Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Biarkan Laut Biru Pasang Bergelombang

Jangan Biarkan Laut Biru Pasang Bergelombang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nyepsycho.wordpress.com)

dakwatuna.com Adzan Isya berkumandang kami harus sudah berkumpul di rumah Fulan. Bada’ shalat Isya di mushalla Baiturrohman, dekat rumah Fulan, kami langsung menuju ke tempat acara diadakan. Jika tak salah perhitungan, kami akan tiba di lokasi beberapa menit sebelum acara dimulai.

Tiba di depan pintu rumah Fulan, sebelum kami sempat mengucap salam, kami mendengar suara seperti orang sedang marah dari dalam rumah Fulan. Sepengetahuan kami, Fulan hanya tinggal bertiga bersama istri dan anak tunggalnya, tak ada orang lain lagi yang tinggal di rumah sederhananya. Meski tidak setiap hari kami datang ke rumah Fulan, kami cukup hafal dengan suara yang baru saja kami dengar. Tak salah lagi, itu suara istri Fulan, yang entah karena ada persoalan apa, sepertinya dia sedang marah terhadap Fulan. Tapi selama kami berdiri terpaku di depan pintu – layaknya orang linglung tak tahu harus berbuat apa, mengetuk pintu atau sebaiknya balik kanan saja, membatalkan rencana – tak sekalipun terdengar suara Fulan.

Kami tak bisa menyembunyikan salah tingkah saat Fulan membuka pintu, meminta kami menunggu sebentar. Dia melambaikan tangan, menyuruh kami tak terus-terusan meminta maaf.

Perasaan tak enak tetap membayangi meski setengah jam berikutnya kami telah berjalan bersisian menuju tempat acara diadakan. Kami baru merasa lega setelah Fulan menceritakan duduk persoalan, mengapa sang istri marah padanya.

“Kasihan istriku. Sehari-harinya ia mengurus anak, rumah dan menyiapkan segala keperluanku seorang diri. Sedikit sekali pekerjaan yang bisa kubantu. Sebagian besar waktuku tersita untuk pekerjaan di kantor. Barangkali rasa capeklah yang memicu emosinya tadi. Karenanya aku mengalah, memilih diam tak membantah. Terlebih sebenarnya ada faktor kesalahanku juga. Aku lupa memberi tahu rencana kita.”

“Kalian tenang sajalah, semua sudah bisa diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah. Setelah kujelaskan, ia bisa mengerti dan mengizinkan aku pergi. Kalian lihat sendiri bukan, istriku tadi mengantar sampai di depan pintu? Dan maaf apabila adegan cium tangan dan kening tadi membuat kalian iri hati!” Fulan terkekeh, sengaja menggoda kami yang memang terlihat sedikit bengong melihat adegan seperti yang Fulan sebutkan. Jika tak melihat sendiri, sulit rasanya kami percaya. Beberapa menit sebelumnya masih bertengkar, secepat itu sudah akur kembali bahkan terlihat mesra sekali.

Ingatanku membawa pada sebuah kisah seseorang yang mendatangi rumah Khalifah Umar bin Khathab untuk mengadukan perihal sang istri yang marah-marah padanya. Namun niat itu akhirnya ia urungkan. Bagaimanalah ia akan mengadukan perihal rumah tangganya pada sang Khalifah bila beliau sendiri sedang dimarahi sang istri. Satu yang pasti, tak terdengar sekalipun suara sang Khalifah menjawab omelan sang istri. Itu pula yang kudapati pada Fulan. Hampir bisa kupastikan, Fulan meneladani pribadi sang Khalifah dalam mengatasi problematika rumah tangganya. Seorang laki-laki, suami, dengan segala kelebihannya bukan berarti ia harus selalu menang terhadap istri, wanita yang dengan tulus hati berusaha memenuhi tugasnya, melayani suami sebaik-baiknya.

“Apakah setiap ada masalah, secepat itu bisa kalian selesaikan?” aku tertarik untuk bertanya.

Fulan tersenyum sebelum menjawab. “Terus terang tidak. Ada kalanya kami saling berdiam diri, tapi tetap tak pernah lebih dari tiga hari. Dan bila terpaksa terjadi, kami sudah saling berjanji untuk tidak membawanya keluar rumah, ke tempatku bekerja. Meski emosi masih tinggi, masalah belum bisa diatasi, saya selalu pamit sebelum berangkat kerja ataupun pergi ke mana. Begitu pun istri, walau marahnya belum habis, ia akan menjawab salamku, mengantar sampai di depan pintu, mencium tangan dan menungguku mencium keningnya.”

Subhanallah! Aku memang tak melihat sendiri apa yang barusan Fulan katakan, tapi aku tak meragukan kebenarannya. Sesungguhnya yang demikian bukanlah hal yang mustahil. Juga bukan hal yang sulit seandainya kita mau mengusahakan. Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Kalaupun belum tuntas diselesaikan, jangan dibawa keluar rumah, sampai mengganggu pekerjaan. Tinggalkan sementara persoalan, gunakan waktu jedanya untuk saling berintrospeksi. Bukan tidak mungkin, ketika kembali ke rumah, masalah bisa langsung diselesaikan karena masing-masing telah menyadari, mengerti dan juga memahami.

Ada satu kalimat dari Fulan yang akan terus kuingat. Barangkali Fulan mencupliknya dari judul atau syair sebuah lagu, tapi apapun itu menurutku sangatlah bijak. Fulan katakan, ketika perselisihan suami istri terjadi, pertengkaran tak bisa dihindari, jangan biarkan laut biru pasang bergelombang. Jangan sampai emosi semakin meninggi karena masing-masing tak mau mengalah, mengerti atau setidaknya mendengarkan. Pasti akan ada waktu untuk menjelaskan. Jangan maunya didengarkan, sediakan waktu pada untuk mendengar penjelasan. Banyak masalah menjadi jauh lebih besar dari semestinya karena masing-masing maunya didengarkan, tak mau mendengarkan sehingga penjelasan yang semestinya bisa menyelesaikan justru memperparah keadaan.

Satu kesadaran, sekaligus pelajaran kudapatkan dari (rumah tangga) Fulan. Sama, setiap rumah tangga tiada lepas dari permasalahan. Berbeda pandangan hingga berselisih dan bertengkar adalah bumbu-bumbu dalam berumah tangga. Tapi apa yang menjadi penyebab dan bagaimana mengatasinya, itu yang berbeda. Dan satu nasihat bijak, jangan biarkan laut biru pasang bergelombang, yang selama ini Fulan terapkan dalam rumah tangganya patut kiranya diterapkan dalam rumah tangga kita. Bagaimanapun, marah tak akan menyelesaikan masalah. Masalah lebih mudah diselesaikan bila salah satu pihak mau mengalah, jangan terpancing emosi walau sebenarnya berada di posisi yang benar.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Suami Suka Marah Karena Kecanduan Game, Apa yang Harus Saya Lakukan?