Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Harusnya Perempuan Tua Itu

Harusnya Perempuan Tua Itu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas / Djuara Hutabarat)

dakwatuna.com – Kereta yang akan mengantarku datangnya telat. Perjalanan Yogyakarta-Surabaya dengan kereta ekonomi harus kuterima dengan sabar karena kereta baru datang pukul 23.30 WIB dari jadwal semula pukul 21.30 WIB. Memang sengaja jadwal yang kupilih kereta jam 10 malam biar perjalanannya tidak terlalu melelahkan karena esok paginya harus bersiap-siap mengikuti shalat Idul Adha bersama keluarga.

Kutunggu kereta dengan mengerjakan sesuatu biar waktu ini benar-benar tidak terlewat dengan sia-sia. Kubuka laptop untuk menyelesaikan sisa tugas kuliah yang belum selesai.

Dari tempat duduk penumpang di ruang tunggu, kulihat seorang nenek dengan baju khas kebaya warna kuning dengan bawahan batik sedang sibuk mendatangi tempat duduk para penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta. Masya Allah sudah pukul 23.00 WIB, tapi nenek ini masih bekerja. Dia mencari botol plastik bekas yang ditinggal di kursi-kursi tunggu oleh para pemiliknya. Sesekali dia bertanya kepada salah satu calon penumpang apakah botol minum plastik yang berada di sampingnya sudah tidak terpakai? Dengan karung warna putih besar yang dipanggulnya di punggung, dia mengitari tiap tempat duduk yang ada dan berharap ada botol plastik yang terselip di sana.

Yaa Allah, di manakah keluarganya? Ataukah dia tidak mempunyai keluarga yang bisa menanggung beban hidupnya? Apakah keluarganya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing? Jam segini seharusnya dia susah beristirahat. Seorang perempuan seumuran itu harusnya berada di rumah bersama anak cucunya tanpa bekerja lagi seperti ini. Dia yang harusnya tiba waktunya untuk dirawat oleh keluarga malah masih sibuk sendiri mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhannya.

Nenek itu mengingatkan pada sosok perempuan yang berharga dalam hidupku…

Dia adalah ibundaku yang sedang menunggu kedatanganku di rumah. Dengan kesibukanku terkadang kulewatkan kesempatan untuk sekadar menanyakan kabar beliau (ibundaku) walau hanya melalui sms. Malah kesempatan itu selalu dimenangkan oleh ibundaku dengan mengawali lebih dulu menanyakan kabarku melalui sms atau via telepon.

Ibundaku maafkanlah anandamu ini…namun tak pernah kulewatkan doa untuknya tiap selesai shalatku…

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil” (QS. Al Israa’: 24)

Allah…
Walau kini semua waktuku tak selalu bersama mereka
Namun permudahlah diriku untuk berusaha menemani sisa waktu mereka di hari tuanya

Walau aku belum bisa memberikan semua kebahagiaan kepada mereka
Namun permudahlah diri ini untuk berusaha mengukir senyuman kebahagiaan di hati mereka

Walau aku bukan seorang anak yang sempurna bagi orang tua
Namun mudahkanlah diriku untuk berusaha selalu menyempurnakan bakti ku kepada mereka

Walau bakti seumur hidupku tak kan mampu menandingi pengorbanan dan kasih sayang mereka yang telah kuterima
Namun mudahkanlah diriku untuk mempersembahkan pelayanan terbaikku kepada mereka dengan keterbatasan kemampuanku

Amin…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nuriyah
Guru Matematika. Mencoba untuk mencari ridha-Nya.

Lihat Juga

Surat Cinta untuk Perempuan