Musafir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

saat di sini masih musim salju, dirimu datang menyapaku
hingga karena mu,
berubah lah musim salju menjadi musim semi.
bunga-bunga riang tumbuh, seakan-akan selama-lamanya ia tumbuh.
angin dengan lembut membelainya,
membelai mu juga musafir
cintaku pastilah lebih lembut dari belaian angin musim semi itu

sampai lah pada musim penghujan
bunga-bunga mulai layu karena derasnya hujan
hingga badai pun datang
hingga kemarau pun datang
hingga daun pun berguguran
hingga dirimu resah
menyiapkan langkah kaki mantap meninggalkan tempat ini.
kuda mu siap membawa mu pergi jauh

tidak kah dirimu lelah musafir?
tidak kah dirimu ingin lebih lama di sini?

jangan pergi musafir,
menetaplah
karena sesungguhnya, di sini
di tempat ini, telah kubuatkan istana megah untuk mu
batu batanya tersusun rapi
warna cat-nya emas bercampur biru
lantainya putih bersih
langit-langitnya tinggi
lapangan rumputnya luas

namun, udara yang sangat dingin,
menusuk tajam kulitmu.
badai yang datang,
mengobrak-abrik istana megahmu.
menghancurkan segala asa mu
asa ku
hingga kamu cambuk kudamu sekuat-kuatnya
kuda mu mengerang
berlari sekencang-kencangnya
membawa mu pergi
entah ke mana

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi muslim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, koleris sanguinis.

Lihat Juga

Refleksi Hijrah Dalam Kehidupan