Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Saat Keikhlasan Ternodai

Saat Keikhlasan Ternodai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (desktopnexus.com)

dakwatuna.com “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau ciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas perjanjian-Mu, dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan apa yang aku perbuat, aku mengakui dengan dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosaku kecuali Engkau.”

Dakwah ini perlu perjuangan, pengorbanan dan kebesaran hati menerima setiap warnanya. Perjuangan ini terasa berat, melelahkan dan perih di hati. Saat mendengar balasan surga, hati ini semangat membara tak terkira.

Saudaraku…

Dakwah ini adalah tanggung jawab kita semua, bukan perorangan dan kelompok saja. Tidakkah tugas kita di dunia ini sebagai khalifah? Yang akan memakmurkan bumi ini dengan kalimat-Nya?

Bersama kita berjalan dalam dakwah, menggenggam komitmen kita untuk berjuang di jalan dakwah. Kita sama-sama perbaiki diri, keluarga, masyarakat dan negara kita.

Ada kalanya kita ada bersama dalam organisasi dakwah, terkadang noda dalam dakwah karena ada gesekan-gesekan dalam ukhuwah. Memang kita sama-sama telah paham bagaimana ikhlas, dan menjaganya. Tapi saat syetan itu membisikkan, dan menampakkan dalam pekerjaan manusia lain kita merasa hilang keikhlasan. Pupus kesabaran yang telah dipupuk, hilang rasanya kata ‘ikhlas’ yang pernah diucapkan dan disampaikan kepada yang lain.

Menyadari kekerdilan diri ini, memahami terbatas kemampuan kita. Semua itu bukan untuk mundur dari dakwah, semua itu harus mampu melecutkan semangat yang dulu pernah berkobar dalam diri.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 2-3)

Tidak akan berjalan dakwah ini tanpa kita mampu menjalin ukhuwah dengan sesama dan selalu menjalin hubungan cinta dengan-Nya. Kita memang bukan makhluk sempurna, bukan malaikat yang tanpa keluh kesah, kita hanya seorang hamba Allah yang tidak luput dari salah.

Saat menerima tugas dalam dakwah, kadang terkotori karena si pemberi tugas tidak melakukan hal yang sama dengan yang kita kerjakan. Sibuk dengan kehidupan pribadinya, sibuk dan menikmati cerita dalam keluarganya. Beristighfarlah….itu yang layak kita ucapkan dan lakukan.

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Mahapengampun. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu cacat?” Q.S. Al Mulk: 1-3

Teringat nasihat seorang ikhwah: “bersabarlah di atas kesabaran, Allah akan menuntunmu dan memudahkan urusanmu. Bukan mereka (manusia) yang akan meminta kebaikan-kebaikan kita atau kerja dakwah kita. Melainkan Allah Sang Pemilik Jiwa ini yang akan meminta amalan-amalan itu”

Mengambil ‘ibrah dari sirah nabi, akan ketangguhan para insan pilihan Allah dalam mengemban dakwah ini. Meski umatnya ada yang ikut dalam langkahnya dan ada banyak yang keukeuh atas keangkuhannya.

Kita memang tidak sesabar mereka para rasul Allah, tapi kita telah mengambil teladan dan berupaya ikuti jalan mereka. Dengan kesadaran diri, memohon ampun pada Allah atas keluputan ini. Sadar diri ini masih terkecoh dengan apa yang dilihat dan yang didengar meski iman ini telah tertanam dalam-dalam.

Allah tahu akan kemampuan kita saudaraku…

Bukankah janjinya dalam ‘Surat Cinta-Nya’ adalah saat kita menolong agama-Nya maka Allah akan mudahkan segala urusan kita dunia akhirat. Mengatasi ke-futur-an dengan mendekatkan diri ini semakin dekat dengan Allah, mendekat kepada saudara-saudara yang akan mengingatkan kita akan akhirat. Jangan biarkan rasa galau menghancurkan semangat kita dan menjauhkan kita dari Allah. Na’udzubillah…

Kita Harus Mampu Bertahan Di jalan ini…

Meski langkah terseyot-seyot, perasaan tercabik-cabik. Tetaplah bertahan, setiap luka, tetes keringat dan lelah yang kita rasakan surga balasannya. Dengan memikirkan nasib dakwah dan umat maka Allah akan selalu ada bersama kita. Selamatkan niat dalam diri untuk tetap ada di jalan dakwah. Jangan biarkan hal-hal kecil itu membuat semangat kita yang besar menjadi kerdil kembali hingga melemahkan perjuangan.

Memang sakit, perih, pincang kaki berjalan menapakinya. Tapi Allah tidak akan membiarkan kita dalam keadaan itu. Allah akan selalu memenangkan Agama-Nya. Semoga Allah sadarkan saudara kita dan bersama berjalan dijalan dakwah ini seperti kepemimpinan Rasulullah yang bertanggung jawab. Bersama-sama meng-evaluasi militansi dan introspeksi diri…apakah yang telah kita berikan dan sedang kita berikan serta akan kita berikan kepada Allah dalam dakwah ini???

Hanya kesetiaanlah yang dapat tabah meniti perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa pejuang sejati untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Kesabaran sebagai kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah SWT.

Kita harus mampu meyakini bahwa kesabaran yang ada pada diri kita yang membuat kita kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih hanya terhad pada pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal kebajikan untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang masih banyak jika dibandingkan dengan penggunaan lain… Dan bentuk pengorbanan remeh-remeh lainnya yang telah kita lakukan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”?” (QS. Fussilat: 33)

Semoga Allah selalu menuntun hati kita, diri kita untuk tetap bertahan dan istiqamah dijalan CINTA-Nya…Jalan Dakwah para insane pilihan-Nya… Amiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Choiriyah
Nama lengkap Choiriyah, lahir dan besar di kota Malang-Jawa Timur, domisili di Batam. Mulai ikut dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, dan menang juara II Karya Ilmiah Remaja di Malang. Saat bekerja di perindustrian Batam, ikut aktif dalam pembuatan buletin dan berita perusahaan se-Asia. Mulai tahun 2011-2014 aktif di FLP Johor. Sekarang Aktif dalam FLP Batam. Semoga dapat lebih banyak berkarya untuk dakwah bil Qolam.

Lihat Juga

Diskursus Tax Amnesty