Home / Berita / Perjalanan / Catatan Perjalanan Haji (Bagian ke-1): ‘Malaikat’ Di Tanah Suci

Catatan Perjalanan Haji (Bagian ke-1): ‘Malaikat’ Di Tanah Suci

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Di panas terik yang menyengat, sebuah bus sarat penumpang bergerak perlahan. Inilah bus yang mengangkut jamaah menuju Arafah dari Makkah-Isarah sitten. Tiba-tiba bus berhenti untuk mengisi bensin. Dilihat dari jendela bus yang semuanya terbuka, bisa dipastikan AC bus ini tidak berfungsi. Sementara di depan masih berjejer antrian bus lain menunggu giliran layanan BBM.

Wah betul…betul….ujian kesabaran bagi para jamaah haji, antrian panjang, penuh sesak dan subhanallah…panas yang terik.

Namun seperti sebuah keajaiban saat bus sedang antri mengisi BBM, tiba-tiba muncullah pemuda berpakaian ihram berlari menuju Bhagalah (minimart) dan apa yang dilakukan Pemuda Mesir ini…? Dia pergi memborong Air Minum beberapa karton yang dingin kemudian dibagikan kepada semua penumpang yang naik Bus, tidak cukup dengan itu dia juga bersedekah dengan membeli kue-kue manis untuk dibagikan satu persatu kepada seluruh penumpang!

Subhanallah! Saya sering melihat hal ini banyak dilakukan para relawan (pemuda Arab) dan juga para pendatang dari berbagai negara.

Jadi bagi jamaah haji Indonesia yang ingin berbuat sesuatu kebaikan atau shadaqah di Masjidil Haram, sebetulnya tak perlu banyak uang dan tidak mesti uang. Jika sekadar ingin berbagi pada sesama jamaah yang sedang beribadah di Masjidil Haram..!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah