Home / Pemuda / Cerpen / Senja Darru Khandaq

Senja Darru Khandaq

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sudah lama aku penasaran. Bahkan sejak aku menginjakkan kaki di kota ini enam tahun lalu. Dan selama itu rasa penasaran terus tumbuh berkembang, seperti rumput-rumput depan rumahku dulu. Setiap kali dipangkas maka tak lama lagi dia akan tumbuh dan berkembang lalu terulang lagi dan terulang lagi. Yah, seperti itu kemungkinan gambaran rasa penasaran yang kurasakan sekarang ini. Sebenarnya bukanlah suatu yang besar. Bukan pula suatu yang menakjubkan. Ataupun sesuatu yang istimewa. Hanya sesuatu yang sepele. Bahkan seringkali ketika rasa penasaran itu menghinggapiku aku selalu cepat-cepat untuk membunuhnya dengan mengatakan ‘Tidak, tidak terlalu penting untuk kau turuti’ atau ‘Apa gunanya? Besok juga toh masih ada, bahkan sampai ajalmu, itu tetap akan ada di situ!’. Aku hanya ingin tahu di mana hulu selokan itu. Selokan Mataram.

Entah sore ini begitu beda rasanya. Senja sore hari belum begitu kelihatan. Yah, matahari di atasku masih malu-malu untuk turun. Untuk sekadar mengurangi panas, bumi yang sudah tua ini. Jadi mungkin ini masih siang. Tapi tidak juga, siang yang terik sudah berlalu tiga jam yang lalu. Tak terasa, adzan Ashar terdengar. Syukurlah itu berarti kuliahku tinggal tiga puluh menit lagi.

Hari ini memang sangat melelahkan. Pagi-pagi sudah harus ke kampus, lantas siangnya di kampus dan sore pun di kampus. Alias hari ini benar-benar membuatku bosan. Bukannya aku tidak suka dengan mata kuliahnya ataupun sensi dengan dosennya. Tapi aku malas beraktivitas pagi. Sebenarnya bukan kebiasaan aku tidur lagi setelah shalat subuh tapi hanya sering saja, hehehe. Karena banyak alasan kenapa hal itu terjadi. Salah satunya adalah aku merasa pagi itu mulai jam sembilan. Maka ketika ada janjian, rapat, kuliah pengganti ataupun yang lainnya pasti aku sangat sepakat dan akan datang tepat waktu kalau acaranya di atas jam itu. Singkatnya adalah jam sembilan adalah hidupku.

Tak lama sang dosen menutup kuliahnya. Aku menatap kertas di depanku. Putih bersih. Kuliah kali ini yang aku ingat dan yang aku tulis dari sang dosen hanya sebuah judul Bab ‘Critical Heat Fluxs’. Yah sesuatu yang lumayan. Setidaknya aku tahu jalan mata kuliah ini. Bukankah bangku kuliah atau sekolah itu sebenarnya hanya mendidik mahasiswanya untuk tahu jalan suatu ilmu bukan menjadi sumber ilmu itu sendiri? Sekali lagi aku membenarkan apa yang aku lakukan.

Sore ini harus tuntas. Yah, senjata paling manjur untuk membunuh rasa penasaran adalah dengan membayar penasaran itu. Seperti utang akan lunas jika kita membayarnya, bukan sekadar dengan janji akan melunasinya. Akan kususuri selokan itu. Selokan yang dibangun pada zaman Belanda oleh rakyat Yogyakarta. Sebuah proyek besar penjajah Belanda. Membangun saluran irigasi untuk menyulap ladang-ladang kering di selatan Gunung Merapi menjadi ladang-ladang padi yang hijau. Menyuplai bahan makanan untuk tentaranya ataupun untuk menambah pundi-pundi kekayaan bagi negaranya. Dan yang pasti adalah langkah cerdas Raja Ngayogyakarta pada waktu itu untuk menyelamatkan rakyatnya. Lebih baik berpeluh keringat untuk tanah sendiri dari pada berpeluh keringat untuk tanah orang lain. Menjadi transmigran ke pulau Sumatera. Buruh gratis di perkebunan Belanda. Yang tentunya lebih menyiksa.

Sempat aku berfikir, adakah pemimpin lain di negeri ini yang mempunyai kebijakan seperti ini? Ah, Anda tahu jawabannya sendiri. Hulu dari selokan yang tiap hari aku lewati ketika mau ke kampus ini katanya ada di Kali Progo. Kali yang terletak di sebelah barat kota Yogyakarta. Kota keduaku. Sore ini akan aku buktikan.

