Home / Pemuda / Essay / Aku Adalah Korban ‘Brain Wash’

Aku Adalah Korban ‘Brain Wash’

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Muamar AS)

dakwatuna.com Tahun ini adalah tahun ke-4 aku mengenalnya. Pertemuan pertama pada tahun 2008 lalu-lah yang mengantarkanku pada titik tolak perubahan besar dalam hidup. Perubahan yang sangat signifikan untuk seorang diri ini, dan sebuah perubahan lewat keputusan yang besar (menurutku). Pertemuanku dengannya menyisakan romantisme yang mendalam. Ia adalah sebuah wadah yang menampung para pemuda-pemudi yang insya Allah akan selalu menyeru pada kebaikan dan selalu berusaha untuk menjauhi segala kemunkaran. Dan, wadah itu diberi nama Kerohanian Islam (ROHIS). :)

Dulu, 4 tahun yang lalu, aku mengenalnya di sebuah sekolah umum, namun memiliki aura yang subhanallah sekali, sangat Islamic. Hampir rata-rata siswinya menggunakan kerudung, begitu juga dengan guru wanitanya, agenda sekolah yang Islamic pun sering diadakan, nyaman sekali berada di lingkungan seperti itu dan aku pun sangat merindukannya. Semua keadaan nyaman itu tidak lepas dari keberadaan dan campur tangan ROHIS. Memang tidak disangka kalau perubahan ini bisa terjadi padaku lewat wasilah sekolah umum seperti itu, mungkin jika ada orang yang melihat keadaanku saat ini mereka akan berpikir kalau aku anak jebolan pesantren, pondok, Aliyah dan sejenisnya. Namun, akan ku katakan TIDAK! Akan dengan bangganya ku katakan asal almamaterku dan dengan bangganya lagi mengatakan bahwa lewat ROHIS-lah aku bisa menjadi seperti ini.

Subhanallah, dahsyatnya kekuatan yang ada di ROHIS sehingga bisa membuatku seperti ini. Menjadikanku yang tadinya tidak ‘mengerti’ menjadi ‘mengerti’, menjadikanku yang tadinya enggan berkerudung menjadi sangat mau berkerudung, dan masih banyak lagi hal-hal positif yang terbawa hingga sekarang berkat ROHIS. Memang, awalnya ketika aku memilih ROHIS sebagai ekstrakurikuler-ku ada yang mengatakan “ROHIS di sini katanya ada aliran sesatnya loh…” tapi, entah kenapa aku tidak langsung percaya. Bahkan aku semakin penasaran dengan yang namanya ROHIS. :)

Rasa penasaran itulah yang membawaku semakin jauh ke dalam ROHIS, dan tidak ada rasa menyesal sedikitpun aku terbawa ke dalamnya. Bahkan semakin jatuh hati padanya. Ketika tahun pertama di sekolah itu dan di ROHIS, aku sudah mulai mengikuti kepanitiaan PHBI (walaupun aku belum berkerudung, hehe) tapi semua kakak-kakak dan teman-teman sangat tidak mempermasalahkannya, bahkan mereka senang jika aku bisa membantu di agenda itu. Di tahun pertama-pun aku dikenalkan dengan sebuah agenda vital dari ROHIS, yaitu mentoring (memang wajib selama bersekolah di sana) setelah mentoring, aku juga dibuatkan kelompok liqa dan punya murabbiyah dari alumni ROHIS sekolah. Memang, pada saat itu aku amat sangat tidak mengerti apa itu liqa, apa itu murabbiyah, apa urgensi dari liqa, dan sebagainya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami itu semua, bahkan aku kecanduan berada di dalamnya. Hingga pada tahun ke-2 di sekolah, aku memutuskan untuk berkerudung setelah pulang dari acara tahunan ROHIS yaitu, TA (Tafakur Alam). Senang sekali, ternyata efek samping dari TA bisa langsung aku rasakan, dan yang senang bukan hanya aku tapi juga guru-guru dan kakak-kakak ROHIS yang lain. Bahkan mereka mendoakanku supaya aku bisa istiqamah dengan pilihanku. :)

Jujur, ketika memilih untuk berkerudung itu adalah keputusan yang besar. Karena harus meyakinkan mama yang masih menganggapku anak labil yang takutnya tidak konsisten. Tapi dengan kesungguhanku, akhirnya aku dapat izin untuk menggunakannya, Alhamdulillah hingga detik ini kerudung ini masih aku gunakan dan insya Allah hingga akhir hayatku. Sungguh, tak ada lagi keraguan untukku berkerudung secara “rapi” setelah aku mengetahuinya lewat ROHIS, lewat mentoring dan liqa yang diadakan tiap pekannya. Dan lewat itu semualah rasanya otak dan pikiranku di “brain wash” di cuci otaknya untuk hal-hal kebaikan dan untuk mengadakan perubahan di tiap harinya, subhanallah. :)

Di tahun ke-2 pula aku menerima sebuah amanah, amanah itu adalah Humas ROHIS Akhwat. Entah mengapa teman-teman mempercayakan amanah itu padaku yang masih baru mengenal dunia ROHIS, tapi itu tidak menjadikanku mundur malah membuatku tambah bersemangat menjalaninya, apalagi dengan adanya semangat berdakwah di sekolah bersama teman-teman pengurus ROHIS satu angkatan. Ukhuwah kami-pun semakin erat dan erat. Islam, iman dan ROHIS lah yang membuat kami seperti satu tubuh yang saling merasakan suka dan duka secara bersama-sama. Senang rasanya…

Tak terasa sudah memasuki tahun ke-3 di ROHIS, itu artinya kepengurusan sudah di akhir waktu. Satu tahun menjalani amanah bersama dengan saudara-saudara ku yang shalih-shalihah membuat semua amanah itu terasa lebih ringan dijalani. Tak dipungkiri, selama kepengurusan ada saja dukanya dan jalan tak mulusnya. Tapi itu semua justru menjadikan ukhuwah kami semakin erat, semakin mencintai ROHIS dan dakwah kami di ROHIS. Saat kelulusan-pun tiba, antara ingin dan tak ingin kami berpisah, antara senang dan sedih kami akan berpisah. Tapi apa daya, ini adalah sunatullahNya. Tiap pertemuan pasti aka nada perpisahan, kami bertekad menjadikan kelulusan kami ini sebagai awal dari perjalanan dakwah bukan malah menjadi akhir dari kisah ini karena jalan dakwah ini masih sangatlah panjang.

Kehadiran ROHIS di hidupku mampu merubah hal yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin. Memang benar jika ada yang berkata “jika hidayah Allah sudah datang, maka tak ada satupun yang dapat menolak bahkan mengelaknya” begitulah yang terjadi pada hidupku. Ketika aku mengenalnya seakan ada secercah cahaya yang datang ke kehidupanku, dan aku seakan terpukau dengan cahaya itu sehingga aku pun terus mengikuti cahaya itu hingga saat ini, hingga detik ini. Nuansa Islamic di sekolah, ukhuwah yang ada di ROHIS, mentoring sekolah, PHBI di sekolah, serta semua hal yang ada di ROHIS sangatlah aku rindukan.

Alhamdulillah nuansa itu masih dapat aku rasakan hingga di dunia perkuliahan saat ini, walaupun tidak se-Islamic itu. Tapi aku senang masih bisa merasakan indahnya bernafas di dunia dakwah ini. Namun, jika ada yang mengatakan kalau ROHIS itu sarang teroris, tempat dimunculkannya bibit-bibit teroris, dan sebagainya. Sungguh, sangatlah BUTA dan TULI mereka yang mengatakan itu semua. Mereka berkata seperti itu karena tidak tau dan tidak pernah mau tau tentang ROHIS. Mereka itu hanyalah orang-orang yang iri melihat perkembangan ROHIS, prestasi anak ROHIS, dan tentunya mereka itu adalah orang-orang yang takut kalau Islam berkembang lewat ROHIS. Maka dari itu mereka membuat argumen-argumen bodoh tanpa dilandasi pengetahuan, argumen yang dibuat bukan berlandaskan fakta, argumen yang akan membuat kami para ADS maupun ADK semakin bersatu karena hal itu.

Untuk kami yang selalu diajarkan kebaikan di ROHIS maupun di LDK, kami menanggapi argumen itu dengan kepala dingin, dihadapi dengan secara sehat, dihadapi lewat kerja-kerja nyata kami para ADS/ADK bahwa kami bisa berprestasi. Kami akan buktikan, bahwa kami bukanlah bibit-bibit teroris, ROHIS dan LDK bukanlah wadahnya teroris, bahwa nilai-nilai yang diajarkan di ROHIS dan LDK hanyalah nilai-nilai luhur dan kebaikan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah saja. Tak ada satupun nilai keburukan yang diajarkan di sana. Terima kasih pun aku ucapkan kepada ROHIS yang menjadikanku seperti ini, terima kasih karena sudah mampu “brain wash” aku hingga detik ini. Tidak ada penyesalan sedikitpun atas semua pilihan ini.

Dan terima kasih aku juga ucapkan kepada mereka yang memfitnah ROHIS, karena berkat fitnah itulah ukhuwah kami para ADS dan ADK semakin erat, bahwa kami semakin berpacu untuk meningkatkan prestasi kami dan membuktikan bahwa KAMI BUKANLAH TERORIS, KAMI ANAK ROHIS YANG MANIS. :)

Untuk semua anak ROHIS di seluruh penjuru Indonesia, selamat bekerja dan berkarya. Harus kita buktikan bahwa ROHIS itu tidak seperti yang mereka pikirkan. :)

Salam cinta untuk ROHIS se-Indonesia. :)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nadhia Dwi Lestari
Muslimah. Mawar haroki KAMMI Sumedang. Mahasiswi. Indonesian.

Lihat Juga

Menag Turki: Dunia Islam Bertanggungjawab atas Tragedi Muslim Rohingya