Home / Berita / Perjalanan / Catatan Perjalanan Haji (Bagian Ke-2): Penebar ‘Harum’ Di Bukit Shafa

Catatan Perjalanan Haji (Bagian Ke-2): Penebar ‘Harum’ Di Bukit Shafa

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan shaf di Masjidil Haram, apalagi kalau sudah dikumandangkan adzan. Untuk itu kita harus rela datang lebih awal dua jam sebelum masuk jadwal shalat.

Jika tidak, kita terpaksa berdesakan di gang-gang dalam masjid, sambil mencari-cari tempat, dan sebentar kemudian akan segera diusir petugas, “Thariiq…thariiq…!” “Kasih jalan…Kas
ih jalan” “Jangan berhenti di jalan!”

Masih beruntung jika kita mendapatkan sela-sela tempat sekadar untuk duduk, sehingga saat iqamah bisa langsung masuk shaf yang memungkinkan kita shalat. Alhamdulillah sejak ketibaan selama dua hari, bagi saya cukup untuk ma’rifah maidaniyah. Artinya sudah mendapatkan tempat yang PW (posisi…wueenak tenan). Tepatnya masuk dari pintu King Abdul Aziz yang langsung lurus dengan Ka’bah, belok sedikit terus turun ke bawah. Kalau kita terus susuri tempat ini maka akan ketemu bukit Shafa yang menjadi start untuk melakukan sa’i.

Ruangannya cukup sejuk walau tetap sesak dengan jamaah, yang sebagian besar berasal dari Asia Selatan…IPB…India, Pakistan, Bangladesh–terlihat dari gelang karet yang mereka kenakan. Sampai beberapa hari menjelang ke Mina, inilah tempat I’tikaf yang menjadi favourite saya dari ‘Ashar hingga ‘Isya setiap hari selama di tanah Haram.

Selepas ‘Ashar saya bergeser mendekati Bukit Shafa karena agak lowong dan jamaah yang sedang sa’i pun mulai agak berkurang. Betul-betul nyaman buat I’tikaf. Tapi beberapa saat menjelang Maghrib, seperti biasa jamaah sudah mulai berdatangan dan berdesakan. Begitu seterusnya pasang surut jamaah dalam memenuhi shaf-shaf shalat mereka.

Dan antara waktu Maghrib dengan ‘Isya, akan muncul sesosok remaja belasan tahun, berambut ikal hitam, bersahaja dengan wajah tampak selalu tersenyum penuh welas asih. Pandangan matanya begitu teduh menyejukkan kalbu manakala menatap sosok pemuda bergamis putih seperti kebanyakan pemuda Arab ini.

Dia menghampiri setiap orang di masing-masing shafnya. Setiap orang menjulurkan tangannya saat dihampiri si pemuda ini. Karena jamaah serempak menjulurkan tangan jadi terkesan seperti penari Kecak Bali dengan tangannya yang lincah. Rupanya setiap punggung tangan para jamaah dioleskan parfum. Maka jadilah sekitar Bukit Shafa harum semerbak mewangi, tersebar ditiup kipas angin yang tidak pernah berhenti.

Subhanallah, sebuah pemandangan yang menakjubkan. Apa yang dilakukan pemuda itu sebenarnya amat sederhana tapi sangat berarti buat para jamaah, minimal menghilangkan aroma-aroma tak sedap yang ditimbulkan dari keringat yang sepanjang hari berpeluh di terik matahari.

Sungguh areal untuk berbuat kebajikan itu amat luas, seluas pikiran kita untuk menjangkaunya. Jangan dipersempit dengan kepicikan dan ketidakpedulian kita terhadap sesama. Dunia akan terasa indah bila dipenuhi dengan para penebar kebaikan, seperti pemuda itu…di hampir menjelang ‘Isya, setiap jamaah menengok ke kiri dank ke kanan…menanti ‘Penebar Harum’ itu datang…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Ilustrasi - Ramadhan di Masjid Al-Hikmah, Jakarta Selatan (Al-Hikmah)

Masjid Ramah Anak

Organization