***

Hari hampir berganti. Sorot matahari sudah mulai redup. Tajam sinarnya tidak seperti saat berangkat tadi. Tetapi masih menyisakan sisa-sisa kehangatan pada tubuhku, yang mulai mengkerut dicengkeram dinginnya udara malam hari. Jalan-jalan sudah mulai sepi. Ayam-ayam penduduk sudah bertengker di tempat favoritnya. Para petani beranjak meninggalkan ladangnya. Gemericik air terdengar dari kejauhan. Sebuah aliran air yang cukup deras. Terlihat sebuah pintu air dan tentunya Kali Progo yang lebar. Dan akhirnya aku sampai juga. Rasa penasaranku tuntas sudah. Perjalanan waktu senja yang begitu menakjubkan. Romantisme sore yang patut disyukuri. Lantas apa yang terjadi selama perjalanan ke sana?

***

Sepuluh kilometer pertama.

Aku memulai menyusuri selokan. Tepat di sebelah utara kampusku. MIT alias Mbulaksumur Institut of Technology alias FT-nya UGM. Dengan motor aku mulai menyusuri. Jalan-jalan di sepanjang selokan sudah tidak karuan. Lubang menganga di sana-sini. Siap meminta tumbal orang-orang yang melewatinya. Sudah banyak yang menjadi korban. Air selokan berwarna abstrak. Saking banyaknya warna yang tercampur. Aromanya? Jangan tanya lagi. Anda pernah merendam baju kotor sampai dua minggu atau pernah ke pelabuhan ikan yang ada di Kota Pekalongan? Kira-kira seperti itu bau khas selokan ini.

Melalui jalan di sepanjang selokan ini begitu menyiksa. Berkali-kali aku terjebak ranjau-ranjau jalan. Hampir terserempet pengendara lain yang ngebut. Bahkan hampir nabrak tukang bakso gara-gara saking padatnya lalu lintas. Selain itu ditambah pula dengan polisi-polisi malas yang banyak bertaburan di sepanjang jalan. Polisi tidur. Lebih banyak mengganggu kenyamanan dari pada untuk keselamatan pengguna jalan. Ada juga seorang ibu-ibu yang seenaknya membuang sampah ke selokan. Byur…!. Seolah-olah selokan ini tempat pembuangan sampah ‘ajaib’. Yang ketika sampah dibuang langsung menguap hilang begitu saja.

Namun, yang paling membuatku miris adalah bergantinya hutan-hutan padi yang dulu katanya, pernah ada di sepanjang selokan ini. Ladang-ladang padi itu berganti dengan beton-beton angkuh. Beton-beton yang terus tumbuh tanpa mempedulikan akibatnya. Ternyata penyakit memakan saudaranya sendiri sudah mulai menjangkiti orang-orang di sekitar sini. Kontras dengan budaya Mataram yang seharusnya dianut oleh orang-orang ini. Entah, apakah Tuhan akan marah lagi? Melihat tingkah polah makhluk ciptaannya ini. Aku tidak tahu. Kos-kosan, warung-warung kaki lima, tambal ban, rumah penduduk, pertokoan, warnet, kampusku, termasuk kontrakanku sendiri yang dulunya pasti bekas ladang padi juga.

Nah itu mengapa kontrakanku aku namai Darru Khandaq artinya kurang lebih rumah yang terletak di samping parit atau selokan. Jadi teringat tentang sejarah Perang Khandaq. Gara-gara strategi parit yang diusulkan Salman al-Farisi salah satu sahabat Rasulullah akhirnya penduduk Kota Madinah selamat dari serangan musuh. Dan strategi itu pula banyak digunakan ketika Perang Dunia I dan II.

Sepuluh kilometer kedua

Di tengah perjalanan. Tiba-tiba seorang laki-laki sambil tetap mengendarai motornya mengagetkanku. ‘Woi…ngopo kowe tekan kene?!’. Belum sempat aku menjawab, orang itu berkata lagi ‘Aneh…aneh wae!’. Rupanya Andi. Teman kuliahku. Ternyata jalan menuju rumahnya melewati jalan yang sama, letak rumahnya di seberang Kali Progo.  Jarak yang cukup lumayan. Hampir Empat Puluh kilo! Pantesan saja tiap kali masuk kuliah pasti terlambat. Tetapi dia salah satu mahasiswa yang anti-TA (titip absen) dan mungkin juga anti-tugas. Beberapa kali dapat tugas kelompok dengannya hasilnya kacau! Ah, bagaimanapun aku salut dengan semangatnya. Meski orangnya ‘nyentrik’ tapi dialah temanku, sahabatku. Dialah salah satu dari beberapa teman yang masih tetap berkomunikasi walau jarak kami begitu jauh sekarang. Aku hanya berdoa ‘Cepat lulus sahabat’, dan ingat akan segeraku tagih duren yang pernah kau janjikan.

Ok, kembali lagi. Kondisi jalan masih lumayan. Bahkan bisa dikatakan mulus. Hampir tidak ada ranjau-ranjau jalanan seperti yang telah kulewati tadi. Lalu lintas masih cukup ramai. Kebanyakan penduduk yang baru pulang kerja. Namun polisi-polisi malas masih saja ada. Hampir tiap perempatan polisi tidur adalah suatu yang wajib ada.

Nampak rumah-rumah yang belum lama dibangun. Terlihat juga sebuah proyek perumahan. Ternyata penyakit orang kota sudah mulai menyebar.

Sepuluh Kilometer Terakhir

Tak terasa sudah pukul lima sore. Aku belum juga menemukan hulu selokan Mataram. Tercium aroma khas ladang-ladang padi. Nampak hamparan padi yang berkilau keemasan. Seperti sarung Samarinda yang berkotak-kotak keemasan. Paduan sinar jingga matahari dengan padi yang tengah menguning. Ada sebagian petak sawah yang telah dipanen. Diganti dengan bibit padi baru. Seperti itulah siklus yang dilakukan petani. Sebelum padi dewasa dipanen. Maka sudah disiapkan jauh-jauh hari bibit padi baru. Maka ketika padi dipanen ditambah dengan waktu jeda pengolahan ladang maka bibit padi itu siap untuk ditanam kembali. Begitulah seterusnya. Sebuah siklus regenerasi yang cukup unik. Adakah dalam sejarah peradaban manusia ada hal yang seperti ini?

Aku terus menyusuri tepi selokan. Jalanan benar-benar parah. Hampir tidak terlihat lagi kalau jalan ini pernah diaspal. Mungkin sejak zaman Belanda, jalan ini belum pernah dilakukan pengaspalan kembali. Tidak usah mencari bukti ketidakadilan negeri ini jauh-jauh ke-Indonesia Timur. Di sini sudah bisa kita temukan. Sebuah kesenjangan pembangunan. Apakah orang-orang kota itu tidak berfikir, dari mana beras yang tiap hari mengisi perutnya itu? Gizi dari sayur-sayuran yang turut membesarkan anak-anaknya itu?

Tidak terasa aku masuk ke sebuah perkampungan. Aku berhenti. Di mana ini? Di mana hilangnya selokan itu? Aku menjadi orang yang benar-benar kebingungan. Seperti ketika kita tidur jam empat sore lalu bangun saat adzan Maghrib. Bingung membedakan antara subuh dengan Maghrib.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sapaan seseorang. ‘Assalamualaikum…’. Lama aku menjawab salam orang itu. ‘Wa…wa’alaikumsalam….’. Ternyata dia warga sini. Melihat aku yang kebingungan seperti anak kebo kehilangan induknya. Dia berinisiatif menghampiriku dan menanyakan mau ke mana. Kuceritakan dari mana dan tujuan yang kumaksud, sekaligus menanyakan hilangnya selokan itu. Dari orang itu aku dapat informasi bahwa aku sudah sampai di daerah kabupaten Magelang bagian selatan. Dan mengenai hilangnya selokan. Ternyata kampung ini berada tepat di atas selokan Mataram. Belanda membangun sebuah terowongan di bawah perkampungan. Pantas selokan yang sejak tadi kulewati seakan-akan hilang begitu saja. Dan yang paling menggembirakan adalah hulu dari selokan ini alias Kali Progo tidak jauh lagi. Rasa penasaranku bentar lagi terbayarkan. Setelah mengucapkan terima kasih pada orang yang baik hati itu. Aku melanjutkan perjalanan.

***

Sesampainya di kontrakan. Seharusnya badanku terasa pegal-pegal. Tetapi entah kenapa, pegal-pegal itu seakan-akan hilang. Mungkin karena kepuasan makna yang aku dapatkan sore tadi.  Sebelum tidur aku sempat membayangkan perjalananku, sejak dari kampus hingga di tepi Kali Progo. Lantas, aku bertanya pada diriku sendiri, siapakah diriku ini? Apakah aku termasuk orang-orang bagian yang sepuluh kilometer terakhir, orang-orang yang ramah dengan alam, tidak rakus terhadap alam, saling peduli terhadap sesamanya?  Ataukah orang-orang di bagian sepuluh kilometer kedua atau malah termasuk orang-orang di bagian sepuluh kilometer pertama? Aku hanya tidak tahu. Yang aku ketahui. Aku adalah aku. Tidak kurang tidak lebih.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Parmantos
Mahasiswa, peneliti, penggemar nuklir & energi terbarukan. Tinggal di Izmir, Republik Turki.

Lihat Juga

Ilustrasi. (mobilsewa-makassar.blogspot.co.id)

Senja di Fort Rotterdam