Home / Pemuda / Cerpen / Jalan Cinta Para Aktivis

Jalan Cinta Para Aktivis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Rumah Quran (RQ) yang beralamatkan jalan labu ciracas itu menjadi rumah singgah kami selama delapan hari berlalu, ini adalah perjalanan kedua bagi kami anggota PPMU (Program Pembinaan Mahasiswa Unggulan) setelah program English course di Kediri beberapa bulan yang lalu, Alhamdulillah perjalanan kami yang digelari “MUKHOYYAM TARBAWI” ini berjalan dengan lancar meski tak sepenuhnya sempurna sesuai harapan.

Angkot warna merah itu melaju kencang menembus malam, Nampak sedikit keceriaan di wajah bapak sopir itu, setelah salah satu rombonganku melambaikan tangan menyetop angkutannya untuk masuk ke gang dekat asramaku, kami anggota PPMU akan melakukan sebuah misi mulia, menghafal Al-Quran di liburan Idul Adha ini.

Di perjalanan aku mulai memperhatikan sopir angkot yang kami tumpangi itu, aku yakin sudah sejak pagi bapak tua itu mengayuh roda penopang ekonomi keluarganya itu demi kesejahteraan mereka bersama, aku-pun berujar dalam hati, SAHHALALLAHU UMUURAHU (semoga Allah memudahkan urusannya)…..Aamiin.”

Seminggu sebelum *Aakhirud Dawam (akhir rutinitas kuliah), aku sudah mengagendakan liburanku untuk merampungkan skripsiku di kampus cabang yang ku ambil setahun yang lalu, sudah aku atur waktu sedetail mungkin mulai dari agenda pribadiku sampai agenda menyambung silaturahim dengan teman-temanku.

Tapi 2 hari sebelum hari yang ditunggu para mahasiswa untuk berlibur itu, kami (anggota PPMU) dikejutkan dengan kabar bahwa akan ada agenda wajib asrama untuk mengisi liburan dua bulan ke depan.

“Fah (teman memanggilku), kita akan dikirim ke RQ WAMY lho liburan ini, kita ditargetkan dapat 2 juz hafalan selama 2 minggu,” ujar kak Iyam salah satu teman asramaku,

“Bener tu kak? kira-kira aku boleh izin gak ya?” ujarku teringat target agenda-agendaku..

“Iyya ne, gimana juga denganku, bapakku nyuruh aku suruh pulkam, lagian alasanku syar’i lho,” tanggap temanku yang beberapa hari yang lalu mengabarkan akan menjalankan operasi,

“Waduh ane juga gak tahu ukh, ini kabar dari *musyrifah semalem, coba aja anti lobi ustadzah Yeni (penanggung jawab PPMU).

Aku hanya menghela nafas, “Rabbi berikan jalan terbaikmu!!!!!!”

Sejak tadi aku lihat satu temanku yang mau operasi itu mondar mandir, terbersit rasa gelisah di wajahnya, dia bingung harus bagaimana, dihadapkan pada 2 tuntutan yang harus di penuhinya, dia berusaha menelepon dan meng-sms penanggung jawab asrama, kelihatannya dia berusaha berkali-kali dan mulai Nampak putus asa.

“Gimana Luth sudah ada izin blum dari ustadzah?” ujarku seraya harap dia mendapat rukhsoh (keringanan)

“Belum ada jawaban kak, gimana ya, ane jadi gak enak rasa ne” ujarnya yang memperhalus pernyataan suudzonnya.

Aku hanya mampu berujar “Semoga ada jalan terbaik Luth buat kamu”

Berbagai macam pikiran berkecamuk di setiap masing-masing kita, yang pasti teman-temanku tidak akan jauh beda denganku dalam mempersiapkan agenda-agenda liburan jauh hari sebelumnya.

“Trus gimana donk yang lagi ada tugas ngajar?” ujar Ika dan Wafi yang lagi ada tugas PPL di kampus cabangnya.

“Iyya ne, aku juga sudah ada amanah lain” Hanif ikut nyambung kegalauan kami.

“Aku juga mikirin ongkos bolak balik kampus cabangku, nanti pasti akan lebih mahal”

“Sama aku juga”

“Ya udah, gini aja, gimana kalo kita sepakat tidak sanggup menjalankan agenda ini saat ini, kan bisa nanti, tapi dengan catatan masing-masing kita punya alasan yaa.., gimana akhwat?” tiba-tiba kak Zuria datang menengahi kebingungan aku dan teman-teman.

“Iya, aku setuju itu” tanggap Arbella.

“Aku juga” sambung Livia.

Tapi…..

Tiba-tiba musyrifah (pengurus) PPMU memutuskan besok malam kita semua harus berangkat, tidak ada alasan yang bisa kami utarakan, mau itu alasan syar’i atau tidak, selepas Isya’ kita memborong barang-barang yang diperlukan selama di sana.

Kami hanya menjalani instruksi apapun yang dihimbau dari asrama, karena itulah konsekuensi yang harus kami ambil ketika kami telah memutuskan masuk di PEMBINAAN MAHASISWA ini, tapi aku yakin ini semua diadakan hanya demi memenuhi visi misi PPMU yang sudah ditetapkan sebelum didirikannya, kami-pun tanggap dan sigap meski kita kadang harus mengorbankan agenda di sisi lain.

Allah menjadi saksi perjalanan kami malam itu, tidak ada lagi gundah dan tiada juga hati yang berat menjalani misi bekal dakwah ini,

Sebenarnya suasana ini juga kami alami sebelum melakukan perjalanan pertama kami untuk melakukan agenda ENGLISH COURSE di Kediri beberapa bulan yang lalu, kami juga mengajukan alasan-alasan yang sama sebelum keberangkatan.

“ALLAHUL MUSTA’AN!!!!”

Delapan hari berlalu kami mengikuti ujian akhir juz kedua yang kami hafal

“Gimana teman-teman ujiannya? “ Tanya salah satu temanku tiba-tiba.

“Wah, So AMAZING!!! bener-bener menantang agenda ini, tapi aku seneng banget” jawabku.

“Iyya aku juga sekarang lega, ternyata aktivitas kuliahku tetap lancar” teman yang lain menanggapi.

“Aku juga ngajarnya gak terlalu berat dan ternyata tidak ada yang memberatkan” celetuk emanku yang PPL girang.

“Alhamdulillah ya, semuanya lancer, semoga kita selalu berada dalam jalan terbaikNYA, Aamin” sambut kak Iyam bijak,

Mulai saat itu, kami-pun mulai sadar, bahwa tidak akan ada yang sia-sia di setiap pengorbanan kita, dalam berjuang di medan dakwah yang kita tempuh, dan kami-pun mulai menilai ulang dari setiap perjalanan yang kami lewati, bahwa ternyata setiap kami dimudahkan dari urusan-urusan yang kami jadikan alasan di awal pemberangkatan setiap agenda-agenda kami anak (PPMU).

Mulai saat itu pula aku tambah yakin bahwa dalam setiap jiwa aktivis, akan terpatri keistimewaan-keistimewaan perjuangannya, Allahu Akbar…..!!!!!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir tahun 1991. Aktifis KAMMI komisariat LIPIA yang juga sudah mulai bergabung di KAMMI Jakarta. Mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Aktif di forum FKMSB (forum alumni), maupun kumunitas social KAISA (komunitas pecinta dan pemerhati anak bangsa). Anggota PPMU (Program Pembinaan Mahasiswa Unggulan) WAMY (World Assambly Moslem of Youth).

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI