia maya ini, kita semua sudah tahu, banyak kata-kata kotor berseliweran sana-sini. Karena memang mungkin dunia maya tidak mengenali wujud asli, semua orang bisa bebas tanpa rasa takut mengolok-olok lawan bicaranya.

Apa yang terjadi di dunia maya tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Dalam sebuah majelis agama, yang itu disiarkan secara nasional, seorang pemuka agama (penceramah) dengan menggebu-gebu membahas soal politik dalam majelis yang mulia itu.

Parahnya beliau dengan amat yakin menyalahkan salah satu pihak yang sedang bertikai itu, padahal masalahnya sampai sekarang pun belum clear siapa yang salah dan siapa yang benar. Secara langsung beliau menggiring opini Jamaah majelis untuk menyalahkan pihak tersebut. Padahal sama sekali ia bukan ahli politik, tidak berpartai, tidak juga sebagai pejabat pemerintahan. Beliau seorang Ustadz, baiknya bicara saja yang sudah menjadi bidangnya. Berbicara padahal tidak punya ilmunya.

Pun demikian, seorang politikus dalam sebuah forum diskusi politik, dengan Pe-Denya ia membicarakan syariah di depan layar kaca yang ditonton oleh seluruh manusia se-Indonesia, mungkin di luar Indonesia juga. Parahnya dia mengkritik pihak ulama setempat yang -katanya sendiri- telah salah dalam mengeluarkan fatwa. “Nyantri ngga pernah, kuliah syariah pun tidak, tapi berani memberikan kuliah agama?” di mana logikanya?

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk jadi orang yang sok tahu, bicara sana bicara sini tanpa tahu ilmunya. Tidak ada ajaran dalam agama ini yang menganjurkan kita untuk menjadi orang yang harus tampil di semua bidang. Sifat kerendahan diri sangat digalakkan di mana setiap muslim harus berhati-hati dengan apa yang ia bicarakan, bahkan Islam mengajarkan kita untuk diam, kalau memang itu bukan bidang kita.

“Dan janganlah kau berdiri (berbicara) pada sesuatu yang kau tidak ketahui” (QS Al-Isro 36)

Para sahabat Nabi Ridhwanullahi ‘Alaihim, ketika ditanya oleh Nabi saw tentang suatu perkara, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin tampil agar di pandang oleh Nabi kemudian menjawab pertanyaan tersebut. Mereka dengan ke-tawadhu’an mereka menjawab: “Allahu wa Rasuluhu A’lam” (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ini)

Abu Musa Al-Asy’ari RA pernah ditanya oleh seseorang tentang jatah anak perempuan bersama cucu perempuan beserta saudari mayyit dalam ilmu Faroidh. Beliau tidak langsung menjawab, beliau hanya mengatakan: “datangilah Ibnu Mas’ud, beliau lebih tahu dari aku dalam masalah ini”. (HR Al-Bukhari). Beliau tidak malu dikatakan sebagai seorang yang dangkal ilmu, karena memang beliau tidak mengetahui masalah tersebut.

Pun demikian dengan Nabi Muhammad saw. Banyak masalah yang ditanyakan kepada beliau saw tapi beliau dengan tawadhu’nya menangguhkan jawaban sampai beberapa hari. Beliau berdoa dan meminta wahyu kepada Allah swt atas pertanyaan tersebut. Beliau tidak langsung menjawab! Dan memang banyak ayat Al-Quran yang turun karena permintaan wahyu dari Nabi atas jawaban yang datang kepada beliau saw.

Nabi Muhammad yang menjadi sumber ilmu pun seperti itu, tidak menjadi sok tahu. Tapi umatnya sekarang ini, wow semua pertanyaan dibabat habis. Malu kalau harus menunda sehari dua hari. “Jawab aja sekarang, malu kalau dibilang ngga tau!” begitukah seorang muslim?

Sama saja seperti menenggelamkan diri di dalam samudera padahal ia tidak bisa berenang. Naudzubillah.

Dalam Ihya’ Ulumudin, Imam Ghozali menyebutkan sebuah riwayat, bahwa Imam Malik pernah didatangi oleh seorang dari negeri yang jauh untuk menanyakan kepada beliau perkara agama, dan dalam kantongnya, ia sudah menyiapkan 40 pertanyaan. Imam Malik menjawab 4 dari pertanyaan tersebut dan sisanya beliau jawab dengan jawaban yang sama: “Laa Adriy” (Saya TIDAK TAHU). Sontak saja peziarah dari negeri yang jauh itu kesal, dan mengatakan: “orang-orang menyebutmu sebagai Faqihul-Ummah (Imam Fiqih Umat), dan saya datang dari daerah yang jauh lalu Anda hanya menjawab “Laa Adriy”???”

Dengan tenang Imam Malik menjawab: “sekarang, kembali lah kau ke negeri asalmu. Lalu katakanlah kepada semua penduduk negeri bahwa kau telah datang kepada ku untuk bertanya, tapi aku hanya menjawab Laa Adriy!”

Lihat bagaimana tawadhu’nya Imam Malik, padahal tidak ada yang meragukan ilmu beliau. Bukan karena pelit ilmu beliau tidak menjawab, karena memang beliau tidak mengetahui perkara itu. Seorang Muslim tidak akan berbicara atas perkara yang sama sekali ia tidak tahu ilmunya.

Lebih pintarkah kita dari Imam Malik???

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Zarkasih
Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989.
  • Ulil fikri

    Makasih banyak yaa, jazakumullah bifadlihi amiin.

Lihat Juga

Hudzaifah Sang Paradoks Akhir Zaman